Menjagamu Dalam Doa

Menjagamu Dalam Doa

"Gila, panas banget, sih? Gak ada kipas angin?" gerutu Sekar sambil menyibakkan rambut ke belakang pundaknya.

"Kipas lagi rusak, belum sempat diservis," jawab Jati santai sambil memotong wortel tanpa memandang lawan bicaranya.

"Iihh, harusnya kipas cepat diperbaiki, biar pada nyaman duduk makan di sini," sahut Sekar dengan nada sewot.

"Lah, kan, Mbak Sekar gak makan?" tukasnya tetap dengan nada santai.

"Yaelaah, itungan banget, sih? Biasanya aku juga makan di sini," ujar Sekar dengan mata melotot.

"Tapi hari ini kan, belum?"

"Hari ini aku bakal makan di restoran, bukan di sini. Doakan ya, dapet rejeki nomplok." Wanita itu tersenyum semringah sambil membenahi lipstiknya yang sudah tebal.

Jati mencibir kemudian berucap lirih. "Aamiin, aku doakan selalu dapat rejeki halal."

Sekar menoleh dan melotot ke arah sumber suara, mendengar ucapan rejeki halal dari mulut pria itu.

Tak berapa lama terdengar deru mobil yang mendekat dan berhenti tepat di ujung jalan, Jati masih bisa melihat pengemudi yang turun dari dalam mobil itu. Seorang pria setengah baya yang tampak sangat necis dengan pakaian rapi. Sekilas Jati melirik Sekar yang sibuk dengan dandananya, dan benar saja lelaki itu datang menghampiri warung miliknya dan melongokkan kepalanya mencari seseorang. Sekar tersenyum dan berdiri menyambut lelaki itu ramah.

"Haaii, gak susah kan, nyari alamatnya?" Suara Sekar terdengar manja.

"Lumayan, gak pakai tersesat, kok," sahut lelaki itu yang diperkirakan Jati baru dikenal Sekar.

"Oke, mau langsung, kan? Atau mau minum dulu?" Tetap dengan suara manjanya, Sekar berbicara. Itu yang membuat Jati gemas ingin menimpuknya pakai kembang kol yang sedang dirajangnya.

"Langsung ajalah, panas di sini," ujar lelaki itu tanpa mempedulikan Jati sang pemilik warung.

"Iya nih, payah. Kipasnya lagi mati," keluhnya sambil mengipasi leher dengan tangannya. " Yaudah, Jati ... makasih udah kasih numpang duduk," sahut Sekar sambil memberi Jati senyum termanisnya.
Kemudian keduanya melangkah sambil bergandengan tangan menuju mobil. Ada helaan napas berat dari Jati saat melihat pemandangan itu.

Sebenarnya, ini bukanlah pertama kali bagi Jati melihat situasi seperti ini, tetapi khusus untuk Sekar selalu ada perasaan berat saat melihatnya pergi dengan siapapun.
Jati sudah hampir lima tahun berjualan di kompleks ini, khususnya di gang Anggrek ini. Dia nekat mengontrak rumah kecil yang  bisa dipakainya untuk membuka warteg dengan konsep yang minimalis. Maksudnya, semua serba minim tetapi karena Jati terkenal sangat ramah maka warungnya tak pernah sepi pengunjung. Warungnya buka hampir 24 jam nonstop, semua yang dijualnya adalah titipan warga sekitar kecuali minuman dan nasi goreng serta mie instan.

Dengan dibukanya warung Jati maka ibu-ibu sekitar kompleks memiliki penghasilan tambahan. Ada yang menitipkan gorengan, kue bolu, buah potong, ketan uli dan banyak lainnya. Yang membuat warung Jati berbeda dari warung lain yang ada di kompleks ini adalah Jati tidak menjual rokok dan minuman beralkohol. Berbeda dengan warung lain di sekitanya yang menu utamanya adalah bir, tuak dan bermacam minuman beralkohol lainnya. Walaupun mereka menjual dengan sembunyi-sembunyi, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa di kawasan itu hampir semua tanpa larangan. Asalkan mampu membayar upeti pada para centeng yang berkeliaran sepanjang hari di kawasan ini.

Bila malam, suasana di kompleks ini akan bertambah semarak. Suara musik akan semakin riuh, jalanan menjadi macet dan padat, mobil berseliweran susah mencari tempat parkir, garasi rumah akan berubah menjadi kafe remang-remang dan memang semua tampak temaram. Yang utama bila malam tiba, akan banyak sekali perempuan yang berseliweran dengan berbagai macam dandanan.

Sekar adalah salah satu dari wanita-wanita itu. Yah, meskipun Sekar masih termasuk penghuni baru kawasan ini. Seingat Jati baru dua tahun ini Sekar dilihatnya sering mampir ke warungnya, sejak Sekar menyewa kamar indekos di Green House—meski rumah itu bercat warna kuning—milik Pak Burhan. Memang Green House itu adalah kos putri yang hampir semua penghuninya adalah wanita pekerja malam di kompleks itu.

Jati masih ingat waktu pertama kali Sekar datang ke warungnya dan memesan nasi goreng. Wajah polosnya sangat membius, senyumnya manis, suaranya lembut dan tidak berlebihan, tingkahnya sopan dan terlalu lugu untuk ukuran wanita pekerja malam. Hingga Jati tak percaya saat Mirna, Yasmin, dan Nuri bergosip tentang Sekar.

Kata mereka, Sekar adalah bintangnya Green House, anak baru yang tak pernah sepi pelanggan. Katanya pantangan buat Sekar untuk melayani tamunya di seputaran kompleks. Ada perjanjian bahwa semua transaksi harus di hotel berbintang. Obrolan siang itu merupakan informasi yang sangat penting buat Jati, karena sejak saat itu Jati berasa menjadi intel yang selalu menyelidiki gerak-gerik Sekar, selalu mencari info terselubung pada setiap penghuni kos yang memang semua menjadi pelanggan warungnya.

Bahkan Sekar sang bintang pun akhirnya menjadi pelanggan warungnya. Tak sungkan Sekar yang cantik itu makan nasi goreng dan minum teh hangat buatannya. Selalu ada sanjungan bahwa nasi goreng buatan Jati adalah yang terenak, bahkan Sekar sangat ketagihan dengan racikan es jeruk nipis buatan Jati.

