ORANG-ORANG ANEH BERDATANGAN

ORANG-ORANG ANEH BERDATANGAN

Seperti petir di siang bolong, kami mendengar kabar itu. Hasil endoskopi menunjukkan bahwa Papa menderita liver atau kanker hati. Menurut asumsi dokter, Papa kemungkinan sudah lama diserang virus hepatitis C, tapi tidak dirasakan sebab gejalanya memang tidak tampak. Karena terlalu lama dibiarkan, akibatnya memicu kanker hati. Yang lebih membuat kami terguncang, dokter mengatakan bahwa kanker Papa sudah stadium 4.

Saya menangis sejadi-jadinya! Ya Tuhan…apa salah Papa sampai kau beri cobaan seberat itu? Ya Sang Budha, tolonglah Papa. Baru sebentar hambaMu merasakan kebahagiaan bersamanya, janganlah kau renggut kebahagiaan ini begitu cepat. Berilah beliau kesembuhan. Amin.

Sehabis berdoa, hati saya menjadi lebih tenang. Saya percaya Tuhan itu maha adil. Saya selalu percaya bahwa everything happens for reason. Dulu Papa sering berkata, ‘When God wants you to grow, He makes you uncomfortable.’

Sejak vonis dokter itu, saya pindahkan sebagian besar pakaian ke rumah sakit. Saya bertekad untuk menemani Papa setiap malam. Mama dan A Koh boleh saja kalau mau menginap menjaga Papa tapi saya juga tidak mau pulang. Pokoknya saya harus bersama Papa. Setiap hari saya bagi menjadi dua bagian. Siang hari di rumah mengurus anak saya, Cindy. Dan malamnya mengurus Papa. Setiap hari Senin dan Kamis, saya mengajak Cindy ke rumah sakit untuk membesuk Opanya.

Kesehatan Papa semakin lama semakin menurun. Badannya semakin kurus dan kulitnya mulai berubah menjadi kekuning-kuningan. Tubuhnya sangat lemah sehingga untuk buang air pun beliau terpaksa memakai pispot di atas tempat tidur karena tidak sanggup lagi berjalan ke kamar mandi.

Berita sakitnya Papa nampaknya sudah tersebar ke mana-mana. Banyak sanak saudara datang membesuk. Mereka datang dari berbagai tempat yang berbeda-beda dan kebanyakan adalah saudara dari pihak Mama. Saudara dari pihak Papa ada juga tapi sangat sedikit yang kami kenal.

Ada suatu fenomena terjadi yang cukup mencengangkan keluarga kami. Ternyata Papa mempunyai banyak sekali teman yang sebelumnya tidak kami ketahui. Mereka datang silih berganti dari berbagai tempat bahkan memberikan uang pada Mama untuk membantu ongkos rumah sakit yang semakin lama semakin mencekik leher.

Yang lebih mencengangkan lagi, suatu hari datang seorang konglomerat bernama Pak Liem. Dia khusus datang untuk menjenguk Papa. Kami sering melihat wajahnya di surat kabar dan majalah. Kedatangannya ke rumah sakit diiringi beberapa bodyguards yang memakai seragam safari abu-abu tua.

Pak Liem duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan  Papa, “Pak Yo. You masih mengenali saya, kan?”

Papa tidak menjawab. Matanya menatap dengan tajam ke arah orang tersebut.

“Coba Pak Yo lihat baik-baik wajah saya. Masih ingat nggak sama saya?” tanya konglomerat itu lagi.

“Pak Liem,” sahut Papa dengan suara lemah.

“Betul! Saya Liem Tjoe Kiong. Syukur you masih ingat.”

“Apa kabar, Pak Liem?” tanya Papa lagi. Nampaknya dia harus mengerahkan banyak energi hanya untuk mengucapkan kalimat singkat tersebut.

“Saya baik-baik saja. Sekarang saya tinggal di Amerika. Saya khusus datang ke Jakarta cuma untuk menjenguk Pak Yo.”

“Terima kasih,” kata Papa dengan napas tersengal-sengal.

“Begini, Pak Yo. Saya mau bawa you berobat ke Amerika. Tapi you kan masih lemas. You berobat baik-baik di sini. Kalau sudah bisa jalan, saya mau boyong Pak Yo ke Amerika untuk berobat sampai sembuh.”

“Berobat ke Amerika dari mana biayanya, Pak?” Mama tidak tahan untuk menyela.

