Nomer sembilan

Nomer sembilan

Setelah desah dan lenguhan panjang,bercampur tetesan keringat dan aroma tubuh yang khas dalam ribuan kenikmatan,lalu diakhiri hentakan panjang saat klimaks itu datang.

Namanya Raditya Albert,tapi di smartphoneku aku lebih suka save nomer Dia dengan nama "nomer sembilan",karena kebetulan dari sepuluh pelanggan setiaku,

"Dia adalah pelanggan kesembilan yang rutin berwisata dengan tubuhku".

Aku angkat pelan tangan kekar yang melingkar diperutku  perlahan bangkit hendak  kekamar mandi untuk sekedar membersihkan diri,agar tidak terlalu kusut saat sampai kontrakan. 

tapi tangan lembut nan kekar itu menahanku...

"Din tunggulah sebentar",
"temani aku  sampai terlelap ya"
"Setidaknya bisa sedikit mengobati kangenku pada Stev".

Stev atau steven adalah pacar lelaki Raditya, dan biasanya sehabis kita bercinta
Stev akan menunggu di balik pintu,setelah aku pulang dia akan menemani  Radit sampai esok hari.

Tapi kali ini sudah hampir sebulan mereka berpisah, karena Stev ada pekerjaan di luar negeri,biasanya Radit suka ikut,tapi tidak kali ini karena  Radit juga ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

Padahal malam sudah larut,tapi  apa daya sentuhan lembut tangan yang melingkar perutku serta remasan tangan satunya lagi di bawah pinggul
membuatku urung meninggalkan tempat tidur.

Dan aku hanya bisa pasrah ketika pelanggan "Nomer sembilan" itu memeluk erat tubuh telanjangku.

Tak selang berapa lama dengkuran dari pria kekar yang juga model Profesional itu terdengar lembut tapi menenangkan. 

Setelah kusingkirkan pelan pelan tangan kekar yang melingkar ditubuh aku segera kekamar mandi sekedar "mandi bebek" ala kadarnya lalu kupakai pakaianku,karena
aku harus  bergegas pulang.

Besok hari senin dan ada jadwal upacara bendera pasti kena tegur kalau banyak nguap pas upacara.

Terkadang aku juga nggak bisa pahami kenapa pria seganteng dan sekekar itu bisa "menyukai" perempuan sekaligus lelaki.

Ya pria ganteng bertubuh kekar tapi dengan gaya bercinta lembut dan sopan itu seorang Bisex.
 
Aku tahu itu karena dia sering bercerita tentang pacar lelakinya.

Bahkan kata Radit, Stev sendiri merestui jika dia berhubungan dengan perempuan macam aku.

Meski terdengar aneh dan nggak masuk akal,tapi stev memang tulus merestui karena dia juga tahu kalau  Radit seorang Bisex.

Dan kata Stev "itu lebih baik dari pada Radit mencintai laki laki lain".

Dan aku nggak pernah ambil pusing tentang hubungan mereka.

Karena yang terpenting 
Radit bisa menjadi ATM berjalanku apalagi dia bisa bayar cukup mahal setiap kali dia "Berwisata" di tubuhku.

Dan itu cukup untuk membiayai sekolah dan hidupku,jika ada sisa bisa ditabung buat masa depan.

Meski terkadang terlintas di fikiran "sampai kapan Dosa ini kujalani,adakah akan berakhir atau malah Aku dulu yang akan berakhir".

Apalagi saat aku duduk bersimpuh didalam doa setelah selesai sholat, yang meski bolong bolong tapi masih rutin kulakukan. 

Ah sudahlah Aku mau tidur dulu,sambil berharap mimpi indah bisa jadi kenyataan.