Menyudahi Diskriminasi Linguistik Terhadap Masyarakat Tuli

Memiliki perbedaan cara berkomunikasi tidak berarti harus diminoritaskan

Menyudahi Diskriminasi Linguistik Terhadap Masyarakat Tuli

Bicara soal keterlibatan komunikasi dalam berbagai macam kompleksitas relasi manusia memang tidak ada habisnya. Pun jika itu adalah relasi bisnis, percintaan, rumah tangga, pertemanan, dan lainnya yang jelas berbeda, komunikasi tetap menjadi unsur paten yang pasti akan ada dalam setiap hubungan, entah itu yang sifatnya mempererat, memperbaiki, atau bahkan bisa menjadi bumerang sekalipun. Ya, maka mungkin dari situ kita tidak akan pernah merasa asing dengan wejangan bahwa di dalam sebuah hubungan harus ada komunikasi yang baik dan saling pengertian.

Paul Watzlawick menekankan bahwa "We cannot not communicate", setiap orang tanpa terkecuali memerlukan komunikasi. Menurutnya komunikasi akan terus terjadi sepanjang waktu, terlepas dari apapun itu bentuk kemajuan teknologi yang manusia ciptakan, komunikasi akan tetap menjadi bagian paling penting dalam hidup mereka. Maka dari itu keperluan berinteraksi dan bersosialisasi antar kelompok masyarakat tidak akan pernah bisa dihindari, meskipun pada dasarnya komunikasi juga dapat mencakup banyak masalah seperti menimbulkan asumsi, kesalahpahaman, dan informasi yang ambigu, namun bagian-bagian itu tentu tidak mungkin tidak dapat terselesaikan dengan komunikasi yang baik dan satu suara.

 

Anggapan komunikasi sulit dilakukan dengan orang tuli

Manusia sebetulnya memiliki banyak keragaman cara dalam berkomunikasi dan menyelesaikan masalah, sekalipun jika itu melibatkan masyarakat berkebutuhan khusus seperti penyandang tuli, komunikasi seharusnya tetap bisa dilakukan secara seimbang dengan memanfaatkan akses-akses khusus. Namun sayangnya sejak lampau, penyelesaian atas diskriminasi linguistik dan penghakiman secara tidak langsung pada masyarakat tuli di negara kita masih belum ditemui titik terangnya. Kebanyakan dari kita juga mungkin lebih memilih untuk tutup mata dengan keberadaan mereka, bisa jadi karena kita takut tidak bisa berkomunikasi atau menyinggung lawan bicara yang tidak dapat berinteraksi dengan normal seperti masyarakat pada umumnya. Padahal sudah sejak lama komunitas tuli mengkampanyekan kesetaraaan antara masyarakat dengar dan masyarakat tuli, mengapa kita harus takut dan malu padahal mereka ingin keterbukaan komunikasi sebagai sesama manusia.

Seseorang dengan gangguan pendengaran bukan berarti mengabaikan kita. Telinga mereka mungkin tidak berfungsi dengan baik tetapi sisanya seperti kesopanan, kecerdasan, dan sebagainya sama seperti kita dan masyarakat lainnya. Kita sebagai masyarakat yang bijak pasti bisa mengambil sudut pandang yang lebih positif bahwasanya kehilangan pendengaran bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan lelucon, untuk ditertawakan, untuk membuat jengkel, atau untuk merasa kasihan. Seseorang yang tuli sebetulnya hanya membutuhkan pertimbangan, kesopanan, dan komunikasi yang pengertian dari orang-orang disekitarnya. Maka kita juga semestinya bisa memperlakukan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan.

 

Bahasa isyarat sebagai identitas linguistik komunitas tuli

Michele, seorang staf pengajar bahasa isyarat di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, mengungkapkan bahwa pada dasarnya seseorang yang memiliki keterbatasan pendengaran merasa lebih nyaman jika disebut sebagai orang tuli ketimbang tunarungu, karena menurut mereka tunarungu adalah keterbatasan dari sebuah fungsi yang merujuk pada istilah medis, sedangkan tuli merupakan istilah budaya berkomunikasi yang berbeda. Hal itu merujuk pada cara mereka berinteraksi yang cenderung mengandalkan bahasa tubuh seperti gerakan tangan dan mulut, oleh karena itu orang tuli dominan berkomunikasi secara nonverbal, seperti menggunakan bahasa isyarat.

Komunikasi bagi masyarakat tuli mungkin tidak sama dengan kebanyakan orang, namun melalui identitas linguistik mereka yaitu bahasa isyarat, mereka mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka. Oleh karena dunia selalu memperingati hari bahasa isyarat internasional yang jatuh pada 23 September untuk melindungi identitas linguistik teman tuli. Pada tahun ini, World Federation of the Deaf (Federasi Tuli Dunia) mengkampanyekan Global Leaders Challenge untuk mempromosikan bahasa isyarat sebagai identitas komunikasi bagi masyarakat tuli, harapannya seluruh jajaran pemimpin lokal sampai dengan global mampu menjalin kemitraan dengan komunitas tuli di seluruh dunia untuk mempromosikan bahasa isyarat sebagai bahasa yang mampu digunakan oleh semua orang di semua sektor.

