Menjenguk Mamak

Menjenguk Mamak

Masih pagi ketika aku tiba di rumah mamak. Simbar menjangan yang bersenggayut menyelimuti batang pohon asam tua di muka rumah sepertinya semakin rimbun, Tampak seperti puluhan jemari yang melambai-lambai menyambutku. Selalu ada rasa rindu yang membuncah di hati ketika memasuki rumah masa kecil ini.

Kutuntun sepeda melintasi halaman rumput tempat dulu kaki-kaki kecil berlarian atau bermain bola. Aku sengaja melangkah perlahan. Menikmati deretan rapi bunga anggrek yang subur bermekaran di sepanjang pagar. Ah, mamak masih selalu rajin merawat anggrek-anggreknya. Biasanya menjelang hari raya, banyak ibu-ibu tetangga datang meminta dua-tiga tangkai anggrek untuk mempercantik rumah mereka di hari Lebaran. Mamak dengan suka cita akan memberikannya. Gratis.

Di halaman samping, pot-pot berisi suplir, asparagus dan kuping gajah tengah bermandi matahari pagi. Sebentar siang, mereka akan kembali masuk ke dalam rumah menghias sudut-sudut ruang tamu dan ruang tengah.

Sunyi, ketika aku masuk lewat pintu dapur yang tak terkunci. Tapi aku tahu mamak pasti sedang beristirahat di kamarnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak berpuluh tahun lalu, mamak selalu bangun pukul 4 pagi, bersiap menanti waktu subuh, lalu sibuk berbenah rumah. Ada saja yang dikerjakannya. Mengurus tanaman, membongkar lemari dan melakukan apa saja hingga tiba waktunya solat dhuha. Tak heran rumah mamak selalu rapi asri. Lantai ubin tuanya tetap terawat dan selalu berkilau. Kamar mandinya bersih harum, dan semua perabotnya seperti tak pernah sempat tersentuh debu hingga ke sudut dan lekukannya. Walaupun semua kerapian  itu akan segera hancur lebur jika kesembilan cucunya berkumpul.

Sesekali mamak pergi berbelanja ke pasar atau ke pengajian komplek. Tetapi lebih banyak ia mengaji di kamarnya, lalu tidur siang. Quran yang dibacanya adalah Quran yang sama sejak aku kecil, yang sudah lapuk dan nyaris terlepas sampulnya. Dengan pembatas halaman dari rajutan buatannya sendiri puluhan tahun silam.

Sejak SD, setiap kali pulang sekolah, mamak lah yang pertama kucari. Sambil memanggil-manggil aku masuk ke kamarnya. Lalu mamak akan bertanya apa saja yang kulakukan di sekolah dan aku bisa bercerita apa saja karena semua yang kualami ingin segera kuceritakan pada mamak. Sesekali mamak menegurku bila menurutnya aku berlaku tak elok. Ketika tahu aku mengolok seorang teman perempuan, mamak dengan lembut bilang: "Kau harus bersikap manis dan hormat pada anak perempuan. Kau punya tiga adik perempuan. Apa kau tak sedih bila adikmu diolok orang?" Biasanya aku hanya terdiam atau berusaha mengalihkan pembicaraan.

Setelah itu mamak akan menyuruhku berganti pakaian dan kami adik-beradik duduk berkumpul di meja makan menanti tudung saji dibuka. Macam-macam masakan mamak yang semuanya pasti lezat karena mamak pandai sekali memasak. Setelah itu kami harus tidur siang. Peraturan yang sangat menyiksa karena kami tak mengantuk sama sekali dan aku tahu kawan-kawanku sedang asyik bermain dampu, gatrik, petak umpet atau permainan seru lainnya di gang sebelah. Sekali aku pernah nekad melompat dari jendela kamar dan pergi bermain. Lalu mamak mengadukan ulahku ke ayah yang baru pulang kantor. Akibatnya sungguh fatal. Membuatku jera tak ingin mengulangi lagi sepanjang hidupku.

Seperti dulu, aku mulai memanggil-manggil mamak. “Mak… maaak… Assalamualaikuuum.”

“Wa’alaikumsalam,” sahut mamak dari dalam saat pintu kamarnya aku buka.

Mamak masih mengenakan telekung, duduk bersandar di tempat tidur memegang Qurannya. Aku mencium tangan mamak lalu memeluknya.

“Sehat kau nak?” tanyanya. “Apa kabar istri dan anak-anakmu?”

“Sehat mak… kami semua sehat, Alhamdulillah. Anak-anak sedang ulangan semester. Doakan dapat nilai baik ya mak,” kataku.

“Selalu kudoakan kalian siang dan malam… Semua anak menantu dan cucu-cucuku,” jawab mamak. “Naik apa kau ke sini?” tanyanya.

“Sepeda mak. Tadi aku singgah di makam ayah,” jawabku.

“Kau sudah sarapan? mamak buatkan nasi goreng ya,” katanya.

Tanpa menunggu jawabanku, ia melangkah ke dapur dan segera mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas, menggiling bumbu, dan mulai memasak. Aku memperhatikan dari meja makan. Di usianya kini, mamak masih gesit memasak. Walaupun sesekali mengeluh nyeri sendi lutut dan pinggangnya. Tapi kebiasaan bekerja mengurus rumah tangga sejak muda membuat staminanya seperti tak pernah surut walaupun usianya sudah lebih dari 76 tahun.