Si konglomerat menengok ke arah Mama lalu berucap lagi, “Ibu nggak usah kuatir. Semua biaya hidup dan biaya rumah sakit selama di Amerika, saya yang akan biayai. Seluruh keluarga boleh ikut dan semua juga menjadi tanggungan saya,” kata Pak Liem lagi dengan suara powerful.

“Maaf, bukan bermaksud kasar. Tapi Bapak siapa? Apa hubungan Bapak dengan suami saya?” tanya Mama lagi. Mama memang orangnya keras dan sama sekali tidak sudi ada orang yang tidak dikenal tiba-tiba datang dan hendak mengatur keluarganya.

“Ibu tidak kenal saya?” tanya Pak Liem dengan suara sangat percaya diri.

“Saya tau Bapak siapa. Yang saya tanya apa hubungan Bapak dengan suami saya?” jawab Mama tidak kalah gretak.

“Pak Yo adalah orang yang sangat berjasa pada keluarga kami. Saya minta maaf kalau Ibu tersinggung. Saya cuma bermaksud membalas budi pada Pak Yo. Itu saja.” Kelihatannya konglomerat ini juga tidak senang dengan sikap Mama yang terasa ketus baginya.

Karena suasana menjadi agak tegang, Pak Liem langsung pamit sehingga tidak terjawab apa hubungan orang tersebut dengan Papa.

Namun Pak Liem bukanlah satu-satunya tamu yang mengherankan keluarga kami. Tiba-tiba seorang Papua bernama Franz datang membesuk dan membawa obat dewa dari buah merah sebanyak 10 botol dan diserahkan pada kami untuk mengobati Papa. Memang beberapa waktu yang lalu fenomena buah merah pernah menghebohkan negeri ini karena dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kanker.

Lain harinya lagi seorang pemilik pesantren dari Pasuruan berama Kyai Hajar Ruslan datang ke rumah sakit bersama 4 orang santrinya. Mereka melakukan ritual doa secara Islam untuk kesembuhan Papa kami.

Besoknya lagi datang seorang pendeta bule dari Purworejo, namanya Romo Loogman. Dia memeriksa gelombang mikro magnetik di tubuh Papa. Selanjutnya dia membaca doa secara Katolik. Kalau saya tidak salah, Romo itu mengucapkan doa Bapak Kami dan Bunda Maria. Setelah itu Sang Romo menyerahkan dua buah besi magnet dibungkus kertas berwarna maroon yang harus diletakkan di bawah tempat tidur Papa. Entah untuk apa.

Selanjutnya datang lagi seorang akupuntur dari Tibet dan meminta izin pada Mama untuk menusuk tubuh Papa dengan jarumnya. Sebetulnya Mama mengizinkan tapi sayangnya pengobatan tusuk jarum tidak jadi dilaksanakan. Pihak rumah sakit menolak karena team dokter takut akan ada efek samping buat kesehatan Si Pasien.

Tamu-tamu asing yang tidak kami kenal terus berdatangan. Kami sekeluarga heran dari mana Papa mengenal mereka dan dari mana mereka semua mengetahui Papa sakit. Begitu banyaknya penjenguk asing yang datang sehingga sebagian terpaksa ditolak oleh Mama karena kuatir Papa malahan jadi tidak bisa beristirahat.

“Jam berapa sekarang, Yo?” tanya Papa. Kembali malam itu cuma kami berdua saja di rumah sakit.

“Jam 6.30 malam. Papa nggak tidur?” tanya saya sambil menutup buku yang tengah saya baca.

“Papa nggak bisa tidur. Kamu lagi baca buku apa, Yo?”

“Short Story. Judulnya The Pit and the Pendulum,” sahut saya.

“Oh, Edgar Allan Poe…” kata Papa langsung menyebut nama pengarangnya. Kegilaan saya membaca memang didapatkan dari Papa. Dia bahkan membangun sebuah perpustakaan kecil di rumah. Begitu banyaknya buku Papa sehingga perpustakaan itu hampir tak mampu lagi menampung buku yang ada. 

“Mau Yoyo bacain bukunya biar Papa bisa tidur?”

“Wah, ide bagus tuh, Yo. Papa pasti akan tidur nyenyak, tuh,” sahut Papa tersenyum. Saya suka sekali melihat Papa tersenyum. Dia tampan sekali kalau sedang memamerkan senyumnya.

Dan sejak malam itu, kami berdua mempunyai ritual baru. Setiap kali tak ada bahan pembicaraan, saya selalu membacakan cerita untuknya. Papa tidak pernah meminta cerita yang spesifik. Saya cuma disuruh membaca buku yang sedang saya baca secara verbal. Kadang kami berdua merasa hidup itu lucu; waktu kecil Papa yang membacakan cerita untuk mengantarkan saya tidur, sekarang yang terjadi kebalikannya.

