Musyawarah Kupu-kupu

Musyawarah Kupu-kupu
Foto dari Pexels.com

Setelah bunyi "DOK! DOK! DOK!" dari palu yang dipukulkan ke meja,  lahirlah orkestrasi tepuk tangan dan suitan. Nafas lega, salaman,  pelukan dan cium pipi kiri kanan ikut melengkapi.
"Hidup Machiavelli! Terpujilah namamu selamanya !" Gemuruh menggema di gedung parlemen itu.

Selanjutnya televisi dan media on line 24 jam memberitakan, men-talkshow-kan dan membuat tik-tok-annya. Waktu penuh dengan pertunjukan kemesuman yang dihiasi bunga dan pelangi plastik. 

Di halaman yang lain terpampang mata orang-orang tersiram cuka. Baju setrikaan terbakar di samping sekarung beras yang banyak kutunya. 

Hari-hari mereka pun masih mandi keringat dan nanah luka. Menghadapi jaman yang makin kejam. Mata angin perih tertimpa batu. Darah-darah menggumam terseok-seok. Masa depan menjadi permainan serupa perjudian di akhir minggu.

Dan bunyi palu dipukulkan ke meja terus menerus diulang sampai menjadi ritus kematian.

Cilacap, 9 Maret 2020