Saking seringnya Sekar makan di warung, Jati bisa menyimpulkan bahwa Sekar memang pantas menjadi bintang. Segala yang dimiliki Sekar tak pernah berlebihan, dia pandai berdandan hingga tak terlihat menor, bahkan tak pernah berpakaian seksi melainkan cenderung berpakaian kasual yang anehnya selalu tampak seksi dengan cara tersendiri. Sekar tak pernah sekalipun dilihatnya merokok ataupun mampir di kafe sekitar kompleks untuk menikmati minuman alkohol. Itulah yang membedakan Sekar dengan teman-temannya. Ah, dan jangan lupakan juga keramahannya pada siapapun.

Kadang ada rasa tak percaya bila melihat kenyataan apa yang dilakukan Sekar sebagai mata pencahariannya. Dunia prostitusi yang sangat rentan melekat pada dirinya. Ada rasa miris di hati Jati bila melihatnya pergi dengan berbagai macam lelaki dan sialnya Jati hanya bisa melihat dengan berat hati.

"Jati, Jati ... sadar siapa kamu? Kenapa kamu yang marah? Eh, ingat, napak bumi siapa kamu?" gumam Jati dalam hati.

****
"Jati, minta jeruk hangat, dong. Gulanya dikit ya," ujar Sekar dengan suara serak.

"Kirain siapa," gumam Jati sedikit terkejut. "Lagi sakit, ya? Kok, suaranya kaya bencong, sih?" Ledek Jati sambil tertawa.

"Sialan, aku lagi flu, nih. Dari semalam batuk bersin gak jelas," ujar Sekar sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Kecapean, tuh. Lagian hujan-hujan juga nekat aja pergi," omel Jati sambil membuat jeruk hangat pesanan Sekar.

"Aku juga pengennya gak kerja, tapi gimana lagi? Kalau gak kerja aku gak makan. Harusnya enak di kos istirahat sambil dengerin musik," balas Sekar sambil mengunyah bolu.

"Udah, istirahat aja. Aku buatin kamu makan selama gak kerja kalau alasan kamu kerja buat cari makan," sahut Jati tegas.

"Iya kamu buatin aku makan, tau-tau ntar catatan utangku panjangnya lima meter," sahut Sekar sambil tertawa.

"Itu urusan belakang. Gampanglah, yang penting sehat dulu." Jati tetap ngotot dan cekatan membuatkan Sekar mie kuah.

Siang itu warung masih sepi, jadi mereka berdua bisa mengobrol dengan santai. Wajah Sekar sangat pucat, tampak sekali batuknya sangat menyiksa hingga dia meminta air hangat di gelasnya. Tak tega Jati melihatnya.

"Udah dipijet? Atau dikerok?" tanya Jati dengan nada khawatir.

"Belum, biasanya juga aku yang mijet," sahut Sekar santai.

"Yee, ditanya serius malah bercanda," sahut Jati sambil tertawa, menutupi rasa gelisah yang tiba-tiba menghampirinya.

Tak berapa lama, warung Jati penuh dengan orang yang makan. Ada beberapa kawan kos Sekar duduk melingkar dalam satu meja. Mereka riuh mengobrol, saling sahut sambil menikmati makan siang.

Jati memperhatikan mereka terutama wanita cantik yang sedang menahan rasa nyeri akibat flu itu. Jati datang menghampiri meja dan menyodorkan obat flu yang baru dibelinya di warung.

"Nih, minum. Biar ringan dikit," ujar Jati sambil menyodorkan obat ke meja.

"Gila ya, giliran Sekar aja diperhatiin gitu, gua sakit sampai mau mati mana ada beliin obat," sahut Wina teriak dan membuat seisi warung menolah ke meja mereka.

"Iya nih, diskriminasi! Harus kita demo nih, si Jati," sahut Ningsih menjadi provokator.

"Lagian kalian mau diperhatiin, mimpi kali yee! Jati maunya yang kaya Sekar, rada pemalu gitu," balas Nila sambil tertawa.

"Jangan salah, ya. Sekar ini keliatannya aja lembut tapi aslinya galak kaya macan," sahut Ningsih dan disambut tawa riuh. Sementara Jati menjadi salah tingkah.

"Makasih ya, Jati yang baik hati," ujar Sekar dengan suara yang sengaja dibuat manja.

Tanpa berbicara, Jati melangkah ke balik meja dan masih mendengar tawa dari meja Sekar dan teman-temannya.

Tak ada yang berubah dalam pertemanan mereka. Sekar selalu datang makan dan nongkrong di warung Jati. Obrolan dan canda selalu ada, tanpa pernah menyentuh urusan pribadi. Tak ada kecanggungan di antara mereka karena keduanya memahami tentang pribadi masing-masing.

***
"Lama gak ke warung? Makan di restoran terus, ya?" sapa Jati saat melihat Sekar datang ke warungnya sore ini.

"Restoran, gundulmu! Justru aku lagi paceklik ini, gak pernah kerja 5 hari. Badan sakit, demam meriang. Aku di kos terus, makanya titip makan sama Widuri terus," balas Sekar sambil membuka botol air mineral dan meneguknya langsung dari botolnya.

"Lha kok, Mbak Widuri gak cerita kalau kamu lagi sakit?"

"Aku sakit Jati, sejak kamu beliin aku obat itu aku drop gak bisa kerja. Jadi aku sekarang mau makan tapi utang dulu, ya?" Sekar tersenyum.

"Makanlah, jangan pikirin bayar, yang penting sehat. Mau jeruk panas, ya? Aku buatin," ujar Jati sambil cekatan membuat jeruk panas.

Sekar makan dengan lahapnya, sesekali dia menyeruput jeruk panas yang ada di depannya. Dari balik meja, Jati memandang Sekar dalam diam, sesekali menawarkan tambahan nasi atau lauk tapi dibalas hanya dengan gelengan kepala oleh Sekar.

"Enak banget telur dadar buatanmu Jati. Mulutku pahit banget, baru kali ini aku makan lahap," puji Sekar sambil terus mengunyah.

"Alhamdulillah. Makan jangan sambil ngomong, gak elok," sahut Jati.

"Iiih, kamu tuh, sopan banget, sih? Makan sambil pidato juga boleh kok, kalau bisa," balas Sekar dengan mulut penuh.

"Boleh aja kalau mau nyembur semua. Terus kamu sudah ke dokter?" tanya Jati dengan mimik serius.

"Belum, tapi aku udah mendingan, kok. Gak usah ke dokter, aku lagi bokek," tolak Sekar.

"Pakai uangku kalau mau periksa. Biar dapat vitamin, jadi cepat sembuh." Suara Jati penuh kekawatiran.

"Udahlah, gak usah. Aku sehat, kok. Nih, makan aku udah lahap. Tapi aku mau istirahat dulu, aku gak kuat kerja," ujar Sekar pelan terdengar seperti berbicara pada diri sendiri.