“Tadi pagi-pagi Azam menelpon.” Katanya sambil mengaduk-aduk isi wajan. “Ramai sekali celotehnya. Katanya mau ada acara di sekolahnya, dan dia akan jadi MC.” Mamak terkekeh geli. Matanya berbinar-binar menceritakan polah cucu terkecilnya. Akupun tertawa membayangkan kelucuan keponakanku yang satu itu.

Sebentar kemudian, nasi goreng sudah siap. Harum nasi goreng ebi belacan bikinan mamak menggugah seleraku. Aku segera melahapnya. Mamak menemaniku makan dan bercerita segala hal. Tentang cucu-cucunya yang lain, tentang teman pengajiannya, tentang teman-teman pensiunan yang sudah mulai jarang berkumpul karena semua sudah sepuh dan satu demi satu menghadap sang Khalik.

“O ya mak, beberapa hari lalu aku ke Cengkareng. Ada ketemu ibu Yuhono dan ibu Eddy. Salam untuk mamak katanya.”

“Wa’alaikumsalaaam…” Mamak menggumam. Matanya menerawang. Pasti ia terkenang dan rindu sahabat-sahabatnya itu. “Kapan kau ajak mamak ke Cengkareng menengok mereka?” tanyanya.

“Lebaran hari kedua ya mak. Insya Allah,” jawabku.

Ia mengangguk dan tersenyum sumringah. “Kalau begitu mamak mau bikin kue untuk sahabat-sahabat mamak itu,” katanya bersemangat.

"Kue yang lembut-lembut aja ya mak. Payah nanti kawan-kawan mamak mengunyahnya," candaku. Lalu kami tertawa bersama.

Aku melihat mesin jahit di sudut ruangan. Potongan-potongan kain tampak berserakan. Sepertinya mamak sedang menjahit sesuatu.

“Sedang menjahit apa mak?”

“Oh itu… kebetulan mamak masih punya simpanan bahan bagus. Mamak mau bikin gaun untuk dua cucu perempuan mamak. Biar seragaman…”

Aku tergelak. “Mana mau Syalia pakai gaun mak…” kataku sambil membayangkan anak gadisku yang tomboy.

“Nanti ada masanya dia mulai bersolek,” kata mamak tersenyum. Aku tak membantah. Mamak sudah berpengalaman membesarkan tiga anak perempuannya.

“Eh, kapan kalian mau berbuka puasa di sini?”

“Hari sabtu depan ya mak,” jawabku.

“Boleh… kau mau mamak masak apa?”

“Hmmm… semur limpa ya mak. Sambal udang. Sup kepiting…”

“Aiih… ndak lah!” mamak menukas. “Kalian sudah harus menjaga pola makan. Jangan mengundang penyakit…” Tiba-tiba raut muka mamak menjadi muram. Lalu mulailah mamak bercerita panjang lebar mengenai anak-anak temannya yang masih muda sudah menderita macam-macam penyakit berat.

“Iya mak… ayam panggang aja lah mak. Ayam panggang bumbu bali masakan mamak yang paling top itu,” sahutku tak enak hati. Senyum mamak mengembang lagi mendengar pujianku. “Itu suara pompa air kok bising sekali ya mak. Mungkin bearingnya sudah harus diganti. Nanti aku panggilkan tukang servis. Jangan sampai terlanjur macet sudah dekat lebaran payah kita nggak ada tukang,” kataku mengalihkan topik pembicaraan.

Kami terus asyik bercerita. Tak terasa, sudah menjelang tengah hari. Akupun pamit. “Sudah siang mak. Sudah mulai terik. Aku pulang dulu ya mak.”

“Baiklah… hati-hati kau di jalan. Salam untuk istri dan anakmu.”

Aku mencium tangan mamak takzim dan memeluknya erat. Entah mengapa, rasanya berat sekali melepaskan pelukanku kali ini. Dan mataku mulai memanas. “Maaf lahir batin ya mak. Besok lusa sudah mulai puasa. Mamak jaga kesehatan. Biar ibadahnya lancar. Selamat berpuasa,” bisikku. Mamak mengusap kepalaku. Aku meraih sepeda dan menuntunnya. Mamak mengantar sampai ke depan pagar. “Assalamualaikum...”

“Waalaikumsalaaam..,” terdengar suara mamak menyahut lirih saat aku mulai mengayuh sepeda.

***

“Sendirian pak?” Suara itu membuyarkan lamunan panjangku. Bang Abdul, perawat makam mamak di Jeruk Purut, tiba-tiba sudah di sampingku dan mengulurkan tangan. Aku menyambut tangannya sambil memalingkan wajah. Tak ingin ia melihat mataku yang memerah.

“Iya bang sendiri aja. Sepedahan sekalian mampir. Kok rumputnya jelek ya bang?”

“Iya pak habis musim panas. Insya Allah lebaran haji udah bagus lagi,” sahutnya.

“Titip-titip ya bang. Tolong dirawat yang baik,” kataku sambil memberi sejumlah uang. Lalu aku bersiap-siap pulang. Kutatap batu nisan makam mamak. “Mak aku pulang ya. Assalamualaikum… semoga kesejahteraan tercurah untuk mamak. Semoga Allah memberikan ampunan kepada mamak. Sesungguhnya kelak kami semua akan menyusul…” Bisikku lalu melangkah pergi.