My Mood

My Mood
Fotoku setelah berkonsultasi dengan psikiater


       Entah kenapa mood-ku sering kacau setelah mendengar keluh kesah mama. Aku sebenarnya bertanya-tanya, “Kenapa mama yang lain enjoy menjalani hidupnya sedangkan mamaku penuh keluh kesah? Mama yang lain juga bekerja dan mengurus rumah tapi enjoy-enjoy saja menjalaninya”, “Dan apakah boleh anak jadi tempat curhat bagi orang tuanya?”. Karena terus terang, kondisiku belum cukup kuat untuk mendengarkan keluh kesah mama. Tentang lelahnya ia bekerja, tentang masalah kurangnya kerjasama orang di rumah, tentang Papa yang katanya banyak penyakit namun ia menyembunyikan penyakitnya. Seolah-olah hidup keluargaku ini isinya hanya keluhan saja. Diriku ini sudah seperti tong sampah di rumah. Kadang tubuhku mau tumbang kalau dengar cerita yang keluar dari mulut mama. Mengeluh melulu.
      “Itu Papa kau kira sehat? Tidak. Tiap hari minum obat itu, coba pergi lihat botol obatnya di atas meja,”. Mendengar keluh kesah mama, aku jadi merindukan sosok orang tua yang tangguh dan tidak tukang mengeluh kayak mama. Aku berani bilang begini karena tiap kali berbicara dengan mama yang keluar dari mulutnya hanyalah keluhan. Capek lah, tidak ada uang lah, banyak utang lah, dan sederet keluhan lainnya. “Apakah penting seorang anak mengetahui susahnya ekonomi sejak dini?” pikirku. Aku jadi takut menjadi orang dewasa. Dalam benakku, jadi orang dewasa itu menakutkan. Menyeramkan. Banyak susahnya, kerjaannya lebih banyak mengeluh dan buang sampah berupa emosi negatif ke anak-anak.
       Mungkin, saat konsul nanti aku akan bertanya pada psikiater, “Bagaimana caranya agar sabar menghadapi orang tua yang tukang mengeluh? Kayak tidak ada ceria-cerianya ini hidupnya orang tuaku, bagaimana saya mau semangat kalau orang tuaku saja suka mengeluh,”. Jujur, aku menulis ini karena tak mampu membahasakan secara baik apa yang ingin kusampaikan. Aku lebih suka menyampaikannya lewat tulisan. Dengan tulisan, aku bebas memainkan diksi dan majas. Maka dari itulah aku menulis ini agar tulisanku dibaca oleh psikiater yang sedang menanganiku saat ini. Hanya beliau satu-satunya tempatku menyimpan segala unek-unek dengan aman dan terpercaya.
       Aku tipe anak yang suka menyampaikan sesuatu melalui tulisan. Kalau lisan, aku kadang blank dan tidak terstruktur saat berbicara. Selain itu, aku juga tipe anak yang tidak suka dengan hal-hal yang berbau hafalan dan terlalu terstruktur. Aku mudah jenuh dan bosan dengan aktivitas yang monoton dan ‘itu-itu saja’. Kebebasan dalam berekspresi dan berkata-kata sangat membantuku untuk menjadi pribadi yang produktif.
      Back to the topic, aku bingung ingin melakukan apa untuk melihat mama tersenyum. Aku merindukan sosok mama yang ceria, bersemangat, dan enjoy dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selama ini, jujur saja aku jarang melihat mama tersenyum. Mama orangnya datar.
     Tadi, aku baru saja melihat (untuk kesekian kalinya) wajah mama masam. Pas aku tanya kenapa, mama jawab, “Pusing, tidak ada uang,” katanya. Aku sebenarnya ingin melakukan sesuatu untuk mama, tapi tidak tahu apa. Saking banyaknya keluhan mama, mungkin bisa jadi satu cerita. Judulnya “Mamaku Tukang Mengeluh”. Aku sampai berpikir kalau mama juga mungkin lagi depresi dan butuh bantuan profesional karena seringnya mengeluh.
      Di sisi lain, aku merasa resah. Mood-ku kadangkala tidak stabil, namun aku berusaha menyimpannya sendiri. Aku kayaknya tipe anak yang kalau ada masalah harus langsung cari orang buat cerita deh soalnya aku tidak bisa menyimpannya sendiri. Kalau disimpan sendiri pasti akan kusulap menjadi sebuah tulisan. Hahaha.
