Mereka yang Terus Berjuang Melawan Wabah

Mereka yang Terus Berjuang Melawan Wabah

 

Pariwisata menjadi masalah besar dalam wabah COVID19 di hampir seluruh negara. Jepang sekalipun yang katanya begitu disiplin dan penularannya rendah, kini awut-awutan karena kunjungan turis yang drop jauh . Demikian pula Thailand dan Cook Island

Lebih parah lagi Vietnam. Negara ini langsung pontang-panting setelah sempat membuka kembali Kota Da Nang demi menyelamatkan industri wisatanya yang terjun bebas. Akibatnya tak sampai sebulan, angka positifnya langsung melonjak menjadi 800+ dan 8 orang menjadi korban jiwa.

Adalah Ira Latief, salah satu pegiat tour guide terkenal di Jakarta, yang kemudian mencuri perhatian saya karena ia tetap gigih mempromosikan tempat-tempat menarik se Indonesia melalui tour virtual melalui aplikasi conference bernama Zoom. Akibat kekreatifannya ini, artikelnya diganjar Headline di Kompasiana dan meraih ribuan view.

Namun menyelenggarakan tour seperti ini bukan tanpa tantangan. Ia menyatakan harus bergelut dengan koneksi buruk dan kualitas device yang kurang mumpuni, sehingga kadang hasilnya kurang bisa dinikmati turis online.

Ditanya mengenai pariwisata kini dan sebelum wabah, ia mengakui ada perubahan yang cukup besar, terutama mengenai potensi pendapatan. Efeknya cukup membuat miris.

“Lumayanlah, kalo kondisi normal bisa dapat diatas dua digit sebulan. Sekarang dapat di bawah Rp 5 juta sebulan pun juga bersyukur banget,” keluhnya, sekaligus juga memberikan petunjuk bahwa tour digital pun ternyata bisa mendatangkan penghasilan.

Ia merindukan kondisi pariwisata sebelum wabah. Sekaligus menyatakan sebenarnya saat ini pun sudah jauh lebih longgar karena masuk status #NewNormal. Tapi ia mengingatkan bahwa dalam kondisi sekarang pun, harusnya protokol kesehatan dipatuhi banyak orang.

Menurutnya, ada faktor psikologis yang membuat pariwisata yang sudah terhambat oleh pembatasan, jadi semakin sepi. “ Memang orang masih banyak yang takut.. lagian ribet juga mau liburan tapi harus tes ini itu. Belum lagi harus karantina!” katanya menjelaskan.

Namun saya percaya orang-orang kreatif luar biasa seperti Ira Lathief tidak menjadikan ini sebagai hambatan. Ia justru mengolah banyak keluhannya menjadi lelucon yang bisa dinikmati, alias menjadikannya blessing in disguise. Ia juga bersyukur masih bisa menemukan solusi ketimbang rekan-rekan seprofesinya yang banyak sama sekali mengandangkan diri.

Ira Lathief termasuk tour guide yang masih bisa menghela nafas lega karena masih bisa menutupi kekurangan biaya hidupnya dengan berjualan makanan dan menulis. “Kalo gue sih ada kan jualan martabak dan nulis. Kalau kebanyakan tour guide mah ga ada,” katanya dengan prihatin.

Indonesia bagaimanapun secara ekonomi tetap terdampak wabah COVID19, walaupun tidak separah negara-negara Asia lainnya.

Namun itu bukanlah sebuah excuse untuk meremehkan. Sebab pengumuman dari BPS telah memperlihatkan bahwa saat ini hanya pertanian dan teknologi komunikasi yang masih survive dengan pertumbuhan positi, sementara bidang-bidang lainnya hancur berantakan. Secara umum, pertumbuhan ekonomi kita minus 5,32 persen, sebuah kenyataan yang harus segera dicari pemecahannya.

Pariwisata termasuk penderita terburuk bersama sektor transportasi. Semoga kali ini menteri-menteri yang ada bisa kompak bekerja dan lebih sigap sehingga Pak Jokowi tidak perlu lagi membocorkan video rapat koordinasi yang mengungkapkan kemarahannya.

Amin!