Ada senyum di bibir Jati saat mendengar ucapan Sekar, bahkan dalam hati Jati mengaminkan ucapan Sekar.

Tanpa sepengetahuan siapapun, tanpa disadari oleh siapapun, selalu ada doa yang dipanjatkan oleh Jati untuk Sekar. Terutama soal pekerjaan Sekar saat ini. Setiap Sekar pergi bekerja, Jati selalu menatapnya dengan sedih dan doa itu terucap tanpa sengaja, agar Sekar cepat sadar dan diberikan pekerjaan yang halal. Tidak seperti pekerjaanya saat ini.

Bila ada orang yang bahagia Sekar tidak bekerja pastilah orang itu adalah Jati. Lelaki pemilik warung yang selalu ramai dikunjungi oleh hampir seluruh penghuni gang Anggrek. Lelaki yang diam-diam mencintai salah seorang wanita penghibur yang tinggal di gang Anggrek. Lelaki yang selalu sabar mengucapkan doa agar wanita yang dicintainya itu insaf akan pekerjaannya selama ini. Lelaki yang selalu cemburu dalam diam bila melihat Sekar pergi dengan pelanggannya. Lelaki yang pandai menyimpan rasa cintanya untuk seorang bintang di gang Anggrek.

"Lha, jam segini kok masih kucel? Kamu gak kerja?" sapa Nila sambil menghisap rokok. Wanita itu datang dan seketika membuyarkan lamunan Jati.

"Aku gak kerja, badanku gak enak" sahut Sekar sambil menatap Nila yang sore ini sudah cantik, harum, dan seksi.

"Jati, kopi satu, dong! Jangan manis banget, ya," teriak Nila pada Jati yang dilihatnya ada di balik meja.

"Siap, Mbak!"

Nila kembali berbicara pada Sekar. "Lah, kamu masih sakit? Periksa, gih! Kok demen banget sakit," ujar Nila sambil tangannya meraba kening Sekar seolah ingin mendeteksi suhu tubuh Sekar.

"Udah mendingan, tapi aku mau cuti panjang dulu. Aku capek, mbak," ujar Sekar pelan.

"Cuti, gundulmu! Kamu pikir orang kaya yang gak punya utang? Mau cuti segala, trus makan pakai apa? Bayar kos pakai apa? Bayar cicilan pakai apa? Edan!" balas Nila sambil tertawa mendengar penjelasan Sekar.

"Makan bisa utang Jati dulu. Iya kan, Jati, aku boleh utang kamu?" tanya Sekar sambil menoleh pada Jati seolah meminta persetujuan.

Jati dari balik meja mengangguk dan tersenyum mengiyakan ucapan Sekar.

"Makan iya utang Jati, kos juga Jati yang bayar? Cicilan juga Jati yang bayar? Listrik juga Jati yang bayar? Sekalian aja kamu jadi istri Jati," sahut Nila tanpa dosa sambil tertawa.

Mendengar ucapan Nila, sontak Sekar tertunduk malu.

"Ngawur ae! Mbok pikir Jati apaan? Mana mau dia sama perempuan kaya aku," ujar Sekar setengah berbisik.

"Lho, malahane jadi sah. Kan, asik aku juga bisa utang di warungmu," sahut Nila sambil tetap tertawa.

Jati yang sedang berada di balik meja membuat minuman tampak tersenyum menanggapi obrolan Nila dan Sekar.

"Wes aah, jangan ribut. Pokoknya Sekar mau cuti dulu, selama cuti kalau mau makan di sini aja. Jangan pikir soal bayar, Mbak Nila juga kalau mau cuti gak apa makan di sini aku seneng kok," ujar Jati menengahi sambil membawa secangkir kopi pesanan Nila. Sekilas ia melirik ke arah Sekar yang diam tertunduk malu.

"Jadi yang cuti kerja boleh ngutang?" sahut Nila.

"Bukan begitu, kalau lagi gak ada duit juga boleh, kok. Aku sih, yakin Mbak-Mbak yang baik hati pasti gak bakal lari dari bayar utang. Tapi kalau cuti, itu diutamakan," balas Jati sambil tertawa.

Entah apa yang membuat Jati merasa bahagia sore ini hingga membuatnya menjadi bersemangat. Tak berapa lama, datanglah kawan-kawan Sekar yang biasa berkumpul di warung Jati. Semua membahas soal cuti kerja Sekar.

"Tuh, liat Cik Mel datang. Siap-siap ditagih neh, kita," ujar Ambar sambil melihat ke luar warung.

"Waduh, rentenir datang. Mana belum ada duit lagi," sahut Ningsih beringsut hendak menghindar.

"Selamat sore semuaaa! Wiih, sudah pada cantik. Mau tugas, ya? Cik Mel doakan dapat rejeki nomplok, ya, malam ini. Ningsih, mau kemana? Ntar dulu perginya, setor dulu baru pergi," ujar wanita gempal yang dipanggil Cik Mel oleh Sekar dan teman-temannya.

Ningsih tersenyum malu karena geraknya diketahui. Dan beringsut mendekat ke meja kembali.

"Duh, Cik, baru aja keluar ... belum dapat orderan. Maleman dikit ngapa?" sahut Ambar yang paling berani.

"Lha duit hasil kemarin kan, ada? Itu aja pake nyetor dulu. Ntar malem takutnya hujan, Cik Mel gak bisa ngider nagih," sahutnya sambil membuka buku tebal yang selalu dibawanya ketika menagih hutang.
Tanpa menoleh, tetap ditelitinya daftar nama yang tertulis rapi di bukunya.

"Ningsih? Ambar dua kali lho, kemarin gak bayar ... Nila jadi gak, ambil piyama kemarin? Udah ada kok, yang warna merah. Nita, kamu tiga kali belum bayar ilang terus."

Seperti mengabsen, wanita itu memanggil satu per satu nama yang tertulis dibukunya.
"Widya mana, ya? Anita ada di kos, gak? Sekar nih, kamu belum bayar juga, nunggak tiga kali juga. Lagi sepi apa? Kok tumben pada nunggak?" ujarnya heran sambil melirik ke arah Sekar.

Sekar yang dilirik tersenyum kecut, tampak binggung hendak menjawab apa. "Lagi sakit, Cik, udah lima hari gak kerja," sahut Sekar dengan pelan.

"Aku setor satu ya,  Cik," ujar Ambar sambil menyodorkan uangnya.

"Aku satu juga, Cik, ntar maleman kalau ada aku setor lagi, ya," kata Nita.

"Cik, aku belum bisa setor hari ini, ya. Besoklah aku setor kalau udah bisa kerja," kata Sekar memberanikan diri.

