Natal yang Berbeda

Natal yang Berbeda

NATAL YANG BERBEDA

Gerbang rumah besar itu terbuka lebar, seperti menunggu rombongan yang datang. Sejak pandemi melanda dunia, gerbang rumah besar itu jarang sekali terbuka. Hampir setiap waktu tertutup rapat, bahkan bilapun terbuka selalu akan tertutup kembali dengan cepat.

Benar saja ada dua mobil hitam besar memasuki halaman, tak berapa lama turun beberapa orang dengan bergegas masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Semua barang diturunkan dan ditaruh di teras samping, tergeletak meminta untuk disemprot agar steril. Itulah syarat agar tas dan semua barang bawaan itu bisa masuk ke dalam rumah besar.

Tak ada penyambutan seperti biasanya, tak ada pelukan sebagai ucapan selamat datang di rumah, semua bersembunyi entah di dalam ruang masing-masing. Hanya getar bahagia saat mendengar deru mobil yang datang, berarti rombongan saudara sudah datang.

"Halooo! Abang sudah datang! Kalian di mana?" teriak Abang Rio sambil membuka pintu.

"Halooo Abang! Selamat datang. Langsung ke kamar atas ya, sudah Nina siapkan semua di atas. Kita jumpa besok, sekarang isolasi mandiri dulu, ya." Nina berdiri di depan pintu kamar sambil tertawa melihat Abang dan keluarganya memasuki rumah.

"Haiii Shereen, Tante kangen. Besok Tante cium ya, sayang," lanjutnya menyapa keponakannya yang lucu.

"Kak Rima, termos air panas ada di meja depan kamar ya, Kak. Silakan menikmati hidangan dan selamat beristirahat," sapanya ramah pada kakak iparnya yang berjalan di belakang dengan menenteng tas koper.

Begitulah cara mereka menyambut keluarga yang datang. Tahun ini benar-benar berbeda, bahkan semua yang datang di hari pertamannya harus bersedia mendekam di lantai atas rumah itu untuk isolasi mandiri.
Sajian makan malam akan diantar hanya sebatas tangga paling atas, ditaruh di meja dekat tangga lalu si pengantar akan turun dan berteriak mengatakan bahwa sajian sudah siap.

Di dalam kamar utama yang menghadap balkon, Oma duduk sambil mengamati tiap mobil yang masuk, memastikan pintu gerbang tertutup kembali. Walau hatinya bahagia melihat anak, menantu dan cucunya satu persatu berdatangan untuk berkumpul merayakan natal, ada rasa sedih karena Oma tidak bisa memeluk dan mencium mereka satu persatu seperti biasanya.

Pintu perlahan terbuka, muncul Mbak Sari dengan nampan penuh berisi buah dan jus sayur untuk Oma.

"Oma ... ini buahnya, jus sayur hari ini cuma ada sawi putih, timun, dan wortel. Besok saya ke pasar belanja ya, Oma," tuturnya ramah.

"Yo wes, apa adanya aja. Besok jangan lupa beli bengkuang, ya, Sar," balas Oma tanpa beranjak dari tempatnya duduk.
 
"Sudah kamu siapkan makan malam buat penghuni kamar atas? Jangan sampai terlambat, ya? Kasihan mereka baru perjalanan jauh," lanjut Oma sambil tersenyum.

"Sampun Oma, sudah beres semua. Malam ini saya buat soto betawi biar anget badannya. Wedang jahe juga sudah saya siapkan, sama cemilan getuk singkong kesukaan Non Rima," ujar Sari sambil beberes piring dan gelas kotor di kamar Oma.

"Tinggal Wulan yang belum sampai, dari Solo dia habis pulang kerja katanya. Duh, itu anak paling dekat tapi paling terakhir datang," gerutu Oma sambil melihat ke jalan.

"Lha, justru begitu biasanya yang dekat yang paling santai. Tapi tadi kue kering pesanan Mbak Wulan sudah sampai dianter kurir, kayanya pesan sama toko langganan yang di daerah Kranggan itu lho, Oma," penjelasan Sari membuat Oma tersenyum.

