NGOPREK BUKU: Bukan Buku Agama Bukan Resep Masakan

Ngoprek buku ala Oksand

NGOPREK BUKU: Bukan Buku Agama Bukan Resep Masakan

NGOPREK BUKU

Judul: Bukan Buku Agama Bukan Resep Masakan

Penerbit: DIVA Press

Penulis: Kang Maman (Maman Suherman)

Cetakan ke-1, April 2020

288 halaman, 14 x 20 cm

Saya, kalau mau tahu isi pikiran penulis, dengan cara baca karya nonfiksinya.

Buku Kang Maman yang katanya bukan buku agama dan bukan resep makanan ini, memang bukan. Jauh dari itu.

Menurut saya sebenarnya buku ini adalah fotografi, tapi dalam bentuk tulisan. Kang Maman sebagai pegiat literasi banyak memotret kejadian sehari-hari di jalanan. Baik yang dilihat oleh matanya, maupun mata jurnalis koran dan televisi.

Dia mengomentari banyak hal. Tentang kriminalitas, tentang KPK, tentang bapak, sahabat, prostitusi, hoaks, Indonesia, penulis, dan topik-topik lain. Acak. Tergantung hari dia melihat momennya.

Dan tidak hanya tulisan opini -- yang dihasilkan dari matanya, lalu lari ke otak, kemudian berjalan melalui hidupnya sejak 1965-- tapi setelahnya ada juga puisi. Yang kadang saya mengerti, kadang tidak.

Dari dulu saya memang sulit menafsirkan puisi. Baru terang setelah ada yang membedahnya. Seperti Joko Pinurbo yang menafsirkan puisinya Sapardi Djoko Damono. Atau Budiman Hakim yang menafsirkan puisi "Aku" milik Chairil Anwar.

Tapi saya suka membacanya. Penuh rima. Seperti yang kita pelajari waktu pelajaran bahasa. Ada a-b-a-b. Ada a-a-b-b. Atau a-b-b-a. Banyak variasi. Indah dibaca. Tentu sarat makna bagi penulisnya. Sayang intelektualitas saya masih kurang. Kurang baca.

Iqra itu juga yang banyak diangkat dalam buku ini. Kang Maman mendukung sekali pegiat-pegiat literasi, pejuang baca buku, pasukan taman baca, yang bergerak indie. 

Ada di satu bab Kang Maman menjelaskan tentang literasi di negeri ini. Yang kita adalah negara literatif kedua… dari bawah. Urutan 60 dari 61. Setingkat saja di atas Botswana. Kemudian indeks persepsi korupsi Indonesia skornya 37 dari 100. Denmark skor 90, adalah negara paling literatif ke-4 dunia. Kesimpulannya, ada hubungan antara korupsi dan budaya baca. Menarik.

Favorit saya ada di Bab 34. Tentang Penulis. Hebatnya Kang Maman, yang rendah hati karena kehebatannya itu semata-mata karena kolaborasi, orang-orang baik, sahabat sejati, dan tentu Tuhan. Dari menulis, dia sudah menjalani banyak profesi turunan. Jurnalis, skrip, pemapar makalah, hingga lirik lagu untuk dinyanyikan orang lain.

Dari menulis, pria yang kepalanya sealiran dengan Deddy Corbuzier ini, juga sudah berganti paspor 4 kali. Yang tiket pesawat dan menginap di hotel berbagai negara tidak pernah keluar dari sakunya sendiri. Gara-gara menulis. Ini menjadi motivasi untuk saya pribadi. Bahkan lelaki berkaca mata ini dicandai oleh rekan-rekannya: Haji Abidin -- Haji Atas Biaya Dinas, atau Haji Abu Bakar -- Haji Atas Budi Baik Kantor. Tetap saja haji. Semoga mabrur. Tambahan motivasi lagi.

Dan juga Bab 48 tentang Sahabat. Yang disambung dengan puisi berjudul Bapak. Sahabat sejati akan mengingatkan, jika kita silap. Tidak di tempat umum, seperti komentar di medsos. Tapi DM, japri, atau berkunjung ke rumah. Ada adab dan etika, ada norma yang diperhatikan sahabat sejati.

Saya suka sekali paragraf di Bab 41, halaman 244:

Borges yang dikutip Baez dalam bukunya, "Penghancuran Buku dari Masa ke Masa", mengungkapkan:

"Dari berbagai instrumen manusia, tak syak lagi yang paling mencengangkan adalah BUKU. Yang lain adalah perpanjangan ragamu.

"Mikroskop dan teleskop adalah perpanjangan penglihatan.

"Telepon adalah perpanjangan suara.

"Lalu kita memiliki bajak dan pedang, perpanjangan lengan.

"Namun buku berbeda:

"Buku adalah PERPANJANGAN INGATAN dan imajinasi."

***

Saya bukan tukang review buku. Bukan juga pemberi nilai seperti pada good reads, atau aplikasi di playstore, atau ojek online, yang ini layak diberi bintang berapa, itu berapa bintang.

Cukuplah tulisan di atas sebagai umpan balik dari apa yang saya baca, lalu lari ke otak, kemudian berjalan melalui hidup sejak 1983.