Melalui cara berkomunikasi mereka yang unik, masyarakat tuli tidak pernah menyembunyikan diri mereka dan terus memberikan aspirasi terbuka kepada pemerintah untuk memberikan fasilitas yang layak bagi mereka. Butuh perjalanan panjang bagi komunitas tuli di Indonesia untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah, sampai pada akhirnya banyak sektor mulai membenahi diri, seperti pada sektor industri pertelevisian, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan bahwa kebijakan penggunaan bahasa isyarat di televisi dalam revisi Undang-Undang Penyiaran terus dikaji dan akan diimplementasikan pada program manapun selain hanya program berita, seperti pada acara-acara hiburan. Hingga kini hampir seluruh stasiun televisi sudah memiliki ketersediaan ahli bahasa isyarat untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat tuli, Rudiantara juga mengatakan selain bahasa isyarat, dirinya akan mengkaji alternatif lain seperti teks berjalan (running text).

 

Ragam cara untuk berkomunikasi dengan masyarakat tuli

Ada banyak cara bagi kita untuk tetap nyaman berkomunikasi dengan masyarakat tuli, kita tidak perlu takut untuk mengutarakan apa yang ingin kita sampaikan kepada mereka, pun jika kita tidak memahami bahasa isyarat dengan baik. Kita bisa menghargai teman tuli ketika kita menganggap mereka sama berharganya dengan kita, berkomunikasi tidaklah sulit, hanya saja ketika kita dihadapkan pada seseorang yang memiliki keterbatasan khusus, tiba-tiba saja kita merasa tidak sanggup untuk berinteraksi dengan mereka entah karena alasan apapun itu. Padahal masyarakat tuli juga tidak pernah memaksa kita untuk memahami identitas linguistik mereka yaitu bahasa isyarat, meskipun pada beberapa aspek sosial bahasa isyarat sangat diperlukan untuk membantu proses komunikasi antara masyarakat tuli dan masyarakat dengar, namun tidak berarti bahwa masyarakat tuli tertutup pada orang-orang yang belum memahami bahasa isyarat dengan baik.

Maka dari itu, kita tetap bisa menjalin komunikasi layaknya kawan dengan teman tuli. Mereka akan mendapatkan petunjuk dari apa yang dilihatnya, maka ketika kita berbicara, petunjuk berupa gestur tubuh, gerakan bibir, atau tindakan sederhana lainnya yang menggambarkan percakapan kita sangat diperlukan. Teman tuli bisa mendapatkan banyak informasi tambahan dari ekspresi wajah dan gerakan tangan yang natural, namun meskipun hal ini sangat berguna, ada baiknya kita melakukan itu secukupnya saja atau tidak dilebih-lebihkan, karena gerakan tangan yang tidak perlu atau gerakan fisik apapun yang berlebihan bisa sangat mengganggu.

Selain itu berkomunikasi di tempat yang lebih tenang juga bisa membantu proses interaksi dengan teman tuli, akan lebih baik jika kita menghindari tempat-tempat yang bising, seperti tempat yang dikerumuni banyak orang, terdapat suara-suara mesin, atau tempat-tempat yang menyebabkan suara kita tenggelam. Jangan sampai kita mencoba membantu dengan berteriak atau melebih-lebihkan pengucapan kata-kata. Teman tuli yang memakai alat bantu dengar bisa mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa jika diteriaki, maka lebih baik jika kita bicara dengan jelas, sedikit lebih keras tidak masalah, dan dalam tempo yang tidak terlalu cepat.

Di samping itu, selain untuk membantu teman tuli, membaca gerak bibir juga sebetulnya sangat membantu kita untuk memahami percakapan dari teman tuli, namun karena situasi di tengah pandemi Covid-19 ini tidak memungkinkan masyarakat untuk bicara secara leluasa atau diwajibkan menggunakan masker, kita dan teman tuli menjadi kesulitan untuk beradaptasi dan berkomunikasi. Namun beruntungnya kepekaan lingkungan sosial kita terhadap masyarakat tuli kini nampaknya sudah semakin membaik, banyak orang berusaha membantu masyarakat tuli agar tetap bisa berkomunikasi dengan lawan bicaranya, yaitu dengan mendesain masker transparan yang memudahkan kita dan teman tuli untuk membaca gerakan bibir.

Banyak hal telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap kesetaraan bagi penyandang tuli, andaikan dari kita sendiri juga ingin menerima dan pengertian, maka keragaman komunikasi mungkin tidak lagi kita pandang sebagai perbedaan. Meskipun sudah ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk berkomunikasi dengan teman tuli seperti menggunakan media daring, namun kita juga masih tetap harus membuka diri seandainya komunikasi berlangsung secara tatap muka, karena terkadang esensi dari sebuah komunikasi hanya bisa tercermin melalui komunikasi langsung dengan lingkungan sosial.

Dedy Mulyana juga menekankan bahwa “Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak bisa menaruh dirinya dalam lingkungan sosial.” Maka jika orang lain mungkin belum bisa membuka diri pada lingkungannya, jangan sampai itu juga mempengaruhi cara kita dalam memperlakukan lingkungan sosial kita. Komunikasi itu mudah, kepada siapapun itu, hanya saja bergantung pada bagaimana kita bisa menyampaikannya dengan penuh pengertian.