NAMAKU KUOTA

Tidak semua orang mampu untuk komunikasi via online. Salah satu penghalang bernama KUOTA. Meskipun dibenci, Ia juga sangat dirindu.

NAMAKU KUOTA

Setiap Pagi Aku mendengar riuh rendah suara Anak-anak sekolah bermain. Biasanya, Aku sempatkan untuk mengintip keceriaan Anak-anak tersebut sesaat sebelum Mereka kembali ke Kelas. Yaaa, sekedar untuk mendapatkan energi.

Tiba-tiba Pandanganku terhalang oleh sebuah kenderaan yang baru tiba dan persis membelakangiku. Terlihat seorang Anak turun terburu-buru untuk bergabung ke beberapa temannya yang sedang bermain, seakan Ia tidak peduli dengan Ibunya yang menguntit dari belakang.

Dari sudut lain seorang Ibu sedang sibuk membujuk Anaknya yang ngambek ke sekolah. Sambil menangis Anak tersebut berjalan terseret menandakan Ia kurang mood hari ini. Namanya anak-anak, ketika temannya datang menghampiri dan berusaha menghibur, Ia langsung ceria dan melupakan apa yang baru terjadi. Itulah Mereka, Anak-anak yang berada dijenjang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan berusia antara 3-5 Tahun.

Pagi ini adalah Minggu ke 35 Aku menanti suara Anak-anak tersebut. Seolah ada yang hilang dari diriku tatkala suara ceria, tangis, debat, teriakan anak-anak itu hilang. Terkadang tanpa sadar Aku menoleh dari balik jendela berharap semoga pagi ini ada suara riuh rendah itu. Aku rindu suara itu.......!

Yaaa, Pandemi Covid 19 memaksa anak-anak tersebut belajar dari rumah. Awalnya, banyak suara antara pro dan kontra terhadap keputusan sekolah untuk memutuskan belajar dari rumah. Ada yang beralasan khawatir anaknya jadi banyak bermain, maen HP melulu, anaknya protes pengen ke sekolah hingga sedikit mengancam akan pindah bila tidak ada kegiatan offline.

Dari Rapat antara orangtua dan Guru, diputuskan belajar online. Metoda belajarnya dengan melibatkan orangtua sebagai pendamping yang bertugas untuk menggantikan sebahagian peran guru. Proses belajarnya dikirim via WAG dalam bentuk video dan hasilnya akan langsung direspon oleh Sang Guru.

Selesai? Belooooon!

Guru akan mengkompulir dan mengedit semua video, hasilnya dikirim kembali ke WAG untuk dilihat oleh orang tua murid. Metoda ini ternyata efektif untuk memotivasi anak dan orangtua, sehingga terbangun kerja sama yang apik. Begitu ceritaku kepada seorang teman, saat kami ngobrol ngalor-ngidul via telepon.

“Iya, itu khan ditempatmu. Muridnya mampu dan Gurunya juga digaji” Jawab temanku.

“Emang ga sama dengan ditempatmu” tanyaku sedikit penasaran.

“Di tempatku, PAUDnya memiliki Murid yang kurang mampu dan Gurunya dibayar pake semangat alias seadanya” Temanku menjelaskan lebih rinci.

“Ada cerita yang lebih lucu dan membuatku prihatin!” katanya melanjutkan.

“Maksudnya gimana?” Aku kembali bertanya.

“Tiba-tiba Mereka dapat pengumuman dari Koordinator Pendidikan PAUD dimana para Guru PAUD wajib ikut seminar Online dan bersertifikasi selama 3 Hari. Acaranya dimulai jam 07.00 – 16.00 dan Setiap hari ada 4 sesi dimana disetiap sesi ada satu penyaji”. Temanku mulai bercerita.

“Wow, mendengarkan 12 penyaji dan selama itu?. Efektif ga siiiih!” tanyaku

“Bukan hanya ga efektif, pokoknya hancooorrrrrrrr!” jawabnya serius.

“Bayangin, saking ga percayanya sama Guru, Panitia mengharuskan absen online 4x sehari, video harus dipanteng terus dan dimonitor siapa yang ga aktif”

“Terus masalahnya dimana?” tanyaku ga’mengerti.

“Yaaa, itu dia. Tidak semua Guru PAUD ditempatku punya HP untuk bisa online. Kalaupun ada, selalu digunakan bergantian antara Bu Guru, Suami dan Anak-anaknya. Khan suami dan anaknya juga harus online”.

“Terus gimana dengan biaya Kuotanya. Pihak Pengundang dengan entegnya ngomong nanti diganti. Penuhi dahulu kewajiban baru bicara hak. Gitu katanya”

“Mosok, para Guru harus ngutang dulu. Iya Kalo dibayar dengan Kuota. Kalo dibayar pake PHP, gimana?” Kata temanku tersebut sedikit emosi.

“Diakhir sesi, panitia mengumumkan bahwa semua biaya, sertifikat akan diganti setelah para Guru menshare hasil seminar”.

“Mendengar hal itu, para Guru PAUD tersebut hanya bisa saling berpandangan dengan wajah yang gelisah bercampur panik. Bayangkan! Untuk mengikuti seminar saja, ada Guru yang harus meminjam HP Sodaranya (itupun harus membayar Kuotanya) terus pake ditambah tugas melakukan share menggunakan aplikasi Zoom dengan peserta minimal 10 orang!! Ck….ck…ck luarbiasa!!! Kata Temanku sambil mengakhiri obrolannya.

Aku ikut terbengong-bengong mendengar penjelasannya, hingga membuat Istriku penasaran.

“Ada apa Mas, kok kelihatan bengong?” tanya istriku.

“Cerita temanku tentang perjuangan Guru PAUD yang ikut seminar online” aku menjelaskan.

“Sudah Mas, ga usah dipikirin. Kisah itu bukan di Negara Kita khan?” kata Istriku asal ceplos.

“Eehhh, Iyaaa. Itu dinegara lain Nun jauh disana” Balasku spontan.