"Yo wes, nanti kalau selo atur semua kuenya dalam toples, ya. Bilang Nina pakai toples kristal biasanya. Aku juga nanti mau icip soto ya, di meja makan aja. Nanti kalau Wulan datang suruh mandi bersih, terus naik ke atas. Kamar dia yang paling ujung." Ucapan Oma adalah perintah dan semua akan patuh pada perintahnya.

Sambil menikmati jus buahnya, Oma
melanjutkan membaca. Beginilah kesibukan di rumah besar itu menjelang Natal. Tetapi sudah lama bahkan Oma sendiri sudah lupa sejak kapan dia mempercayakan semua keperluan menjelang Natal pada Sari, pembantu rumah yang sudah setia membantunya dari anak itu masih gadis.

Sari ada di rumah itu sejak anak-anaknya masih kecil. Bahkan sejak Nina masih belum bisa berjalan, Sarilah yang menjadi pengasuhnya. Sari adalah anak desa yang dibawa Pak Tarjo tukang kebun serabutan yang sering dipanggil Oma untuk membersihkan taman dan memberi pupuk. Sari gadis manis, pemalu, dan pendiam itu datang dengan sangat sederhana. Bersedia bekerja di rumah besar ini, mengasuh Nina dan membantu membersihkan rumah. Sari cukup pintar dan pandai walau dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP. Alih-alih ia membantu orang tuanya bekerja di kota sebagai pembantu rumah tangga.

Tak perlu waktu lama membuat Sari memahami apa yang menjadi tugasnya dan apa yang menjadi kewajibannya. Anak-anak sangat nyaman bermain bersama Sari. Hingga Oma yang waktu itu masih aktif dengan urusan sosialnya, merasa nyaman dan aman meninggalkan anak-anak dalam asuhan Sari.

Sudah lama Sari mengambil alih urusan dapur. Sejak Nina beranjak dewasa dan tidak perlu pengawasan Sari, maka tugas dan tanggung jawab Sari bergeser menjadi sepenuhnya di dapur. Oma sudah tidak perlu lagi mengatur menu untuk makan sehari-hari. Sari sudah cukup paham apa yang diinginkan majikannya, terlebih sepeninggal Opa untuk selamanya, dan Mas Rio pindah bekerja di kota Semarang bersama keluarganya, serta mbak Wulan juga bekerja di kota Solo. Yang tinggal di rumah besar itu hanya Nina yang masih kuliah, Oma yang sudah beranjak sepuh hingga aktivitasnya sebatas urusan gereja dan komplek perumahan, Sari sebagai kepala pembantu, Agus suami Sari sebagai supir dan penjaga rumah serta tukang kebun yang semua tinggal di rumah besar itu.

Sudah hampir 3 kali Natal, Sari dipercaya memasak hidangan Natal untuk keluarga besar. Beberapa paket bingkisan Natal untuk sahabat dan kerabat juga dimasak oleh Sari, terutama ayam kodok spesial yang rasanya sangat mirip dengan buatan Oma. Bahkan hiasan untuk hantarannya pun Sari sudah mahir, hingga Oma sudah bisa tersenyum melihat hidangan Natal yang dimasak Sari untuk keluarganya.

Oma cuma berucap apa saja menu yang ia mau, maka Sari langsung akan mengeksekusinya menjadi hidangan siap santap. Butuh kepercayaan yang sangat bagi Oma menyerahkan urusan makanan pada Sari, tetapi seiring berlalunya waktu Oma semakin menyayangi Sari. Ia merasa bahwa gadis desa yang dulu datang ke rumahnya itu sudah menjadi wanita dewasa berkarakter yang bisa dipercaya.

*****

"Ini sambal dan jeruk nipisnya Oma, jangan terlalu banyak soalnya sambalnya pedas," ujar Sari sambil mendekatkan mangkuk kecil berisi jeruk nipis dan sambal ke depan Oma.

"Non Nina ini kerupuk udangnya, kalau emping belum digoreng. Besok aja ya?" tanya Sari pada Nina yang sedang menyendok soto ke mangkuknya.

"Oke, Bos. Gak masalah, yang penting ada yang kriuk," sahut Nina sambil tertawa.

"Untuk yang di atas sudah kamu antarkan? Lengkap kan? Gak ada yang lupa?" tanya Oma pada Sari.

