Ternyata Mudah Jadi Wartawan Media Daring?

Press Release, Wawancara Narasumber, Copas

Ternyata Mudah Jadi Wartawan Media Daring?

.

.

Ada yang menarik dari 4 tautan ini. Empat tautan berita daring. Semua memberitakan hal yang sama. Penerbitan novel perdana Tya Subiakto.

Senin sore, 4 Mei, saya ditelepon Mbak Tya. Meminta bantuan untuk dibuatkan press release. Ada beberapa media daring yang menghubunginya, untuk memuat berita tentang peluncuran novel Panggil Aku Mama, yang akan memasuki masa preorder per 6 Mei. Rabu ini. Tapi wartawan itu meminta press release-nya.

Dalam hati sebenarnya bingung, press release itu isinya apa saja. Saya ingat Soleh Solihun pernah bilang di channel youtube-nya waktu mewawancarai narasumber.

Dia bilang, press release itu dibutuhkan wartawan sebelum acara press conference. Jadi wartawan yang akan datang tidak nol pengetahuannya. Minimal sudah tahu 5W 1H. Sehingga saat konferensi pers mereka bisa bertanya lebih dalam, yang tidak ada dalam press release.

Saya pun berselancar. Mencari cara bagaimana menulis PR. Banyak referensi dari Google.

Dari headline, subheadline, sudah harus menyimpulkan isi PR itu apa. 

Paragraf pertama, memuat hal-hal paling penting. Di sinilah 5W 1H. Apa beritanya, kapan, di mana, siapa, kenapa, dan bagaimana kejadian atau informasi hal dalam berita itu terjadi.

Selanjutnya adalah paragraf pelengkap. Informasi tambahan lainnya.

Senin malam pun saya buat PR-nya. Butuh 1 jam untuk mencari referensi di Google sampai selesai menulisnya. Hanya satu halaman.

Press Release pun dikirim ke Mbak Tya. Langsung oke. Dokumen word dan pdf terkirim.

Lalu hari ini saya mendapatkan tautan beritanya. Ada 4 dari Mbak Tya.

https://ceknricek.com/a/tya-subiakto-rilis-novel-panggil-aku-mama/17613

https://www.liputan6.com/showbiz/read/4246778/rehat-jadi-penata-musik-tya-subiakto-garap-novel-panggil-aku-mama

https://harianpelita.id/tya-subiakto-bikin-novel-family-drama-panggil-aku-mama/

http://bnrnews.id/2020/05/06/komposer-tya-subiakto-bikin-novel-family-drama-panggil-aku-mama/

Lalu apa yang menarik?

Saya baca keempat tautan itu. Dan menemukan redaksi yang mirip, kalau tidak mau dikatakan sama.

Penasaran, saya pun segera kontak penulis novel "Panggil Aku Mama" itu. Bertanya, apakah wartawan itu menghubungi Mbak Tya via telepon atau ketikan whatsapp. Dijawabnya: telepon.

Ini yang menarik sekaligus lucu.

Bagaimana bisa, jika keempat wartawan tadi menelepon Mbak Tya dan bertanya hal yang sama, tentu jawabannya akan sama juga. Tapi belum tentu redaksinya sama persis. Plek ketiplek.

Bisa saja redaksi Mbak Tya sama persis untuk semua pertanyaan yang sama. Tapi apakah mungkin semua wartawan akan menuliskan jawaban dari narasumber dengan kalimat yang sama? Bahkan typo pun sama. Dari 2 tautan, ada typo yang sama persis.

Di sini keanehannya.

Apakah mungkin berita daring yang satu rilis berita, lalu tiga lainnya tinggal copas? Lalu ganti judul dan beberapa foto.

Atau, keempat wartawan semua berteman, lalu berbagi tulisan?

Atau, wartawannya satu, tapi medianya empat?

Kalau ada bagian dari PR yang disalin, itu normal. Karena di paragraf terakhir semua berita daring itu, memuat kalimat yang sama, dengan yang saya buat di PR. 

Teks bertemu teks, mudah untuk copy-paste.

Tapi audio kemudian menjadi teks, biasanya akan ada perbedaan walau satu kata. 

Di luar itu, mudah-mudahan novel PAM bertemu jodohnya dengan para pembaca. Semoga laris dan membawa manfaat serta inspirasi.

Dan di luar itu lagi, sepertinya lebih mudah zaman sekarang untuk menjadi wartawan media daring ya?

Jauh dari bayangan saya bahwa mencari dan menulis berita itu sulit. Karena membaca tulisan Kang Maman dan Pak Dahlan Iskan. Lewat buku-buku mereka. Penuh perjuangan. Sampai-sampai perjuangan mencari berita itu sendiri bisa jadi buku terpisah.

Ah, tapi zaman sekarang sudah serba mudah barangkali. Atau, saya saja yang ribet.

Entahlah.