"Eeeh, kalian, ya! Jangan seenaknya aja. Tau sendiri jaman lagi susah, Cik juga butuh modal puteran. Kalau pada gak setor, trus muter pakai apa?" Suara Cik Mel terdengar cempreng dengan nada emosi.

"Iya, Cik, ntar malam aku setor," sahut Ningsih.

"Bukan kamu aja, tapi yang lainnya ini, lho," matanya melirik tajam ke arah Sekar.

Terasa bahwa dia yang dimaksud, maka Sekar berdiri sambil melangkah ke arah meja Jati. Tanpa berpikir panjang, dia nekat meminjam uang pada Jati. Yang penting urusan dengan Cik Mel selesai hari ini.

"Jati, kamu ada duit? Aku bisa pinjam uang lima ratus ribu?" Suara Sekar pelan sambil menatap mata Jati.

"Ada, nih pakai aja," sahut Jati tanpa pikir panjang. Tangannya membuka laci dan menghitungkan Sekar uangnya, lalu diberikannya pada Sekar uang sejumlah yang dimintannya.

"Jati, terima kasih, ya. Secepatnya aku ganti," ujarnya dengan suara pelan.

Anggukan Jati meyakinkan Sekar bahwa lelaki itu benar memiliki uang lebih untuk modal belanja warungnya esok hari. Dengan mantap, Sekar melangkah ke meja Cik Mel, yang sedang sibuk mengoceh karena sebagian besar dari mereka belum menyetor.

"Cik, ini aku bayar semua sisa utangku. Jadi lunas, ya. Aku minta tanda pelunasan biar gak ditagih lagi," sahut Sekar sambil menyodorkan uang sejumlah lima ratus ribu.

"Nah, gitu lebih bagus. Sebentar, aku buatin nota pelunasan," sahut Cik Mel dengan nada kesal.

"Iya, Cik, aku tunggu," ujar Sekar dengan nada datar.

Semua teman-teman Sekar terdiam memandang Sekar. Mereka tahu suasana sekarang sedang panas. Memandang Cik Mel yang menuliskan kuitansi untuk Sekar dengan emosi saja sudah membuat yang lainnya waspada. Diliriknya Jati yang masih santai di balik meja dengan diam yang waspada pula.

"Kalian semua jangan sombong, ya, jangan tersinggung kalau aku tagih. Karena waktu kalian butuh duit ngemis-ngemis, pas giliran ditagih marah," ujar Cik Mel sambil terus menulis kuitansi.

Ningsih memandang Sekar yang duduk di ujung meja, memberi kode untuk diam saja dan jangan sampai terpancing oleh omongan Cik Mel.

"Gak marah Cik, cuma pindahin utang aja. Aku pinjam uang jualan Jati biar utangku di satu tempat karena selama gak kerja aku utang makan di Jati," sahut sekar menjelaskan.

"Bodo amat! Pokoknya jangan marah kalau ditagih," balas Cik Mel tetap dengan nada mengejek.

"Ah, sudah Cik, doakan aku juga biar dapat bos minyak malam ini, jadi bisa bayar utang juga," sahut Ambar mencoba mencairkan suasana.

"Udah, ya. Nih, kuitansinya. Yang lain aku tunggu ntar malam. Cari aku di warung Jek, ya!" titah Cik Mel sambil melemparkan kuitansi ke arah Sekar.

Begitu Cik Mel berlalu, seketika semua riuh dengan berbagai komentar tentang kejadian tadi. Hanya Sekar yang terdiam dan sesekali memandang Jati dari tempatnya duduk.
Sementara Jati tetap sibuk dengan kompor dan telur dadar yang sedang digorengnya.

Ada gemuruh di hati Sekar. Terlintas di benaknya mengapa Jati begitu baik padanya? Meminjamkan uang sebanyak itu tanpa jaminan, memberinya kebaikan yang dirasanya tulus tanpa pernah sekalipun menghina ataupun melecehkan dirinya. Kebaikan, kesopanan, dan semua perlakuan Jati padanya adalah tanpa pamrih.

Setelah semua temannya pergi, yang tersisa hanya Sekar dan Ningsih Jati ikut duduk bergabung di meja Sekar.

"Tuh kan, gimana kalau kamu gak kerja? Makanya cepetan sehat biar bisa bayar utang." Ningsih menasihati Sekar yang duduk diam terpaku.

"Iya Mbak, aku harus cepat sembuh," ujar Sekar pelan.

"Apaan, sih, jangan pikirin utang. Yang penting hari ini urusan sama Cik Mel selesai lega, kan?" ujar Jati ikut menimpali Ningsih.

"Iya sama Cik Mel selesai, tapi pindah urusannya ke kamu," sahut Ningsih sambil mulutnya monyong menunjuk Jati.

"Kalau sama aku jangan dipikir, santai aja." Tangan Jati mengibas udara.

"Jati, aku bantu kamu di warung, ya? Selama aku belum kerja, biar aku enak kalau utang makan. Tadi aku juga pinjam uangmu, padahal itu pasti modal kamu, kan?" sahut Sekar tanpa diduga.

Jati dan Ningsih kaget mendengar pernyataan Sekar. Masih binggung harus menjawab apa, Sekar melanjutkan ucapannya.

"Aku bisa kok, cuci piring. Aku bisa nyapu, bantu kamu bikin dadar telur, atau ajari aku bikin minum. Pasti aku bisa bikin teh seenak kamu, kalau kamu ngajari aku." Terus saja Sekar mendesak Jati agar ia diperbolehkan membantunya di warung.

"Duh, Sekar, kamu gak usah kerja di sini kalau cuma mau makan. Kan, aku sudah bilang siapa aja boleh makan di sini. Kalian sudah aku anggap sahabat semua, kok," ujar Jati tulus masih dengan nada bingung.

"Trus kalau kamu kerja bantu aku di warung, aku gak bakal kuat gaji kamu, mana bisa aku gaji kamu dengan nominal yang besar?" sambungnya lagi.

Ningsih tak kalah binggung dengan situasi ini. Sampai tak mampu berpikir untuk menjawab apa.

"Kamu gak usah gaji aku, aku cukup makan aja di warung. Soal pinjaman aku tadi segera aku ganti, ya," ujar Sekar keras kepala.

"Duh, jadi rumit gini, ya?" Jati tampak bingung dan menatap Ningsih seolah meminta solusi.

"Iih, sore ini kok jadi aneh semua, ya? Kamu sadar gak mau kerja di warung Jati? Yakin mau cuci piring? Beneran bisa bikin telur dadar? Malah-malah kamu bakal bikin kacau warung ini," ujar Ningsing tak percaya.