“Hari ini siapa saja yang datang ke sini, Yo?”

“Tadi siang Pak Liem datang lagi. Dia minta kepastian, apa Papa bersedia dibawa ke Amerika buat berobat…”

“Hmmm, siapa lagi?” tanya Papa acuh tak acuh.

Lalu saya menyebutkan tamu-tamu yang datang hari ini. Mama sudah membuatkan buku tamu sehingga semua termonitor siapa saja pengunjung yang datang menjenguk.

“Mereka itu siapa, sih, Pa? Kok, banyak amat kenalan Papa yang kami nggak pernah liat?”

“Siapa yang mau kamu tanyakan?” sahut Papa balik bertanya.

“Kita mulai dengan Franz yang dari Papua. Apa hubungan dia dengan Papa?”

“Oh, Franz Rumaropen. Itu cerita sudah lama sekali. Waktu itu Papa masih bujangan dan belum kenal sama Mama kamu.”

“Ceritanya bagaimana, Pa?”

“Waktu berkelana ke Papua dulu, hampir setahun Papa menginap di rumah bapaknya Franz. Namanya Thomas Rumaropen. Franz masih sangat kecil waktu itu. Mungkin baru berusia 5 tahun.”

“Terus?”

“Papa nggak punya duit, jadi sebagai bayarannya, Papa membantu Bapaknya Franz di ladangnya. Mereka membudidayakan buah merah di sana.”

“Oh, begitu. Lalu kenapa Franz bilang Papa sangat berjasa?”

“Dia bilang begitu?” tanya Papa keheranan.

“Dia mengulang kalimat itu berkali-kali, Pa.”

“Franz itu anak yang luar biasa pintar. Selama setahun di sana, Papa ngajarin dia membaca dan menulis. Mungkin gara-gara itu dia merasa berhutang budi.”

“Kalau akupuntur dari Tibet itu siapa?”

“Namanya Damodar Pande. Sebetulnya dia bukan dari Tibet tapi dari Kathmandu, Nepal. Damodar membuka kursus akupuntur di Lasha, Tibet. Papa khusus datang ke Lasha buat belajar dari dia.”

“Wah? Papa bisa akupuntur?” Surprise sekali saya mendengar Papa pernah belajar ilmu tusuk jarum di Tibet.

“Nggak bisa, Yo. Ternyata otak Papa terlalu bebal untuk mempelajari lebih dari 1000 titik jalan darah di tubuh manusia. Papa kurang telaten untuk mempelajari akupuntur.”

“Terus bagaimana Damodar Pande dan Franz bisa tau Papa sakit? Dan bagaimana mereka bisa tau Papa dirawat di sini? Kenapa mereka mau datang ke Jakarta? Papua kan jauh sekali dari sini. Apalagi Tibet?” Dengan bertubi-tubi, pertanyaan saya terus memberondong.

Beberapa puluh detik dibutuhkan untuk berpikir sebelum Papa menjawab pertanyaan itu, “Persisnya bagaimana, Papa juga nggak tau. Tapi intinya, kalau kita sayang pada seseorang atau  pernah mendapat kebaikan dari orang lain, kita harus sering mendoakan orang itu.”

Saya menunggu Papa melanjutkan omongannya.

“Jika kita setiap hari mendoakan orang, maka kita akan terhubung dengan orang tersebut. Mungkin kamu sulit untuk percaya tapi ketika dua orang sudah terhubung erat, maka jarak, waktu dan tempat sama sekali tidak memainkan peran lagi.”

Ucapan Papa bukan main dalamnya. Ada faktor spiritual yang memang agak sulit diterangkan. Tapi kalimatnya barusan telah membuat saya tersadar. Mungkin itu sebabnya Papa tiba-tiba menjemput di bandara. Itulah alasan kenapa dia berubah menjadi mesra. Ya, itulah jawaban yang saya cari-cari selama ini: Karena saya selalu mendoakannya setiap hari.

“Kalau Romo Loogman?” Saya lanjut bertanya seperti perempuan cemburuan yang sedang menyelidiki siapa saja teman-teman pacarnya.

“Romo Loogman itu seorang pendeta dari Belanda tapi sudah lama tinggal di Purworejo. Selain sebagai pendeta, dia juga seorang penyembuh alternatif. Dia mengembangkan metode Radiesthesi yaitu cara untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dengan bantuan alat detektor, antara lain pendulum dan batang kayu.”

