Nyaris

Dari kisah nyata

Nyaris

 

Pagi ini aku rencananya mau pergi ke perpustakaan. Mau mulangin buku sekaligus ngambil pesanan buku-buku yang sudah tiba. Sekalian mau mampir ke Dollarama. Dollarama adalah toko barang-barang murah seharga satu hingga empat dollar. Tidak ada yang lebih mahal dari empat dollar. Aku paling suka ke situ, biasanya semua barang lebih murah dari harga di toko lain. Apa aja ada, dari bumbu dapur, kanvas untuk melukis, hingga masker.
Sekalian mau mampir di supermarket beli sayuran.
Karena lokasinya berdekatan.
Karena hari ini Jumat. Biasanya anakku pulang lebih siang.
Aku text mantan suami.
“Hari ini anak kita sama kamu atau sama aku?” tanyaku.
Lama tidak dijawab.
Nggak berani pergi kalau belum dapat kepastian.
Kalau seandainya anakku hari ini giliran bersamaku, maka aku tidak jadi pergi. Tidak cukup waktunya.

Sekitar jam 12 lewat baru dapat jawaban text.
“Hari ini dia sama aku, besok pagi baru sama kamu!” kubaca pesan dari mantan suami.
Berarti aku bisa pergi, cepat-cepat aku ganti baju, siap-siap pergi.
Lama amat sih balasin textnya, aku jadi kesiangan pergi. Coba dari pagi kan enak, nggak buang waktu. Sebenarnya udah laper, tapi kalau aku makan dulu nanti tidak cukup waktu. Karena hari Jumat, perpus dan Dollarama tutup jam lima.
Karena lagi winter, aku harus buntelan dengan Jaket winter. Syal, Topi Winter, sarung tangan dan  Masker. Ribet banget make masker dan topi sekaligus. Karena masker aku bukan masker biasa yang dicantel di kuping. Tapi masker dari bandana 2 lapis yang aku taruh di kepala seperti ikat kepala pendekar sakti. Kalau masuk ke ruangan, baru aku turunkan, dipakai sebagai masker. Aku lebih suka tipe seperti itu daripada yang dicantel di telinga. Rasanya lebih ketat, nggak ada celah dan nggak mudah lepas. Tapi kalau didobel topi, rasanya enggak enak. Topi jadi licin dan mudah jatuh.
Udah sibuk pakai kaos kaki tebal dan sepatu boot yang susah makenya, karena model ini tidak ada zippernya. Aku suka model sepatu boot ini karena anti licin solnya. Jadi kalau jalanan beku penuh es, bisa tetap jalan tenang tanpa terpeleset. Susah sekali cari boot yang anti licin begini.
Jadi biarpun agak ribut pakenya, aku tetap pake juga.
Udah siap semuanya tinggal berangkat. Tiba-tiba aku sakit perut. Aduh ini kalau ditahan gawat, bisa-bisa beol di jalanan.
Jadi terpaksa aku buka lagi semuanya, cepat-cepat ke kamar mandi memenuhi panggilan alam. Ternyata lama beberapa ronde. Mungkin kebanyakan makanan pedas semalam.
Setelah selesai, cepat-cepat berbundel lagi. Ah ribet dua kali deh jadinya, aku kesal dengan diri sendiri.

Sebenarnya perpustakaan dekat, bisa jalan kaki setengah jam dari kediamanku.
Tapi karena lagi winter, aku memilih naik kendaraan umum. Walaupun kalau naik kendaraan umum malah lebih lama, harus naik 2 kali. naik bis dulu, setelah itu jalan beberapa blok, pindah lagi naik kereta api. Kalau dihitung dari lamanya saat menunggu bis dan saat menunggu kereta, minimal 1 jam baru bisa tiba di perpustakaan. Lebih lama, tapi hangat tidak kedinginan, Karena di bis dan kereta ada pemanas.
Saat naik ke bus, tiba-tiba aku mencium bau kotoran manusia.
Padahal pakai masker, tapi masih tercium bau yang sangat menyengat.
Tak lama kemudian kulihat seorang kakek yang duduk di depanku berdiri, bersiap hendak turun. Ada noda kuning besar di bagian bokong celananya. Aduh, jangan-jangan dia beol di celana?
Kulihat semua penumpang memandangi kakek itu. Kayaknya bukan cuma aku yang curiga begitu.
Kupandangi kakek itu. 30 persen merasa kesal kebauan, 30 persen kasihan, 30 persen menahan ketawa karena lucu. 10 persen lagi perasaan lega.
Untung aku tadi ke kamar mandi dulu sebelum pergi, Kalau nggak, bisa-bisa kecelakaan seperti kakek itu.
Rencananya aku mau berhenti di 4th street. Di situ ada Dollarama, dekat terminal kereta. Jadi rencananya sebelum naik kereta, aku bisa ke Dollarama dulu.
Tapi karena sibuk ngeliatin kakek yang beol di celana, aku lupa berhenti di dekat dollarama di 4th street . Jadi berhenti di tempat lain, namanya 1st street. Dekat stasiun kereta juga, tapi terminal lain, jauh dari Dollarama. Jadi rencanaku berubah, mau langsung naik kereta ke perpus, bukan ke Dollarama.

