Orang Tua Zaman Now Butuh Pedagogi

Orang Tua Zaman Now Butuh Pedagogi

Orang Tua Zaman Now Butuh Pedagogi

 

Kata ini sering banget diucap Iis waktu Sharing Santai 2000 tadi malam, yang juga merupakan sesi terakhir di 2020.

Pedagogi berarti ilmu pendidikan, ilmu pengajaran. Itu menurut KBBI. Sedangkan menurut Wikipedia, pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.

Kalau konteks Sabtu kemarin, 12 Desember 2020, dari jam delapan sampai setengah sebelas malam, adalah ilmu untuk mendidik anak usia dini.

Kenapa perlu pedagogi bagi para orang tua zaman now?

Ada tiga tantangan pendidikan di abad 21 yang disebut perempuan yang menjabat kepala LitBang di Bunda Ganesa ini (ngakunya kepala litbang, tapi semua digarap. Maklum, Iis sebagai pengelola lembaga juga).

Pertama, kualitas karakter. Karakter yang terbentuk dari kebiasaan dan keteladanan.

Maka, sebetulnya di sini diperlukan sinergi dan kolaborasi antara guru dan orang tua. Supaya sinkron apa yang diajarkan guru di sekolah/ lembaga, dengan apa yang ditanamkan orang tua di rumah. Sekolah yang baik adalah yang bisa saling sinergi. Bukan merasa salah satunya paling benar.

Waktu Kiani, anak pertama saya, masuk TK, istri suka update ke gurunya, bahwa Kiani itu anaknya pendiam. Dia harus diajak ngobrol duluan. Sampai SD pun begitu, sering japri ke gurunya kalau Kiani cara belajarnya harus perlahan. Karena kalau digas sedikit, berlinanglah air mata. Anaknya sensitif.

Yang begitu itu, kalau dari orang tua murid enggak ada komunikasi, guru bisa salah tafsir, atau salah tindakan di sekolah.

Tantangan kedua adalah literasi dasar. Ada enam literasi yang diperlukan bagi anak, antara lain literasi:

1. baca tulis; 

2. numerasi; 

3. sains; 

4. digital; 

5. finansial; dan 

6. budaya.

Apa anak usia 0-6 tahun sudah perlu untuk bisa membaca dan menulis? Bukan konteks harfiah seperti itu ternyata menurut pemaparan Iis, yang tampilannya cukup cetar membahana untuk sebuah sesi santai semalam.

Iqra itu maknanya luas. Bisa baca suasana, baca karakter, baca sifat, baca perilaku, lalu menuliskannya di dalam hati. Si anak diarahkan untuk memahami, "Oh, mengambil barang yang bukan milikku itu perlu minta izin." Itu membaca perilaku, dan anak menuliskannya dalam hati.

Atau, kalaupun konteksnya membaca secara harfiah, ada metodenya.

Balon, misalnya. Tulis saja kata balon itu di kertas, atau papan tulis. Walau anak belum mengerti alfabet. Lalu orang tua ajarkan cara mengucapkannya sambil menekan huruf depannya. B-A-L-O-N. Beh, beh, beh, fokuskan pada huruf B.

Atau Cicak. Ceh, ceh, ceh, tekankan huruf C sambil menuliskan kata cicak di kertas atau papan.

Kyori, anak saya yang usia 5 tahun, dia tunjuk televisi sambil bilang, "Peh, masterchef, Peh!" Saya heran, "Kok adek tau?" Kyori jawab lagi, "Itu ada tulisannya kan." Dia belum tahu alfabet, tapi tahu logo masterchef yang khas di pojok kanan bawah sebelum acara dimulai. Waktu itu masih acara Indonesian Idol, dan ada hitung mundur bahwa acara Masterchef akan dimulai sepuluh menit lagi. Dalam konteks ini, Kyori sudah "bisa" membaca.

Tantangan ketiga adalah kompetensi. Ada empat kompetensi yang diperlukan di abad ke-21, yaitu:

1. komunikasi;

2. kolaborasi;

3. kreatif; dan

4. kritis dalam berpikir.

Dan itu menjadi tantangan khusus untuk mengajarkannya di masa pandemi ini. Bagi anak usia dini, pengajaran yang efektif adalah lewat cara langsung. Offline. Akan lebih sulit melakukannya lewat daring. Bisa, tapi tidak seefektif offline. Pada akhirnya guru dan orang tua harus saling memahami, dan menurunkan standar atau ekspektasi. Bahwa keadaan sekarang adalah anomali, yang harus dihadapi bersama-sama. Kolaborasi.

Semua tantangan di atas harus dijawab sekolah atau lembaga pendidikan lewat improvisasi metode pengajaran. Dan juga harus dijawab oleh para orang tua, lewat peningkatan kemampuan pedagogi.

Nampaknya empat kompetensi di abad 21 itu menjadi tantangan berat juga untuk Sururi, yang sekarang menjabat Kepala Sekolah di Sekolah Alam Bandung.

Di SAB, yang kesehariannya belajar dari alam, belajar di alam terbuka, yang biasanya anak bisa bebas berlarian, berkotor ria main tanah, sekarang harus improvisasi metodenya lewat daring. Itu sulit sekali. Tapi pasti Kepsek yang dulu waktu kuliah di Kimia Unpad suka main bola pakai sepatu safety ini, punya solusinya.

Sebenarnya, ada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang bisa dipelajari sendiri, karena sudah dituangkan dalam Permendikbud No.137 tahun 2014 mengenai Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Cukup tebal, 76 halaman.

Memang masih banyak pekerjaan rumah buat kita, para orang tua. Apalagi menjadi orang tua tidak ada sekolahannya. Semua merasa bisa, dengan rujukan apa yang diajarkan zaman dahulu oleh orang tua kita. Masih relevan? Ya dan tidak. Perlu pengembangan? Jelas, karena zamannya sudah berbeda.

Tapi seperti kompetensi di atas, ternyata bukan hanya anak yang memerlukan, tapi juga kita sebagai orang tua yang berperan sebagai pendidik di rumah. Kita perlu memperbanyak komunikasi dan kolaborasi dengan para guru anak-anak kita di sekolah/ lembaga. Kita juga perlu berpikir kreatif dan kritis. Kita yang tahu keseharian anak di rumah. Kita sering membaca perilakunya, kebiasaanya, kesukaannya, cara mereka berpikir dan berkreasi.

Maka sudah seharusnya, kita mengembangkan kemampuan pedagogi juga bukan? Caranya, dengan banyak baca, banyak tanya pada teman yang ahli, dan banyak praktik.

Sambil kita meningkatkan kemampuan pedagogi, tidak ada salahnya sambil menyantap seporsi bulgogi. Biar ada teman itu gigi geligi. Supaya pedagogi tidak menjadi elegi.

 

.Oksand.