      Di sisi lain, aku merasa tidak ada yang memahami keadaanku, bahkan aku sendiri pun sulit memahami perasaanku saat ini. Ahir-akhir ini, aku merasakan gejala baru dari mental illness yang kuderita. Aku merasa begitu gembira, bersemangat, banyak ide, banyak pikiran (kalau ini sering sekali). Oh ya, tadi juga aku jalan seharian dengan sahabat SD-ku. Kami jalan bareng dari pagi sampai malam, mulai dari ke pantai losari, makan gado-gado, makan makanan korea, hingga ke mal. Aku mengunjungi tiga tempat makan sekaligus dalam sehari. Saat di mal, aku melihat sepatu yang bagus dan membelinya. Baru kali ini, aku ingin belanja sepatu. Biasanya aku belanja buku atau paling tidak ya jajan makanan. Entah mengapa aku merasa agak boros akhir-akhir ini. Uangku kuhabiskan untuk jajan sana-sini. Aku jadi khawatir, “Jangan-jangan aku bipolar,”. Muncul berbagai tanda tanya dalam benakku, “Apa iya aku sedang manik saat ini?”, “Apakah psikiater sengaja menaikkan dosis obatnya untuk melihat adakah tanda-tanda manik dalam diriku?”.
       Aku masih terjaga di tengah kesunyian malam. Banyaknya ide dalam benak ini membuat aku tidak bisa tidur.  Huaaa, aku belum siap menerima takdir kalau nanti psikiater mendiagnosis aku bipolar. Menurutku, bipolar itu gangguan mood yang cukup berat. Mood orang bipolar sangat fluktuatif bagai pasang surutnya ombak di pantai. Terlebih lagi, penyakit mental illness yang satu ini masih jarang diketahui oleh orang lain. Aku takut orang-orang di sekitar tidak memahami kondisiku atau bahkan menjauhiku gara-gara penyakitku ini. Hiks.
      Aku masih terjaga di tengah kesunyian malam. Aku masih memikirkan keluh kesah mama kepadaku. Mama pusing karena tidak ada dana sementara aku harus konsul dua hari lagi. Dari mama juga aku jadi banyak tau betapa sulitnya hidup ini terutama persoalan rumah tangga. Mama sering cerita tentang kondisi ekonomi keluarga yang sulit, yang sampai harus meminjam uang dan utang kiri kanan. Mama juga cerita kalau Papa tidak bisa diajak kerjasama dan jarang berkomunikasi. Mama juga pernah bilang , “Seharusnya di usia seperti ini kau sudah membantu untuk keluarga,”. Dari sini, secara tidak langsung, aku jadi terbebani. 
       Aku merasa diriku tidak berguna. Aku merasa kosong dan hampa. Pikiranku melayang ke mana-mana. Bukan apanya, pikiranku malah tambah jauh memikirkan, “Bagaimana nanti kalau aku dewasa dan sudah berumah tangga ya? Pasti akan sulit,”. Aku malah berpikir tidak mau menikah karena takut terjadi apa-apa kedepannya. Aku sebenarnya terbebani dengan cerita-cerita mama. Cerita mama tidak ada yang memotivasi, malah makin memperburuk suasana hatiku. Aku jadi overthinking bagaimana kehidupanku di masa yang akan datang. Ya Allah, tolong. Aku sangat bingung apa yang harus kulakukan.
      Aku harap psikiater yang kutempati berobat selama ini dapat membantuku untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar. Tentunya aku berharap bukan hanya kondisiku yang membaik, tapi kondisi keluargaku juga. Sejujurnya, aku tidak kuat mendengarkan curhatan orang dewasa, kadang aku langsung down setelah orang yang lebih tua curhat padaku. Aku sudah jenuh dan bosan jadi tempat sampah mama. Karena aku juga sedang berjuang untuk menghadapi dan menyembuhkan mental illness yang kurasa cukup berat ini, yang tidak semua orang mampu memahami kondisiku, bahkan orang terdekatku sekalipun. Semoga psikiater yang aku tempatku berobat dapat menjalin komunikasi dan berbicara dengan baik kepada kedua orang tuaku dan memberikan pengertian kepada mereka agar orang tuaku mendapatkan pencerahan. Besar harapanku agar orang tuaku mampu menjadi orang tua yang lebih sehat dan berjiwa positif kedepannya. Hanya psikiater satu-satunya tempat curhatku saat ini. 
                                 ***
Setelah psikiaterku berbicara dengan orang tuaku dan berpesan kalau mereka jangan suka mengeluh di depan anak, aku jadi merasa lega. Ternyata, semua masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, meskipun aku menggunakan perantara psikiater untuk membicarakan masalah ini. Karena aku berani untuk berkonsultasi dengan psikiater, orang tuaku jadi berubah. Mereka lebih sabar dan tidak lagi suka mengeluh. Mereka terus memperbaiki diri untuk anak-anaknya. Sekian dulu ya tulisanku. Salam sehat jiwa.