“Terus bagaimana Papa bisa kenal dia?”

“Dulu kepala Papa sering pusing. Kalau pusingnya sudah kambuh akibatnya parah sekali. Dokter nggak berhasil menemukan penyebabnya. Akhirnya Papa coba berobat ke dia.”

“Tau dari mana kok bisa-bisanya sampai berobat ke Purworejo?”

“Waktu itu lagi mendaki gunung Merapi, pusing Papa kambuh. Untung gak terlalu parah. Seorang teman pendaki bercerita tentang pendeta itu. Nah, mumpung lagi di Jawa Tengah, sekalian aja Papa datang ke sana.”

“Papa sakit apa, menurut Romo itu?” tanya saya seperti nenek-nenek cerewet yang selalu ingin tau apa yang dilakukan cucunya.

“Kata Romo Loogman, di dalam tanah persis di bawah tempat tidur Papa, ada aliran air yang tidak beraturan sehingga membentuk enerji medan magnet negatif yang mengganggu sistem tubuh Papa. Lalu Romo memberi dua batang magnet yang harus di tanam di bawah tempat tidur untuk menetralisir enerji yang mengganggu tadi.”

“Manjur magnetnya?”

“Romo Loogman orang hebat. Sejak magnet itu ditanam, penyakit pusing Papa tidak pernah datang lagi.”

“Tapi kalau Papa cuma pasiennya, kok Romo itu mau-maunya datang ke sini untuk membesuk?”   

“Kami berdua jadi berteman karena ada proyek yang kita kerjakan bersama. Romo Loogman memiliki sebuah buku kuno dalam bahasa latin. Karena isinya bagus, Romo ingin menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dan dia meminta Papa untuk membantu dia.”

“Papa bisa bahasa Latin?” Saya takjub bukan main. Saya yang sangat merasa dekat dengannya ternyata sama sekali tidak tau apa-apa tentang Ayah saya sendiri.

“Yah… Papa mengerti sedikit-sedikit. Tapi buat Romo itu sudah cukup membantu.”

Entah kenapa saya jadi sedikit kesal sama Papa. Dan kekesalan itu membuahkan pertanyaan yang pasti tidak enak terdengar di telinga, “You know a lot of people. You know Mr. Liem. You cultivated red fruit in Papua. You can speak Latin. Why I never knew all that?"

Dengan santainya Papa menjawab, “You never asked.”

Kami terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Pikiran saya campur aduk tidak keruan. Semakin banyak mengetahui tentang Papa, saya merasa semakin tidak mengenalnya. Tapi di lain pihak saya semakin kagum. Kekaguman yang membuat saya semakin mencintai tapi sekaligus membuat merasa asing dengannya.

“Okay, back to Pak Liem? He is a tycoon, how do you know him?”

“Hmm, it’s a long story.”

“We have a long time, Papa!” kata saya terus mendesak.

“Kapan-kapan akan Papa ceritakan. Intinya Papa kebetulan pernah menyelamatkan anaknya. Makanya dia merasa berhutang budi pada Papa.”

“Coba ceritakan yang lengkap dong, Pa. Jangan ada yang disembunyikan! Yoyo nggak suka kalau Papa merahasiakan sesuatu pada keluarganya sendiri!” Tanpa sadar saya berkata dengan suara ketus.

“Kamu kenapa, Yo? Kamu marah sama Papa?” tanyanya keheranan mendengar nada suara saya.

Tanpa menjawab pertanyaan Papa, saya pergi ke toilet untuk meredam emosi saya. Aduh, maafkan saya Tuhan. Papa sedang sakit keras, saya tidak boleh membuat masalah kalau tidak ingin membuat sakitnya bertambah parah. Di dalam toilet, saya berjuang keras untuk tidak menangis.

Menyadari bahwa banyak sekali hal yang tidak saya ketahui tentang Papa, membuat saya sedih. Rasanya keberadaan saya tidak cukup berarti baginya. Terlalu banyak orang-orang di luar sana yang mempunyai kisah-kisah hebat bersamanya. Dan saya, anak kandung yang merasa paling dekat dengan Papa di dunia ini, ternyata tidak mempunyai pengalaman yang cukup berarti bersamanya.

Inilah karakter perempuan yang tidak pernah bisa dimengerti oleh kaum lelaki. Kami perempuan terlalu sensitif dan selalu mempersoalkan seberapa besar eksistensi kami di mata lelaki yang dekat sama kita. Mungkin itu sebabnya para lelaki sering pening kepala melihat sikap kaum hawa.   

Bersambung.