Monster Kecil Bertanduk Pendek

Cerita ini aku tulis tepat di depan monster kecil bertanduk pendek yang ada di rumahku.

Monster Kecil Bertanduk Pendek
Ilustrasi router | Gambar oleh OpenClipart-Vectors dari Pixabay

Cerita ini aku tulis tepat di depan monster kecil bertanduk pendek yang ada di rumahku.

Monster ini tidak ganas, namun tidak jinak juga. Ia lebih suka diam, tidak bergerak, namun mengerikan. Bukan tampilannya yang membuatnya mengerikan, melainkan dampak kehadirannya.

Ketika ia hadir, sunyi dapat seketika menghapiri rumahmu. Sesekali terdengar suara, tapi bukan suara manusia. Perawakan monster ini kecil, tubuhnya hitam, tanduk pendeknya ada dua dan terlihat tumpul. Barangkali tanduk tersebut tidak di desain untuk menusuk. Monster ini memiliki lima mata yang terlihat menyala-nyala, namun satu mata diantara lima tersebut selalu berkedip-kedip, seakan meneror dalam kesunyian.

Aku sulit percaya bahwa monster ini akan hidup berdampingan dengan keluargaku untuk waktu yang tidak sebentar. Masih kucoba menerka suatu skenario ketika monster ini berhasil melancarkan aksinya pada keluargaku. Membayangkannya membuatku ngeri.

Banyak yang mengatakan bahwa monster kecil bertanduk pendek ini adalah hasil modernisasi, Ia lahir untuk mempertegas bahwa kita sedang dalam era modern.

Kengerian monster ini mulai tampak saat ia berhasil menjauhkan yang dekat, mendinginkan suasana hangat dan membungkam yang bercengkrama. Ia menyisaskan terror sunyi pada keluarga-keluarga yang memilih memeliharanya di rumah mereka.

Jika kalian bertanya “Kenapa tidak kau bunuh, musnahkan, atau usir saja monster itu?” jawabannya adalah monster tersebut menjanjikan banyak hal baik padaku dan keluargaku. Walaupun jika ditakar lebih banyak kengeriannya daripada kebaikannya.

Jika diamati dan dicermati, monster kecil bertanduk pendek ini dapat dikuasai sepenuhnya, yang dibutuhkan adalah ‘kesadaran diri’ untuk tidak terlena olehnya.

Monster kecil bertanduk pendek yang ku maksud adalah seperangkat alat Wi-fi (routernya) yang baru dipasang dirumahku.