Milenial & Turnover

Seni Beradaptasi dengan New Normal

Milenial & Turnover

Judul: Milenial & Turnover

Penerbit: KPG

Penulis: Sony Tan & Maman Suherman

Cetakan ke-1, 2020

XXII + 158 halaman, 13 x 19 cm


 

Dikatakan oleh Sony Tan dalam buku Milenial & Turnover bahwa peneliti dan pengamat di Barat umumnya mengelompokkan generasi berdasarkan tahun kelahiran.

 

Baby Boomer generasi yang lahir di tahun 1945-1960. Generasi X 1961-1980. Generasi Y atau Milenial 1981-2000. Tapi pengelompokan berdasarkan tahun lahir ini enggak cocok untuk kondisi di Indonesia. Pengelompokan seharusnya berdasarkan cara pikir dan cara tindak.

 

Bisa saja seorang kelahiran Gen-X tapi melek betul dengan TikTok, maka ia sebenarnya berperilaku sebagai Milenial. Karena zaman Gen-X lahir, komputer saja baru kenal. Bisa menguasai komputer saja sudah merupakan pencapaian dan target skill yang harus dikuasai.

 

Saya setuju dengan penulis buku ini bahwa Milenial dibagi lagi jadi tiga kelompok. Yaitu Milenial 81 (kelahiran 1981-1987), Milenial 88 (kelahiran 1988-194), dan Milenial 95 (kelahiran 1995-2000). 

 

Milenial 95 adalah Generasi Z. Karakternya berbeda dengan dua kelompok milenial lainnya. Di Indonesia, gen Z ini ada juga yang menyebutnya Generasi Phi. 

 

Saya sebagai Milenial 81, banyak menemukan kecocokan dengan isi buku ini. Sony Tan yang seorang Magister Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya, berdialog dengan Maman Suherman membahas perilaku milenial di tempat kerja.

 

Yang membuat isi buku ini tidak sebagai opini pribadi adalah, di dalamnya juga disertakan hasil FGD (Focus Group Discussion) dengan para milenial. Milenial pun balik bertanya tentang karakter Gen X yang menurut mereka berbeda. Adanya dua sisi opini tersebut membuat pembahasan di buku dengan sampul kuning cerah ini menjadi lebih komprehensif.

 

Dari buku setebal 180 halaman ini, saya setuju dengan dua faktor utama penyebab orang meninggalkan pekerjaan, seperti disebutkan di halaman 24: (1) Hubungan dengan Atasan, dan (2) Komunikasi. Hasil survey DDI 2019 (halaman 62) pun menyebutkan: "57% of people don't quit their jobs. They quit their bosses."

 

Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh para HRD, para atasan, generasi X, dan generasi Milenial. Karena intinya adalah saling memahami karakter masing-masing. 

 

Tapi menurut saya, tidak bisa seorang atasan yang Gen X "menghakimi" karakter Milenial secara seragam. Prototipe. Hanya berdasarkan  baca dari artikel, atau baca dari buku ini. Observasi sesungguhnya adalah pengamatan langsung karakter yang bersangkutan di lapangan. 

 

Atasan harus pandai membaca karakter bawahannya. Entah itu Gen X atau Milenial. Seorang Milenial pun harus cermat membaca karakter di lingkungannya. Karena sifat tidak bisa digeneralisir dari tahun kelahiran saja. Ada banyak faktor sehingga kepribadian seseorang terbentuk seperti apa yang tampak. Ada masa lalu dan lingkungan yang berandil besar dalam pembentukan karakter.

 

Apakah ia seorang introvert? Atau ekstrovert? Seorang yang dominan otak kiri? Atau otak kanan? Seorang sanguin? Atau melankolis? Seorang tipikal leader? Atau follower?

 

Tapi membaca buku ini, adalah seperti katalis, zat yang dapat mempercepat reaksi. Buku ini setidaknya bisa mempercepat seseorang untuk saling memahami karakter lainnya. Lintas generasi. Ditambah observasi lapangan, bagaimana atasan dan bawahan sebenarnya.

 

Ngobrol. Itu yang perlu. Bukan hanya obrolan formal di meja meeting. Milenial suka dengan obrolan santai. Informal. Karena di situ ada suasana yang cair, sehingga keterbukaan akan lebih terjadi.

 

Bawahan mutlak perlu atasan. Atasan pun mutlak perlu bawahan. Tanpa keduanya, akan terlalu terbuka. Telanjang. Nanti disangka gila.