"Iya, aku yakin," ujar Sekar mantap. "Mulai besok, aku kerja bantu kamu ya, Jati," pinta Sekar.

****
Pagi sekali tepat jam tujuh, Sekar sudah berdiri di pintu warung Jati. Sementara dilihatnya motor Jati tak ada, ia menyimpulkan bahwa Jati belum pulang dari pasar untuk berbelanja kebutuhan warungnya. Lelaki itu memang gigih dan tekun. Di saat orang masih bergelung dengan selimut, dia sudah pergi ke pasar menembus udara dingin untuk belanja kebutuhan warungnya. Hanya menggunakan sepeda motor dengan kantong belanja di kanan-kiri jok belakang motornya.

Tak berapa lama, dari jauh dilihatnya motor merah yang sangat dikenalnya itu datang. Sekar tersenyum melihat Jati yang tampak sangat kecil karena tertutup belanjaan yang sangat banyak. Setelah motor terparkir di samping warung, Jati turun dari motor tersenyum menyapa Sekar.

"Pagi banget, mau kemana?" ujar Jati.

"Mau kerja, dong. Sini aku bantu. Kamu buka pintu warung aja, gih," sahut Sekar sambil menghampiri motor Jati.

Jati yang masih terbengong menatap Sekar yang sigap mengangkat isi kantong belanjaan di motor Jati. Tergesa dibukanya pintu warung, dilihatnya Sekar menjinjing belajaan ke arah dapur. Masih dengan tatapan heran, Jati menepuk jidatnya tanda pusing.

"Mana sapu? Biar aku sapu warung, lap meja pakai yang mana?" tanya Sekar pada Jati.

"Sapu di belakang pintu, kalau lap meja pakai kanebo yang di dekat pintu belakang ya," ujar Jati.

Dengan cekatan, Sekar membersihkan ruangan warung, tak berapa lama semua tampak bersih dan teratur. Tak ada lagi bekas abu rokok yang biasanya berserakan di meja, asbak semua tertumpuk rapi di pojok ruangan, botol saos dan kecap sudah bersih karena dilap dengan kain basah, kursi tampak rapi dan meja pun bersih.
Sekar beralih membersihkan meja saji tempat semua dagangan Jati yang biasanya merupakan tempat menaruh semua titipan para ibu-ibu sekitar komplek. Semua wadah kosong tersusun rapi. Meja dan alasnya sudah bersih dari debu dan remah-remah kue.

"Selamat pagi, Jati, ini kue Lemper ada 30, Naga Sari 30, ya," sapa Ibu Ani masuk ke warung sambil membawa dagangannya, tampak terkejut melihat kehadiran Sekar di warung Jati pagi ini.

"Selamat pagi, Bu Ani, ini wadahnya biar saya hitung, ya," sapa Sekar ramah.

Sementara itu, Ibu Ani masih bengong, mencari keberadaan Jati yang tidak tampak. Senyum Sekar terus mengembang seraya menghitung kue sambil menatanya dalam wadah yang sudah disiapkan.

"Mana, Ibu, catatannya? Biar nanti saya sampaikan Jati, ya, terima kasih," sapa Sekar ramah pada Ibu Ani. Dengan penuh kebingungan, wanita itu melangkah keluar ruangan.

Hampir semua ibu-ibu yang menitipkan barang di warung Jati datang dan pulang dengan ekspresi yang sama—bingung. Sementara Jati dan Sekar hanya bisa tersenyum saja. Dia tahu, pasti ada banyak pertanyaan dari semua orang
—mengapa Sekar ada di warung pagi ini? Bahkan Jati pun masih tak percaya dengan keberadaan Sekar di warungnya. Membantunya berjualan dengan sigap, seolah terbiasa di bekerja di warung Jati. Tanpa kecanggungan, luwes menghadapi pembeli yang sebagian menggodanya, tetapi hanya dibalas Sekar dengan sopan seolah ingin memberitahu bahwa sekarang dia bekerja sebagai pelayan, membantu Jati di warung.

Sampai jam makan siang—puncak keramaian warung Jati, semua orang seolah kelaparan dan kehausan. Maka Jati dan Sekar membagi tugas. Sekar fokus berada di balik etalase makanan menyuguhkan makan pada para pembeli, sementara Jati fokus membuat minum yang pemesannya seakan berteriak ingin dilayani cepat.
Hari ini berlalu dengan mulus tanpa hambatan, kecuali beberapa ekspresi binggung dari para pembeli.

Sore Sekar baru saja berhenti menyusun gelas yang sudah kering, terdengar suara teman-teman yang sangat dihapalnya. Senyum Sekar dan Jati tampak menyambut mereka.

"Iih, berasa pengantin baru, ya, kalian, senyum sumringah amat. Seneng, ya, kerja sama orang ganteng?" sapa Ambar sambil melangkah masuk diikuti teman-teman lainnya.

"Gila, bahagia amat kalian berdua," terdengar suara Nita menggoda.

"Yaelaah, pelayan baru pasti laris nih, warung. Tunggu aja bakal pada pindah tongkrongan, tuh, warung si Jek bakal sepi," ujar Ningsih sambil tertawa.

"Bakal betah Pak Wira nongkrong di sini. Liat aja, ntar pasti datang ama rombongan dia," ujar Widya tertawa.

Sekar dan Jati yang digoda tetap tersenyum menanggapi mereka.

"Udah, mau makan apa? Ke sini harus makan banyak, ya," ujar Sekar sambil tertawa.

"Lha, keluar galaknya. Biasa ... aku minum kopi aja, ya, makannya ntar maleman aja," ujar Ningsih sambil duduk dan diikuti yang lainnya.

Sekar ikut duduk bersama temannya, sambil mengobrol dan melayani beberapa pembeli yang datang. Teman-temannya saling pandang melihat Sekar yang luwes tanpa canggung melayani pembeli, ada senyum dan tatapan tak percaya dari mereka.

"Sekar, kamu serius mau jadi pelayan di warung Jati?" tanya Ningsing.

"Kamu beneran gak mau kerja lagi? Di sini kamu digaji berapa? Cukup gak buat hidup kamu?" tanya Nita tak percaya.

Sambil menghela napas dengan wajah polos, Sekar tersenyum tipis. Bibirnya yang sore ini tampak tidak dipulas lipstik justru membuat wajah Sekar menjadi lebih bersahaja.

"Saat ini aku mau bantu Jati aja, aku belum sanggup kerja lagi. Di sini santai, aku bantu Jati dan bisa istirahat kalau pembeli sepi," jawab Sekar mantap.

