NGOPREK BUKU: Namaku Yoyo

Tour Leader, Single Parent, Buddha, dan Cina

NGOPREK BUKU: Namaku Yoyo

NGOPREK BUKU: Namaku Yoyo

Menulis buku ini, saya rasa tidak mudah. Butuh keberanian tinggi. Terutama berdamai dengan diri sendiri.

Tapi Yo Tung Hay berhasil melakukannya. Buku biografi tentang dirinya: Yoyo.

Namaku Yoyo. Tour leader, single parent, Buddha, dan Cina. 

Tebal bukunya 328 halaman. Perlu waktu lebih dari dua tahun untuk menuliskan pengalaman hidupnya ke dalam buku merah tersebut. Tapi hanya butuh beberapa hari saja untuk menamatkannya. Bahkan beberapa jam, bagi sebagian pembaca.

Mungkin ada yang tanya, siapa Yoyo? Siapa Yo Tung Hay? Seleb? Influencer? Kok sampai menulis autobiografi.

Memangnya harus jadi terkenal untuk menulis buku autobiografi? Tidak ada aturannya. 

Menulis buku adalah tentang passion, tentang mencurahkan isi pikiran, tentang menyenangkan diri sendiri, dan legacy. 

Kita hari ini, puluhan tahun kemudian akan meninggalkan warisan pada keturunan kita. Generasi selanjutnya. Dan sejarah di masa ini, adalah untuk catatan masa depan. Kesalahan dan kegagalan hari ini, untuk perbaikan masa depan. Keberhasilan hari ini, sebagai pengembangan masa depan.

Setiap orang akan punya catatan pribadi tentang hari ini. Mengalami hari yang sama, waktu yang sama, tempat yang sama. Tapi beda orang, akan beda cerita. Kejadian yang sama, tapi bisa diceritakan dengan versi yang berbeda. Lain sudut pandang.

Membaca buku ini, saya merasa diantar oleh Yoyo keliling dunia. Saya anggap keliling dunia, walau hanya beberapa negara di Eropa. Karena saya belum pernah ke sana.

Apalagi ada Torro yang mengendarai busnya. Dan sopir taksi di Italia itu. Yang mungkin seram, tapi ternyata bersahabat.

Yoyo banyak bercerita. Kegiatan turnya, kakek Raoul di Volendam, ikatan emosi dengan papanya, Cindy kecil yang doyan puzzle, papa Fu, dan Cindy sahabatnya.

Banyak cobaan yang dialami Yoyo. Banyak ketegaran yang disampaikan. Banyak sikap yang ditampilkan. Banyak pemikiran yang diucapkan. Dan banyak pelajaran yang diberikan.

Saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi membaca bukunya, sudah seperti berkenalan dengannya. Apalagi dia sudah bercerita banyak. Awalnya di facebook, lalu di thewriters.id, dan sekarang di buku terbitan Brave Books milik mas Andung.

Bacalah.
Iqra.

"Sebelum mati, minimal tulislah satu buku." (Budiman Hakim)