MENULISLAH SEBELUM ANDA GILA!

"Koh, saya bisa aja kasih obat-obatan yang memberikan efek menenangkan. Tapi itu gak lama. Engkoh akan kembali sedih lagi. Saya mau sarankan metode terapi yang sangat aman dan besar kemungkinan suksesnya. " kata Dokter Frans sambil beranjak menuju ke sebuah lemari di pojok ruangan prakteknya.

MENULISLAH SEBELUM ANDA GILA!
Sumber foto : www.freepik.com

MENULISLAH SEBELUM ANDA GILA!

“Owe udah ndak kuat dok!”

“Setiap saat, wajahnya selalu membayangi owe. Semua kenangan belsamanya belseliwelan dalam kepala owe, owe sedih, telamat sedih. Owe lasanya mau menyusul dia ke alam sana!”

"Koh Rudi sudah berapa lama ditinggalkan Tante Vivie?” tanya Dokter Frans.

“Sudah lima tahun dok.” jawab Koh Rudi dengan wajah sedih, sesedih-sedihnya.

“Selama lima tahun itu, Koh Rudi usaha apa supaya tidak terus-terusan sedih, atau melupakan Tante Vivie?” tanya Dokter Frans lebih lanjut.

"Owe pasang foto-foto Vivie di toko owe, buat ngobatin lindu. Olang-olang pada suka. Owe juga senang. Tapi itu hanya sementala aja, hati owe tetap hampa dan kosong lasanya, huuu huuu hiks." tangis Koh Rudi perlahan mulai retas.

"Koh, saya bisa aja kasih obat-obatan yang memberikan efek menenangkan. Tapi itu gak lama. Engkoh akan kembali sedih lagi. Saya mau sarankan metode terapi yang sangat aman dan besar kemungkinan suksesnya. " kata Dokter Frans sambil beranjak menuju ke sebuah lemari di pojok ruangan prakteknya.

Kembali ke meja prakteknya, Dokter Frans meletakkan sebuah buku. 

"Haaa, apaan nih dok? Owe disuruh makan buku?" tanya Koh Rudi polos. 

"Husss, bukan Koh. Saya mau Koh Rudi baca buku ini dan praktekkin isinya." kata Dokter Frans, sambil membolak-balik halaman buku tersebut. 

"Haiyaaa, doktel ada-ada aja, owe disuluh baca buku, owe bisa-bisa makin seteles ntal. Ndak ahh! Mending owe minum obat aja!” ketus Koh Rudi.

“Tenang dulu Koh. Saya gak akan menyarankan ini kalau tidak ada manfaatnya untuk Koh Rudi. Buku ini bercerita tentang bagaimana menjadi penulis dengan langkah-langkah yang sangat praktis dan bisa dilakukan semua orang. Dan yang paling penting, adalah manfaat menulis, ada dijelaskan dalam buku ini. Salah satunya disebutkan, menulis itu membuang sampah emosi serta mencegah kepikunan.” jelas Dokter Frans.

“Koh Rudi tahu kan cerita Putri Salju?” Lanjut Dokter Frans.

“Owe tahu, enak itu kuenya, dulu Vivie seling bikin baleng kue nastal kalau tahun balu tiba.” Koh Rudi berkata sembari menatap langit-langit ruangan.

“Heee alah, bukan kue om, tapi dongeng, dongeng Putri Salju.” seru Dokter Frans dengan nada sedikit kesal.

“Ooo, dongeng tentang Putli yang keselek mangga itu ya?” celutuk Koh Rudi sok tahu.

“Bukan Koh, bukan keselek mangga,  tapi ketelen buah apel!” Dokter Rudi setengah berteriak gemas.

“O ya, ya, owe ingat. Kalo dongeng owe suka, kalena celita. Owe punya mama dulu seling dongengin kami anak-anaknya sebelum tidul.”  Koh Rudi berusaha mengingat-ingat masa kecilnya.

“Nah, pas banget, kalau Koh Rudi pada dasarnya suka dengan dongeng, cerita. Karena buku ini ditulis oleh penulisnya dengan gaya bercerita. Gak ngebosenin, dan banyak contoh-contohnya. Ada bagian-bagian yang bisa bikin ketawa. Tips-tipsnya mudah diikuti dan dipraktekkin.” Jelas Dokter Rudi, terus berusaha meyakinkan Koh Rudi.

“Di buku ini dijelaskan bahwa bahwa setiap orang adalah penulis. Sejak lahir semua orang telah dikaruniai ilmu penulisan. Tinggal kita kembangin aja. Buku ini kasih tips super tentang bagaimana menulis untuk status di medsos, caption foto, copy writing, bikin buku dan novel. Siapa tahu Koh Rudi mau nulis novel tentang kisah cinta dengan Tante Vivie, mungkin bisa jadi best seller, ngalahin mbak Tere Liye.” tambah Dokter Frans.

“Iya juga ya dok, owe sebaiknya coba, siapa tahu seteles owe bisa hilang dengan menulis. Dan owe gak jadi Gila.” kata Koh Rudi sambil manggut-manggut.

“Owe dikasih glatis ndak nih dok?” pinta Koh Rudi dengan mata binar mengiba.

“Ya, saya kasih ke Koh Rudi buku ini gratis. Tapi dipraktekkin ya! Kalau ada yang mau pesan, bisa hubungi Bapak Andung Yuliyanto  di nomor 0856-2943-773. Semoga berhasil ya Koh terapi menulisnya.” kata Dokter Frans sambil menyerahkan buku berjudul “Menulis Tanpa Ide” karya Om Budiman Hakim itu ke tangan Koh Rudi.

 

“Kamsia, kamsia ya dok, doktel baik sekali, owe pamit dulu yaa.” Koh Rudi segera bergegas menuju pintu.

“Ealah...tunggu dulu Koh… bukunya gratis tapi uang konsultasinya bayar atuh!” teriak Dokter Frans mencegah Koh Rudi mabur lebih lanjut.

“Hehehe … maap, maap doktel, kilain kali ini glatis konsultasinya.” sahut Koh Rudi tersipu-sipu seperti ikan sapu-sapu.

Note : supaya nyambung, bisa dibaca cerita sebelumnya di https://thewriters.id/foto-selfie-tante-vivie