Setelah aku turun dari bis, aku  berjalan sebentar menuju terminal kereta.
Di Terminal kudengar pengumuman dari speaker.
“Telah terjadi kecelakaan, kereta tidak akan lewat di terminal ini. Silahkan anda naik bis pengganti dari terminal di balai kota!”
Terminal balai kota adalah 1 terminal berikutnya dari terminal itu. Jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki dari terminal itu.
Dari Balai kota, bisa jalan kaki ke perpustakaan, sudah dekat. Jadi daripada naik bis pengganti, lebih baik aku jalan aja langsung ke perpus.
Jadi dari terminal 1st street sampai perpus, kira-kira jalan 20 menitan. 
Tau gitu mending jalan kaki dari rumah aja. Cuma 30 menit sampai. 
Daripada ini akhirnya jalan kaki 20 menitan juga. Dan dari rumah ke perpus lebih dari satu jam baru sampai. Karena tadi nunggu bisnya lama.

Karena banyaknya orang yang nggak bisa naik kereta, maka pejalan kaki dari terminal di 1st street ke terminal balai kota banyak sekali. Tak sengaja kudengar percakapan mereka.
“Ada kecelakaan tabrakan kereta di 4th street barusan jam 1.30!
Sekarang jalanan di situ ditutup” kata seseorang.
Kulirik jam tanganku, Jam 1.40 sekarang.
Nyaris jadi korban tabrakan kereta!
Ah beruntungnya aku selamat dari kecelakaan. Terima-kasih Tuhan!
Seandainya tadi aku ke Dollarama dulu, aku bisa terjebak di Kecelakaan itu, mungkin aku bisa jadi korban.
Untung ada kakek yang beol di celana, jadi aku nggak turun di dekat Dollarama.
Seandainya tadi aku tidak sakit perut, mungkin aku bisa jadi korban.
Seandainya mantan suamiku menjawab pesanku lebih pagi, mungkin aku bisa jadi korban.
Karena perpus, dollarama dan supermarket letaknya berdekatan. Yang mana duluan yang akan aku datangi biasanya tergantung situasi. Beda jalur sedikit, tapi bisa dibolak-balik.
Kalau aku datang lebih pagi dan ke supermaket dan perpustakaan dulu, dollarama yang terakhir, bisa jadi aku kena kecelakaan juga.
Sambil bersyukur di dalam hati, aku ingat kejadian puluhan tahun silam.

 

Saat itu aku dan mantan suami, yang dulu belum jadi mantan, sedang liburan di sebuah negara.
Rencananya kita akan pergi ke beberapa kota. Hari Senin, saat akan pergi memesan tiket kereta api ke kota lain, aku mandinya lama dan makannya lama.
Hingga begitu sampai di tempat pembelian tiket, kita sudah kehabisan tiket.
“Kamu sih lelet, jadi kehabisan tiket deh!” kata suamiku kesal.
“Jadwal keberangkatan berikutnya kapan mbak?” tanyaku pada penjual tiket.
“Minggu depan, tanggal 15!” kata penjual tiket.
“Yah lama amat! Tanggal 18 aku sudah harus masuk kerja. Yah nggak bisa pergi ke situ deh!” Kata suamiku kecewa.
“Maaf ya sayang!” kataku.

“Kamu sih kayak kura-kura, apa-apa lelet, kita jadi nggak bisa pergi ke situ deh! Padahal dari dulu aku kepengen banget ke situ!”
Sepanjang hari suamiku ngedumel terus menyesali keleletan aku. Kita jadi berantem.

“Seharusnya kita lagi sarapan pagi di kereta api nih!” ujar suamiku saat sarapan pagi hari selasa. Kereta itu dijadwalkan berangkat hari ini.
“Ada restaurant seafood enak di puncak gunung di kota itu, Seharusnya kita udah makan disitu sekarang!” kata suamiku saat makan malam.
Seharian tidak berhenti sindirannya menyesali aku.
“Udah jangan ngomel melulu, liburan kok ngomel melulu sih?” kataku.
“Belajar cepat dong, jangan suka lelet melulu!”
“Makan kalo cepat-cepat nggak enak, lebih baik pelan-pelan dinikmati!” kataku.


Hari Rabu pagi ketika kami sedang sarapan di restaurant hotel, suamiku menonton berita di layar TV di atas dinding restaurant itu.
“Telah terjadi perampokan di kereta api jalur ini, Kereta dihentikan secara paksa oleh gerombolan perampok. Banyak penumpang yang dibunuh. Dan banyak yang luka-luka. Para penumpang masih disandera karena sindikat perampok menuntut pemerintah membayar mereka 30 milyar untuk membebaskan sandera …..”
Itu kereta api yang seharusnya kami naiki!
Suamiku terpaku.
“Kita nyaris jadi korban perampokan. Untung kita nggak naik kereta api itu!” kata suamiku.
“Untung istrimu lelet, jadi kamu selamat dari perampok! Kalau nggak, kamu bisa disandera, nggak jadi liburan!” kataku senang.
Bukan cuma lega karena nggak jadi korban perampok.
Tapi paling tidak suami nggak akan ngedumel lagi soal batal pergi ke situ.
Walaupun ngedumel leletnya masih terus, puluhan tahun kemudian, hingga saat ini. Walau sudah bukan suami lagi.