"Sampun, beres. Semua porsi jumbo buat yang di atas," sahut Sari tertawa.

"Agus sudah kamu kasihkan juga, kan?" tanya Oma kemudian ikut tertawa.

"Lha sampun kalau yang itu, paling lagi makan di dapur," jawab Sari.

"Naah gitu dong, jadi istri setia jangan lupa suami. Ntar mas Agus kurus lho, kalau telat makan." Nina menimpali sambil terkekeh.

Mereka semua tertawa mendengar komentar Nina yang lucu.

"Besok menunya apa saja? Kamu gak lupa kan, bikin ayam kodok? Buat saus jamurnya yang segar ya, aku gak suka kalau jamur kaleng suka kecut," tutur Oma pada Sari.

"Beres Oma, ada ayam kodok dua, saus jamur dan saus keju kesukaan Shereen. Ada ayam pop, ada cap cay sayur, ada sop udang kesukaan Abang Rio, dan saya buat sambal dabu-dabu dan acar," sahut Sari.

"Semua saya siapkan besok malam, sehabis pulang misa sudah bisa dinikmati bersama," tambahnya.

"Kita misa di rumah lho, gak bisa ke gereja. Nanti tolong siapkan di ruang keluarga ya, kursinya. Peralatan untuk zoom dari gereja nanti biar Nina dan Abang besok yang urus," sahut Nina.

"Ya Allah, lupa. Untung diingatkan kalau tahun ini misa dari rumah. Mbak Sari  lupa kirain pada ke gereja," sahut Sari sambil menepuk jidatnya.

"Nah kan ... sampai lupa kalau tahun ini istimewa, ya? Tak apa yang penting bisa kumpul semua biar dari rumah gak apa," ujar Oma menenangkan.

Maka semua persiapan menjelang malam natal dikerjakan dengan suka cita. Setelah masa karantina mandiri usai maka riuh di rumah besar kembali terdengar.

Keluarga berkumpul bersama, tak ada yang terlewatkan tanpa tawa canda.
Pohon Natal besar sudah dipasang lengkap dengan lampu, pernak-pernik yang digantung, salju buatan yang dipasang di sekelilingnya, kado-kado natal sudah ditaruh di bawah pohon Natal besar itu. Semua menaruh kado spesial mereka untuk semua orang di rumah ini. 

Tahun ini Mbak Wulan membeli hiasan kereta Natal lengkap dengan rusa dan santa yang menarik kereta, jadi di atas kereta mainan itu bisa ditaruh beberapa kado sebagai hiasan.

Rumah sudah bersih, jendela dan pintu dibuka lebar sebagai pertanda mereka siap menerima berkat yang datang ke rumah. Lagu rohani terdengar sepanjang hari, semua merasakan kedamaian yang menyusup dalam hati. 

Di dapur Sari sibuk menjahit kulit ayam kodok dengan sangat teliti seolah sajian spesial ini harus rapi tanpa cacat. Di kompor tampak panci berisi saus jamur mendidih, uapnya menyeruak menyusup ke hidung semua orang di rumah.

Tetapi seperti kebiasaan mereka, tak ada yang berani mendekati dapur kecuali Oma. Itu adalah peraturan yang tidak tertulis karena hanya akan menggangu juru masak saat menyiapkan menu makan malam mereka.

"Mbak Sariiii, wangi banget siih bikin lapar!" teriak Mbak Rima dari ruang makan yang tak jauh dari dapur.

"Sabar, nanti malam baru bisa dinikmati, ini ayamnya masih dijahit," sahut Sari bahagia masakannya disanjung.

"Mbak Sari ... pliis aku laper," sahut Wulan merajuk manja dari ruang tengah, tampak sedang mengatur kue dalam toples bersama Nina.

"Tunggu ya sayangku, semuanya ... ini masakan keramat jadi gak boleh dicicip sebelum waktunya," sahut Sari sambil tertawa.

"Mbak Sari peliiiiiiit!" teriak Nina dan Wulan berbarengan yang kemudian disambut tawa mereka semua.

Oma yang duduk di ruang makan sambil memotong buah untuk salad ikut tertawa melihat tingkah mereka.

