NGOPREK BUKU: Copywriter is Dead

Sentilan untuk Copywriter

NGOPREK BUKU: Copywriter is Dead

Judul: Copywriter is Dead

Penerbit: Kanisius

Penulis: Budiman Hakim

Cetakan ke-1, 2020

255 halaman, 14 x 20 cm

 

Saya punya ekspektasi untuk buku ini: belajar copywriting, atau bagaimana itu caranya menulis copywriting?

Dulu sekali, waktu awal lulus kuliah dari Kimia Unpad, cita-cita malah ingin kerja di advertising. Jadi copywriter. Ini sedikitnya dipengaruhi Chandler dalam serial Friends, yang setiap benda yang dia temukan langsung lahir taglinenya.

Dan saya masuk Kimia juga gara-gara Macgyver. Jadi semua cita-cita saya itu karena nonton! Entah berapa orang yang bernasib sama dengan saya. Silakan tertawa dalam hati.

Dan saya biasanya akan mengoprek buku, setelah selesai membacanya. Seperti bukunya Kang Maman: Bukan Buku Agama Bukan Resep Masakan. Lalu bukunya Om Bud: Menulis Tanpa Ide.

Tapi untuk kali ini, saya tidak tahan untuk segera menuliskannya. Karya Om Bud lainnya: Copywriter is Dead.

Namun sejak halaman pertama di persembahan, ucapan terima kasih, pendahuluan, dan kata pengantar, feeling saya berbisik: ini sepertinya storytelling.

Saya jadi ingat tulisan sendiri waktu ngoprek buku Kang Maman, bahwa kalau mau tahu isi otaknya penulis, pemikiran penulis, baca karya nonfiksinya. 

Baca buku Copywriter is Dead ini, seperti kita menyimak Om Bud mendongeng masa lalu. Setidaknya itu kesan saya sampai 6 bab ini.

Budiman Hakim --nama asli Om Bud-- menuliskan ekspresinya bersama penyair legendaris negeri ini: Sapardi Djoko Damono, atau sering dipanggil SDD.

Saya serasa jadi tahu banyak sekali pengalaman hidup Om Bud bersama Pak Sapardi, yang tahun ini usianya 80 tahun. Yang di usia 77 tahun hebatnya menerbitkan 7 buku! Inilah yang disebut makin tua makin jadi. Dan puisinya Hujan Bulan Juni juga difilmkan, tahun 2017, di usianya yang ke-77. Yang dulu namanya hanya dikenal pujangga, penyair, sastrawan. Sejak film Hujan Bulan Juni ini ditayangkan, SDD jadi lebih dikenal umum. Terutama milenial, bahkan gen Z, dan aliran galau mellow, yang terbius dengan puisi-puisi Sapardi.

Dari buku Copywriter is Dead ini saya juga jadi tahu, bahwa Pak Sapardi menulis puisi untuk almarhum Pepeng, pelawak legenda asal Madura, yang dulu beken dengan kuis Jari-Jari di RCTI.

Kemudian puisi itu disebut Om Bud dimusikalisasi olehnya, karena terlalu bagus untuk tidak dibuatkan musiknya. Empat Kwatrin Untuk Pepeng, tulis SDD. Saya pun meluncur ke youtube. Musikalisasinya ada di channel Budiman Hakim.

Tidak sampai 2 menit musikalisasi puisinya. Dibawakan menggunakan piano. Direkam dengan ponsel primitif, katanya. Dan saya suka nadanya. Tapi vokalnya, sepertinya akan berbeda nuansa jika dibawakan Ari Reda, yang memang spesialis membawakan musikalisasi puisi. Dan duet itu banyak juga dipengaruhi puisinya Sapardi Djoko Damono.

Kenapa saya bilang nuansanya akan beda jika dibawakan Ari Reda? Karena di channel youtube Budiman Hakim saya juga menemukan puisi SDD berjudul Pada Suatu Pagi Hari, yang musiknya dibawakan duet Ari Reda, yang ternyata musiknya dibuat oleh Om Bud! Indah nadanya. Khidmat yang membawakannya. Hanyut oleh untaian Begawan Kata.

Mulai bab 7 hingga separuh buku banyak diisi dengan tulisan opini politik. Zaman pilkada DKI. Tentang Ahok-Anies-Jokowi.

Tulisan tentang dunia advertising sendiri baru muncul di paruh kedua buku, yang terdiri dari 40 bab ini.

Beberapa hal yang menarik adalah bukunya almarhum Pepeng, yang dikerjakan selama setahun, dari almarhum masih ada sampai tiadanya. Isi buku tersebut adalah testimoni orang-orang tentang dirinya. 

Ide tentang Kebun Koruptor juga menarik. Kalau ada, saya yakin bisa membuat para koruptor itu malu. Apalagi sambil dikunjungi wisatawan, sambil dilempari kacang. Di depan kandangnya ada berbagai keterangan, dan foto diri. Ketika dia bebas dari kebun, mukanya sudah dikenali warga. Berharap ide ini ada yang menggarapnya. Hehe.

Banyak cerita menarik lainnya. Seperti salesman mobil dan kuburan, yang membuat Om Bud di-skakmat oleh kalimatnya sendiri. Peristiwa fisika sebuah kentut, dan pertemuannya dengan dua perempuan dalam lift. Atau creative attitude kids zaman now di dunia advertising.

Lalu adakah tips menulis copywriting seperti yang saya harapkan di awal membaca?

Copywriting itu ibarat pertandingan. Dan menulis di blog atau media sosial adalah latihan. Bagaimana mungkin kita bisa memenangkan pertandingan tanpa latihan? Kecuali itu adalah keberuntungan?

Dan buku Copywriter is Dead, saya lihat sebagai salah satu bentuk latihan Om Bud, sebelum menuju pertandingan sebenarnya. Dan hanya dari latihan saja sudah berbuah buku. Apalagi pertandingan aslinya?