Nyanyian Lain Lewat Cermin Lain di Dunia

Nyanyian Lain Lewat Cermin Lain di Dunia

Piring-piring berserakan di lantai. Pecah. Serpihan kacanya mengenai telapak kakiku yang telanjang. Suara nyanyian pelan seorang wanita menyelusup masuk, lalu kain lap yang menggantung di sandaran kursi meluncur ke bawah, terbawa angin.

Lemari tinggi dengan cermin besar bergerak-gerak sedikit, sebelum pintunya tertutup rapat. Dia membelakangi kekacauan, melantunkan lagu lain yang tidak kumengerti, lalu bayang-bayangnya hilang setelah menutup pintu barusan.

Dia pasti marah karena seseorang akan mengunjungi rumah kami sebentar lagi. Orang ini adalah temanku—kawan baru yang tinggal di suatu tempat, jauh dari jarak pandang kami berdua.

Apakah dia cemburu?

Wanita yang menemani hampir seluruh hidupku ternyata seorang pencemburu?

Beberapa waktu lalu, dia ingin kami bersama selamanya. Sayangnya, kisah itu terkesan seperti kengerian aneh ketimbang satu janji manis.

Keramik kecil dengan ukiran dedaunan jadi saksi bisu lain di antara banyak kejadian: guyuran air di lantai, rambut panjangku yang dijambak, wajah dicakar, dan barang-barang berharga yang saat ini sudah ada di tong sampah. Rusak. Semua hal berubah menakutkan saat dia tidak senang.

Sambil menatap diri di cermin, dia selalu menyebut temanku sebagai pembunuh.

"Kenapa gaya orang-orang selalu bertolak belakang dengan sifat mereka? Orang ini ... dia kelewat rapi. Aku nggak suka."

Anehnya, dia lebih suka bersembunyi saat temanku datang. Selain suara nyanyian yang mengganggu, tidak ada yang terjadi. Dia terus melantunkan nada-nada sumbang meski aku dibawa pergi berhari-hari. Setelah aku pulang, dia menghilang, merajuk selama seminggu penuh. Lalu dengan senyum lebar setelah aku memasukkan pakaian ke dalam lemari, kami melupakan semua hal.

"Kamu janji kalau orang itu nggak akan datang lagi." Lengkingan suaranya menggema, mengagetkan, membuat serpihan kaca meluncur dari tanganku yang dingin.

Saat aku menoleh sebentar, dia tidak ada di sana.
Wanita itu bersembunyi, merajuk lagi seperti bayi—bayi dewasa yang menakutkan, yang tidak bisa ditinggalkan.

"Aku pergi saat dia datang, tapi orang itu tetap punya niat jahat. Saat aku memilih muncul, dia makin sering datang dengan niat yang sama. Kenapa?" Teriakannya berubah jadi tangisan pelan, lalu dia memaksa diri bernyanyi.

Alunan aneh dengan lirik asing menyakitkan telinga. Aku mulai kecapekan.

"Saat aku sembunyi selama berhari-hari, orang itu nggak pernah datang. Tapi setelah kita baikan, dia muncul lagi, makin sering. Meski saat ini aku ada di dalam, dia tetap muncul."

Di dalam?

Oh, Tuhan! Apakah kami sedekat itu hingga dia memutuskan hal ini?

Piring-piring pecah kini berkumpul di tengah ruangan, menunggu disapu, tepat ketika temanku muncul di halaman dengan sedan tua berwarna hitam.

"Dia bawa mobil. Kamu mau pergi?" Suaranya terbata-bata. Lalu dia mulai berteriak kesetanan.
Ruangan ini seakan berputar. Lemari di sana bergoyang-goyang hingga aku harus memegangi kedua sisinya.

Pucat pasi. Helaian rambutnya kaku. Dengan sorot mata tajam, dia akhirnya menampakkan diri di balik cermin besar yang memisahkan kami. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang menua saat aku tersenyum. Dia melambaikan tangan saat aku melambai. Dan air mata menetes saat aku mulai menangis.

Aku bernyanyi, lalu dia menirukan setiap detail kata yang merasuki telinganya.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Kenapa kami sangat tidak berbeda?

Gaya pakaian itu, senyuman barusan, dan suara yang menghiasi ruangan setiap waktu.

Siapa dia? Siapa wanita ini? Kami sangat dekat, saling menyayangi. Benarkah begitu? Meski banyak sekali obat yang membuatku tidur lebih awal, apakah dia tidak apa-apa? Atau malah ikut tertidur?

Di ambang pintu, temanku berdeham. Dengan setelan rapi dan tas duffel hitam di tangan, orang itu masuk dengan tergopoh-gopoh, menatap kekacauan tadi sebelum menarikku pelan, lalu mendudukkanku di kursi.

Satu tarikan napas terasa berat saat dia menangis, keras sekali.

"Ayo pergi! Saatnya pindah," kata temanku, mengabaikan suara-suara nyaring yang memekakkan telinga.

Di balik cermin, dia bersenandung, sementara temanku tersenyum hangat dan berkata, "Sssttt!"

Apa?

Aku bahkan tidak membuka mulut sama sekali, tapi bukan dia yang disuruh diam— justru aku? Setelah menyelesaikan satu lagu pendek, dia pun bicara, "Sampai jumpa lagi. Saat kamu pulang, aku bakal ada di sini, di balik cermin ini. Jangan percaya dokter itu! Dia penipu." Rasa penasaran soal siapa-yang-mencintaiku-dan-sebaliknya membuncah saat kalimat lain terlontar, "Kita mungkin bisa bertemu lewat cermin-cermin lain yang tersisa di dunia."

***