"Jangan kasih icip mereka ya, Sari. Biar mereka menunggu waktunya baru bisa merasakan ayam kodok buatan chef andal," goda Oma sambil tertawa.

"Siap Oma, laksanakan!" sahut Sari dari dapur.

*****

Semua berkumpul di ruang keluarga, menghadap layar laptop yang disambungkan dengan televisi besar. Oma duduk paling depan didampingi Abang Rio, lalu di baris kedua ada Mbak Rima dan Mbak Wulan, di baris ketiga ada Nina dan Shereen yang duduk tenang dengan pakaian yang sudah mereka siapkan untuk misa natal secara virtual kali ini.

Dengan khusyuk mereka mendengarkan khotbah Romo dari gereja, dengan penuh suka cita mengucapkan kata amin tiap Romo mengakhiri doanya, memejamkan mata dengan tangan terkatup di depan dada. Semua berusaha khusyuk dengan doa yang terucap masing-masing dalam hati.

Selesai sudah misa virtual mereka, lalu mereka saling bersalaman mengucapkan selamat Natal. Terakhir muncullah Sari dan Agus dari dapur juga dengan pakaian bersih dan rapi menghampiri mereka, mengucapkan selamat Natal pada semua majikannya yang sedang merayakan Natal.

Pelukan hangat dari semua pada Sari dan Agus, keduanya adalah bagian penting dalam keluarga ini, tak lupa ucapan terima kasih pada mereka berdua yang sudah setia menjaga orang tua dan adik mereka, terlebih mereka berdua memiliki keyakinan berbeda.

Puluhan tahun hidup berdampingan tanpa sekat, tak pernah ada gesekan apapun bahkan keeratan kasih mereka sudah teruji oleh banyak peristiwa.

Sari dan Agus bebas menjalankan ibadah sesuai agamanya, bebas berpuasa dan menjalankan sholat lima waktu. Bahkan bila bulan Ramadhan, Sari dan Agus bisa menjalankan ibadah tanpa beban karena setiap bulan Ramadhan, Oma akan menyuruh mereka istirahat menjelang buka puasa, memberi ijin sholat tarawih di masjid komplek, dan berbahagia merayakan hari raya Idul Fitri dengan banyak hadiah dari setiap anak-anak serta Oma. Mereka mendapat kiriman THR dari Abang Rio dan Mbak Wulan, serta baju baru dari Oma dan bingkisan parsel istimewa dari Nina. 

Begitupun pada hari Natal, akan banyak hadiah untuk mereka karena di bawah pohon Natal pasti ada kado yang disiapkan untuk Sari dan Agus. Merekapun akan dilibatkan saat acara buka kado bersama, bahkan tiap makan bersama di malam Natal selalu ada kursi di meja makan untuk Sari dan Agus.
Tak ada sekat, tak ada ruang terpisah untuk mereka berdua, di hati maupun di rumah besar ini.

Semua begitu saling menghormati keyakinan masing-masing, semua melebur dalam kasih yang tak mampu mengoyak iman setiap orang dalam rumah ini. Yang ada justru toleransi yang tinggi dan mewujudkannya dengan cinta kasih.

"Tuhan, berkatilah kami semua yang berkumpul di meja makan ini, berkatilah semua rejeki makanan yang tersaji untuk kami. Tuhan di hari bahagia ini kami berkumpul atas namaMu, doa kami menjadi keluarga yang selalu penuh kasih sepertiMu. Berikan kesehatan untuk Ibu kami, menjaganya dalam keimanan, berikan kesehatan juga untuk saya dan keluarga juga pada gadis kecil kami, berikan kesehatan dan jodoh terbaik yang seiman untuk Wulan atas namaMu, berikan pula kelancaran dalam studi Nina serta mudahkan untuk mendapat pekerjaan, berikan kemudahan untuk Mbak Sari dan Mas Agus mendapatkan keturunan sebagai pengikat cinta kasih mereka. Berkahilah kami Tuhan, atas semua yang kau berikan pada kami semua. Amin," ujar Abang Rio memimpin doa bersama di meja makan.

"Amin." Doa itu disambut bersama oleh semua keluarga yang ada.

Indahnya malam Natal kali ini, syahdu dan khusyuk walau berbeda dari tahun sebelumnya.

