New Normal, Virus, dan Gosip

New Normal, Virus, dan Gosip
New Normal

Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan new normal pada bulan Juni silam sontak disambut gembira oleh seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali di kota kelahiran saya Balikpapan. Suatu hari setelah dua bulan kebijakan new normal, saya baru selesai berbincang-bincang dengan seorang kawan melalui sambungan telpon seluler ketika salah satu putri kembar saya bernama Kekei bertanya," Ma...kenapa anak-anak belum boleh masuk gereja?"

"untuk melindungi anak-anak dari virus covid 19," jawab saya.

"Daripada gereja gak penuh, mending anak-anak dibolehin ke gereja,"ujar Kekei cepat.

"Lho..kamu tahu darimana gereja gak penuh?"saya balik bertanya.

"Kan...tadi mama yang bilang  waktu mama sama teman mama asik gibahin orang-orang gereja ditelpon. Kata mama, orang-orang di gereja lebih berani ke pasar daripada ke gereja, makanya Ma...lain kali kalo mau bergibah ria suara musti berbisik-bisik,"balas Kekei sengit.

Batin saya,"duhhh Gusti ini anak umur 9 tahun dapat darimana kata gibah." 

Kekei lantas melanjutkan,"Mama kan bilang, digereja itu gak ada virus, yang ada cuman virus gosip. Kalo gitu berarti anak-anak aman ke gereja karena virus gosip hanya menyerang orang dewasa,"lanjut Kekei.

Dan saya pun tertawa lepas tapi otak saya membenarkan ucapannya. Lain kali jika hendak bergibah ria saya harus pastikan Kekei tidak disekitar atau dia bakal copas kata-kata saya dengan kecepatan cahaya.