"Udahlah jangan pikir yang jauh, untuk sekarang ini aku cuma butuh makan aja, Jati udah kasih makan, buat kebutuhan yang lain aku belum mikir. Kos kan, aku sudah bayar tiga bulan kemarin jadi amanlah, trus utangku di Jati aku belum bisa bayar. Yang penting urusan sama Cik Mel udah beres aku lega," lanjut Sekar lagi.

Ada perasaan lega saat Sekar menjelaskan pada teman-temannya. Yang dia butuhkan sekarang hanya pekerjaan berbeda, entah mengapa sehari ini membantu Jati di warung membuatnya bersemangat. Mungkin hanya dia yang bisa merasakan bagaimana menjalani hari ini dengan tenang dan damai. Hingga lelah tak terasa, bahkan ia tak sadar bahwa sehari ini berada di warung tanpa ingat istirahat di kos yang berjarak sangat dekat.

"Sekar, sudah sore. Kalau kamu mau istirahat gak apa. Pulanglah istirahat biar malam ini aku yang jualan seperti biasa," ujar Jati pada Sekar.

"Ah, pulang? Kan, masih sore?" balas Sekar polos.

"Mungkin kamu butuh istirahat sebentar, mandi biar seger. Kalau sudah terasa enakan, boleh kok, balik lagi ke warung," jawab Jati singkat.

"Baiklah, aku mandi dulu tapi nanti aku balik sini lagi, ya? Boleh, yah?" tanya Sekar dengan ekspresi memohon.

"Silakan, Tuan Putri, baliklah sesukamu," sahut Jati sambil membungkukkan badannya dengan tangan terbentang.

Sontak Sekar tertawa dan memukul lengan Jati sambil melangkah keluar menuju kosnya. Jati memandang wanita itu pergi menjauh dengan getar bahagia yang memenuhi ruang hatinya. Tanpa disadarinya bibirnya berucap syukur berulang kali. Entah apa yang membuatnya mengucapkan puji syukur itu, yang Jati tahu hari ini adalah hari bahagia.

Saat gang Anggrek mulai bergeliat, lampu sepanjang jalan mulai dinyalakan, dentum suara musik bersahutan, teriakan tukang parkir bersahutan tak jarang ada umpatan yang memekakkan telinga. Dapat dipastikan kehidupan di kawasan ini bisa dikatakan ramai.

Begitu juga dengan warung Jati. Tempat duduk penuh, bahkan ada yang meminta tikar untuk duduk di teras luar warung. Hampir semua pengunjung adalah langganan yang setiap hari hadir hingga melayani mereka terasa seperti menjamu sahabat.

"Jati, sejak kapan Neng Sekar jadi karyawan di sini?" tanya Rahmat dengan spontan hingga membuat pengunjung lain menoleh.

"Sejak hari ini, Mas. Masih magang kok, belum jadi karyawan tetap," balas Sekar santai disambut tawa semua pengunjung.

"Lha, tau gitu aku buka warung juga," ucap Firman menggoda. Yang digoda hanya tersenyum sambil terus santai melayani pelanggan yang ingin minta tambah kuah sayur.

"Jadi, hari ini yang masak Neng Sekar? Pantesan enak," goda Indra sambil menyuap nasinya.

"Enak ya, Mas? Makanya sering-sering makan di sini. Kalau soal masak, Jati sih, jagonya. Belum bisa aku masak seenak dia," balas Sekar sambil tertawa ke arah Jati.

"Yaah, salah tembak! Gak jadi enak! Anyep kaya lalap batang pisang!" balas Indra sambil tertawa, sontak membuat semua pengunjung tertawa.

Ada banyak canda di warung, ada banyak godaan yang Sekar dapatkan seharian ini, termasuk harus menjawab selidik dari ibu-ibu yang menitipkan dagangan di warung. Seolah Jati harus dilindungi dari godaan Sekar. Tetapi Jati dan Sekar tetap menjelaskan dengan ramah dan baik.

"Gila, Bu Nurdin sinis banget ya, liatin aku. Dia pikir aku bakal merusak moral kamu. Iiih, amit-amit," ujar Sekar sambil cemberut.

"Alaaah, biasa. Emak-emak kan, kaget liatin kamu ada di warung," jawab Jati santai.

"Tapi ngeliatnya gitu amat, kaya aku kuman aja," gerutu sekar.

Jati tertawa sambil tangannya sibuk mengaduk nasi goreng di wajan.

"Udah nih, ngomel terus, makan dulu, gih! Trus kamu balik aja, ini udah jam sembilan malam. Istirahat, gak baik perempuan kerja malam-malam," sahut Jati sambil menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar di atasnya. Ditatapnya Jati dalam diam. Sementara Jati mengambil sepiring lagi untuknya dan duduk di hadapan Sekar yang masih bengong.

"Bengong aja, makan, gih!" ujar Jati sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.

"Kamu baik banget, sih, tau aja aku lapar. Aku tuh, biasa kerja malam, jadi gak usah bingung," balas Sekar pelan sambil menyuap nasi ke mulutnya.

"Mulai sekarang, kalau kamu kerja di warungku dan gak perlu kerja malam lagi. Jam sembilan kamu sudah harus pulang istirahat. Aku punya peraturan ketat. Karena besok pagi kamu harus balik lagi untuk kerja dan kalau kamu kurang tidur aku gak mau kamu ngantuk di warung," balas Jati panjang memberi peraturan pada Sekar.

"Baiklah, sekarang kamu bosnya," ujar sekar sambil melirik Jati. Lirikan itu tertangkap mata Jati yang mengakhiri malam mereka dengan tersenyum puas.

***
Pagi ini adalah hari ke-7 Sekar menjadi pelayan di warung Jati. Bahkan berita sudah menyebar ke penjuru komplek bahwa Sekar Sang Bintang sudah tidak bekerja lagi sebagai pekerja seks. Teman-teman Sekar masih saja bertanya tentang keputusan besar yang diambil oleh Sekar ini. Tampak sekali perubahan dalam diri Sekar, akhirnya Sekar bisa menikmati pekerjaannya yang baru. Sapa pengunjung padanya sekarang lebih sopan, tak ada lagi godaan yang mengarah pada pelecehan.

Tetapi siang ini ada kekacauan yang terjadi, saat mobil putih berhenti di depan warung, dan tampak beberapa pria masuk dengan berpakaian rapi yang baru dilihat Jati berada di kompleks ini.

"Sekar ada?" sapa lelaki yang berbaju kaos hitam dengan nada suara yang sengaja dibuat besar dan sangar.

"Iya, saya sendiri. Kamu siapa? Dari mana?" balas Sekar dengan tenang tetap berdiri di balik meja.