Tak ada misa di gereja, tak ada kunjungan keluarga dan tetangga ke rumah, tak ada pula liburan Natal ke tempat wisata juga pusat perbelanjaan. Semua dirayakan dengan suka cita di rumah. Saatnya berkumpul dengan  keluarga, sepanjang hari di rumah.

Makanan yang disiapkan Sari ludes tak tersisa, semua menyanjung lezatnya masakan Sari termasuk Oma yang tersenyum bahagia, merasa berhasil membuat Sari menjadi koki keluarga yang andal. Sari malam ini menjadi bintang, karena tak ada cela untuk rasa masakannya.

"Saatnya membuka hadiah untuk semua."

"Horeee!" teriak semua dan berkumpul di ruang tengah di bawah pohon Natal besar.

Semua membuka kado, tergesa dengan hati berdebar dan diakhiri tawa.

"Oma mendapat Syal dan Sweter rajut, warnanya cantik sekali. Terima kasih, ya," ujar Oma bahagia.

"Shereen dapat topi penyihir dan tas cantik, ada kaus tangan pink juga, asiik!" teriak Shereen bahagia karena sejak lama menginginkan topi penyihir ala film kartun.

"Yuhuuuy aku dapat tas kerja! Iihh suka banget warnanya. Eeh, ada baju kaos juga, terima kasih ya" ujar Wulan.

"Naahh kan, ada kulot dan baju tidur lembut banget.  Ini siihh ... ngerti aja aku lagi pengen baju tidur baru," ucap Mbak Rima tertawa bahagia sambil membentangkan baju tidur dengan warna biru laut kesukaannya.

"Naah pinter, kali ini aku dapat kemeja, dan set peralatan berkebun. Aku kira dasi lagi kayak tahun kemarin," sahut Abang Rio dari tempat duduknya dan disambut tawa semua orang.

"Waaah tas laptop, dan sepatu gunung. Terima kasih Tuhan, doaku Kau kabulkan," ucap Nina sambil menari bahagia dan disambut tawa semua yang melihatnya.

"Alhamdulillah seprai dan selimut lembut banget ... terima kasih, ya" ujar Sari sambil memeluk kado yang didapatnya.

"Duh gusti, saya dapat jaket bagus banget," ujar Agus bahagia.

Semua masih takjub dan bahagia melihat hadiah yang didapat masing-masing.
Dari tempat duduknya, Abang mengambil kotak yang berada di meja lalu memberikan pada Oma.

"Tahun ini kita harus bersyukur, selain kita bisa berkumpul bersama di tengah pandemi yang melanda dunia, kita bisa merayakan Natal bersama. Dan yang utama kita semua diberikan kesehatan oleh Tuhan. Sebagai ucapan terima kasih oleh Oma dan anak-anak pada Sari dan Agus yang sudah setia puluhan tahun menemani kita di sini, menjaga Oma dan Nina dengan tanggung jawab, masak untuk kami semua dan yang utama bersedia menjadi bagian keluarga besar kita. Sari dan Agus terimalah hadiah dari kami semua. Terima kasih untuk kesetiaannya pada kami. Semoga pandemi segera berlalu dan kalian berdua bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk. Jangan lupa, nanti di sana doakan kami semua ya," ujar Oma sambil menyerahkan kotak itu pada Sari.

Sari dan Agus yang masih tercengang menerima kotak pemberian Oma dan membukanya dengan tangan bergetar. Setelah dibacanya dengan perlahan maka tumpahlah air mata suami istri itu. Sambil berpelukan dibacanya kembali kertas itu oleh mereka dengan bibir bergetar.

Tiket Umroh ke tanah suci Mekkah atas nama Agus Sunarto dan Sarimah.

"Ya Allah gusti, Alhamdulillah, Pak ... kita bisa Umroh." 

"Terima kasih, Oma, Bang Rio , Mbak Rima, Mbak Wulan, Mbak Nina, cah Ayu Shereen," ucapnya sambil menangis bahagia.

Nina spontan memeluk Sari kemudian ikut menangis haru. Semua pun ikut terharu melihat adegan itu.

Natal kali ini adalah cerita indah tentang perbedaan yang diselimuti cinta kasih. Selamat Natal untuk semua.