NAMAKU YOYO

NAMAKU YOYO

Membuat buku memang tidak mudah. Bukan hanya menuliskannya. Ada banyak halangan lainnya. Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman menerbitkan buku yang yang saya tulis. Begini ceritanya.

Kontrak sudah ditandatangani dengan penerbit mainstream. Waktu sudah disepakati selama dua tahun. Masa penantian dijalani dengan deg-degan. Hari demi hari berlalu. Namun buku tersebut belum juga diterbitkan. Entah apa sebabnya. Akhirnya dua tahun berlalu. Masa kontrak pun terlewati. Lalu saya pun putus asa. Mungkin impian menerbitkan buku hanya cita-ciita semu. Sedih rasanya. 

Untungnya Tuhan itu memang ada. Dia mengirim seorang malaikat pada saya. Namanya Budiman Hakim. Dia guru menulis saya di Kelas Penulisan, The Writers, Batch 1. Mas Bud datang menawarkan alternatif untuk mencetak buku saya melalui penerbitan indie. Saya yang sudah terlanjur kecewa, tak ada gairah menyambut tawarannya.

"Aku sudah terlalu malas untuk mengurusnya, Mas Bud." kata saya tanpa antusias.

"Okay! Gini, deh! Kasih ke gue naskah buku lo itu. Biar semua gue yang urus." jawab Sang Guru tersenyum.

Dan hari ini, saya mendapat kabar bahwa buku tersebut telah siap cetak. Dummy sudah dikirimkan ke saya. Dan saya bahagia. Memandang  dan menimang buku tesebut rasanya seperti baru melahirkan anak. Kebahagiannya tidak sama. Tapi serupa. Intinya saya sangat bersuka cita. Terima kasih juga buat Mas Andung dan penerbit Bravebook Publisher yang telah membuat impian ini menjadi nyata.

Judul buku saya "Namaku Yoyo." Sebagian ceritanya sudah pernah saya tulis di FB dan di website The Writers. Lebih dari separoh, saya tidak berani menuliskannya. Karena sebagian orang mungkin akan menganggapnya terlalu "horor.' Saya tidak mau mengundang polemik. Jadi silakan dibaca saja bukunya.

Terima kasih Mas Andung. Terima kasih, Mas Bud. Terima kasih, Tuhan.