"Bos Alex mau ketemu, kamu bisa ke mobil?" ujar lelaki yang berbaju hijau sambil menunjuk mobil yang diparkir di seberang jalan.

"Maaf, gak bisa. Kalau mau ketemu suruh masuk ke sini aja," sahut Sekar santai.

Tampak Jati berdiri siaga di samping Sekar. Tetapi, tangannya sibuk merapikan barang di meja.

Mendengar ucapan Sekar, dua lelaki itu saling bertatapan dan menggelengkan kepala.

"Kamu tau kan, kalau Bos Alex tidak mungkin masuk ke sini? Kamu yang datang ke mobil menemuinya," titah lelaki yang berbaju hitam. Sekar melirik Jati yang berada di sampingnya.

"Maaf, aku gak bisa menemui Bos Alex karena sekarang aku kerja di sini, dan ini jam kerjaku," sahut Sekar mantap.

Beberapa pengunjung mendengarkan percakapan itu, meski sambil berpura-pura tidak peduli dan tetap pada posisinya duduk makan.

"Kamu tahu kalau Bos Alex itu pantang untuk ditolak," sahut lelaki yang berbaju hijau tampak sudah tidak bisa menahan emosi.

"Lagian susahnya apa, sih, cuma masuk mobil temui Bos Alex sebentar. Tuh! Mobilnya ada di depan," sahut lelaki itu ngotot.

"Aku gak mau!" balas Sekar dengan suara yang lebih keras.

"Dasar, Pekcun! Sundal kecil cari masalah aja kamu, ya!" bentak lelaki berbaju hitam dengan suara tinggi.

Spontan Jati berteriak pada dua lelaki tak sopan yang masuk ke warungnya itu.

"Hei, Bang! Tolong yang sopan, ya! Sekar sudah jelas bilang gak mau ketemu. Jadi silakan keluar bilang sama Bosmu, jangan bikin ribut di sini!" Suara Jati terdengar penuh emosi.

Semua pengunjung warungnya menoleh dan siaga membela Jati. Melihat suasana yang memanas, Sekar lari masuk ke dalam ruangan kecil yang biasa ditempati Jati untuk beristirahat. Di sana Sekar menangis tersedu karena malu, ketakutan, dan merasa bersalah.

Dua lelaki itu keluar dari warung Jati dengan perasaan emosi. Hingga terdengar deru mobil menjauh dan meninggalkan suara gas yang kencang.

"Makasih ya, Bro ... silakan lanjutkan makannya. Maaf atas gangguan tadi", ujar Jati ramah meminta maaf para pelanggannya yang terganggu karena kehadiran dua orang tadi.

"Santai, Bro .... lu urus Sekar aja, gih! Kasian dia," sahut Firman santai sambil menunjuk ke ruang dalam tempat Sekar menghindar tadi.

Tanpa bicara, Jati langsung masuk ke ruang dalam yang pintunya tertutup. Dia tahu Sekar ada di dalam. Ragu-ragu, diketuknya pintu, dan dibukanya hingga dilihatnya Sekar sedang menangis menghadap tembok. Tak tega didekatinya Sekar, Jati duduk di sebelah Sekar.

"Orangnya udah pergi, aman kamu kalau mau istirahat gak apa. Di sini juga gak apa," ujar Jati pelan.

"Maafin aku ya, Jati, kamu pasti malu sama pelangganmu. Mana orang lagi rame makan, aku malu," ujar Sekar sambil tersedu.

"Ngapain minta maaf, udah jangan dipikir. Tadi Firman udah siap aja mau nonjok dua bajingan itu. Jadi, kamu tenang gak usah malu. Orang tuh, kalau mau berubah jadi baik pasti ada ujiannya. Anggap ini ujian kamu, dan aku yakin kamu bakal bisa melewati ini," nasihat Jati sangat lembut.

"Jati, aku tuh, perempuan kotor. Aku gak tahu kenapa aku bisa sampai di sini. Aku juga gak tahu kenapa aku jadi tenang bantu kamu jualan di sini. Aku udah gak mikir lagi buat kembali seperti kemarin, tapi hari ini aku tahu aku harus buktiin kalau aku sudah berubah. Biarpun aku masih melihat tatapan sinis orang, cemooh orang, tapi aku mau berubah. Entahlah, mungkin aku mau pulang kampung aja, jadi pembantu atau pelayan toko di kampung biar aku tenang," sahut Sekar masih dengan suara pelan dan tersedu.

Mendengar ucapan Sekar, Jati menjadi kaget. Tiba-tiba dia tak ingin kehilangan Sekar.

"Kamu jangan pulang kampung, di sini aja kerja sama aku. Sudahlah! Jangan mikir macam-macam, kamu tenangin diri aja dulu. Ntar, kalau udah tenang baru kita ngomong, ya?" sahut Jati tegas.

"Jati, makasih, ya. Aku boleh di sini dulu, kan? Ntar, kalau pengunjung sudah pergi baru aku keluar, aku malu karena kejadian tadi," ujar Sekar dengan mata sembap pada Jati.

Anggukan dan senyuman Jati memberinya kelegaan, bahwa Jati memahami posisinya yang sangat tidak nyaman. Akhirnya Jati beranjak keluar dari ruangan itu, Sekar butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya.

****

Hari ini suasana hati Jati tidak tenang, karena seharian dia berjualan sendiri. Sekar tidak muncul di warung, lelah ditengoknya pintu masuk berharap sosok Sekar berdiri dengan senyum manisnya di depan pintu, tetapi wanita yang ditunggunya tak muncul datang. Hingga menjelang sore, Nita, Ambar dan Ningsih datang ke warung seperti biasanya. Kesempatan bagi Jati menanyakan kondisi Sekar pada mereka.

"Ada kok, di kos. Kayaknya tadi sempat buat mie goreng di dapur. Dia cuti? Gak masuk hari ini, ya?" tanya Nita yang juga berupa jawaban pertanyaan Jati tentang keberadaan Sekar.

"Kalian mau kan, jagain warungku bentar? Aku mau ke kos buat anter makan dan jeruk hangat. Bentar aja, aku gak bakal lama kok," ujar Jati dengan tentengan bungkusan di tangannya.

"Ya elaaah, kamu perhatian banget, sih? Awas jatuh cinta, lho," balas Nita sambil melirik Jati yang berdiri di depan meja mereka.

"Udah sana! Anterin Sekar jangan lupa dipeluk yang lama, ya! Eeh nih, kasih kue Lemper buat camilan dia," ucap Ningsih sambil mengambil 4 biji kue lemper dari meja dan mengisi tas plastik yang dibawa Jati.

Jati setengah berlari menuju kos Sekar, setelah sampai di depan kamar Sekar, diketuknya tiga kali pintu bercat oranye terang itu. Tak berapa lama, muncul sosok yang seharian sangat dirindukannya.

"Hei, kamu sehat, kan?" sapa Jati pelan.

"Sehat, kok kamu kesini? Yang jaga warung siapa?" balas sekar bertanya.

"Ada Nita sama yang lain di warung, aku titip warung bentar. Cuma mau anterin ini biar kamu makan nasi. Jangan makan mie instan terus, ya," sahut Jati sambil menyodorkan bungkusan plastik yang diterima Sekar dengan senyum.

"Maaf, hari ini aku gak ke warung, kepalaku pusing banget. Besok aku ke warung, ya?" ujar Sekar sambil tersenyum pada Jati.

"Iya, hari ini istirahat aja. Kalau kamu butuh apapun telepon aku, ya. Aku balik dulu, kasian Nita jaga warung," balas Jati sambil tertawa.

Ada kelegaan melihat kondisi Sekar yang tampak lebih tenang. Dan hatinya sangat kehilangan wanita cantik ini, padahal baru sehari tidak muncul di warung.
Jati tahu yang dia rasakan pada Sekar adalah cinta, tetapi Jati masih takut untuk mengutarakannya. Sampai hari ini hanya berisi permohonan dalam doa yang tak pernah lupa Jati panjatkan.

Doa yang menjadi rahasianya. Meminta agar Sekar bekerja dan mendapatkan rejeki yang halal, menjadi wanita yang takut pada Tuhan, dan meminta agar tuhan menjaga Sekar untuknya.

Senyum Jati mengembang bila membayangkan kelakuannya yang diam-diam mencintai Sekar, seperti orang yang tidak berpijak pada bumi. Terlalu lancang mencintai wanita cantik yang hanya bisa dinikmati pesonanya dari balik meja, menikmati tiap derai tawanya bila Sekar sedang duduk makan bersama teman- temannya, bahkan bergetar hatinya bila Sekar memanggil namanya hanya untuk memesan makanan atau minuman di warungnya.

Jodoh adalah urusan sang pencipta, yang Jati tahu dia harus menyerahkan pada Tuhan segala urusannya. Termasuk menyerahkan urusan hatinya pada Tuhan.

***
Pagi yang dingin, Sekar baru selesai mandi. Wajahnya tampak segar, dipolesnya bedak dan lipstik agar wajahnya lebih merona. Dipilihnya baju dress potongan sederhana dari bahan katun berwarna hijau toska tanpa lengan, yang sandingkan dengan kardigan tipis berwarna hitam yang lengannya dinaikkan hingga siku. Sekar sangat cantik, beberapa kali berputar di depan cermin. Hingga dia yakin bahwa tampilannya cukup sopan dipandang orang.

Kali ini Sekar sangat memikirkan hal kecil termasuk apa yang akan dikenakan Sekar untuk berjualan di warung Jati.
Dengan langkah ringan Sekar berjalan menuju warung, hari ini Sekar bertekad untuk menjadi manusia baru.

Semalaman Sekar merenung tentang hidupnya, tentang masa depannya. Bahwa dia sudah mantap untuk meninggalkan dunia hitam yang sebelumnya dia jalani. Sekar akan meminta kebaikan hati Jati untuk sementara ini menerimanya bekerja di warung, sementara dia akan melamar pekerjaan di beberapa toko dan konter yang ada di pusat kota.

"Assalamualaikum ...." Salam yang jarang di ucapkan Sekar selama ini, terucap ringan dari bibirnya pagi itu.

"Waalaikumsalam. Hai, Tuan Putri, cantik sekali," sapa Jati sedikit terkejut mendengar salam yang baru pertama kali didengarnya dari bibir Sekar.

"Tuan Putri dari batok kelapa?" sahut Sekar sambil tertawa.

"Bukan, tapi Tuan Putri dari laut Selatan," balas Jati tertawa.

"Tumben udah pulang pasar? Apa aku yang kesiangan?" tanya Sekar sambil melangkah masuk mencari sapu di tempat biasanya.

"Gak juga. Tadi aku gak belanja banyak makanya cepat balik. Hari ini ada pesanan nasi bungkus dari Bu Fajar untuk pengajian di rumahnya," sahut Jati sambil memperhatikan Sekar yang menyapu warung dengan cekatan.

"Waah, rejeki, tuh. Aku bantuin apa?" balas Sekar antusias dan tersenyum.

"Bantuin goreng ayam, ya, trus ntar bantuin bungkus nasinya. Mie goreng biar aku yang bikin," Jati membagi tugas disambut anggukan Sekar tanda setuju.

Setelah Sekar selesai menyapu, lalu membereskan meja tempat jualan, mengelap semua meja makan, mengatur kursi menjadi rapi, dilihatnya Jati keluar dari dalam dengan membawa bungkusan plastik berwarna putih, Jati datang menghampirinya dan duduk di meja dekat Sekar berdiri.

"Sekar, aku mau ngomong bentar," ujar Jati sambil menggeret kursi untuk Sekar.

"Apaan? Kayak mau interogasi aja, aku jadi takut," goda Sekar sambil memegang dadanya seolah meredam gemuruh.

"Nih, aku mau kasih ini. Maafkan aku ya, kamu jangan tersinggung. Aku bingung mau kasih kamu apa, yang aku tahu aku pengen kamu pakai ini selama kamu kerja di sini," ujar Jati sambil menyodorkan bungkusan plastik pada Sekar.

Dibukanya bungkusan plastik itu, dan Sekar sangat terharu saat melihat isi plastik itu. Sebuah mukena putih dengan bordir sederhana yang sangat lembut dipegang. Lalu ditatapnya Jati dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jati, masih pantaskah aku mengenakan ini? Setelah semua yang aku jalani? Aku tuh, kotor banget, perempuan hina, gak pantas," ujar Sekar tersedu.

"Tidak ada yang tak pantas di hadapan Allah. Kamu gak boleh bilang gitu. Allah tuh, maha pengampun dan segala dosa akan dimaafkan-Nya," ujar Jati lembut.

"Aku harus mulai dari mana, Jati? Tolong beritahu aku, aku takut salah lagi," balas Sekar tersedu. Bahunya sesegukan menahan tangis.

"Mulailah dari bertobat, kuatkan hati untuk beribadah. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi lebih baik, setiap kali mendengar suara Adzan tolong lepas pekerjaanmu dan pergilah sholat," ujar Jati tanpa ingin menasihati Sekar.

"Jati kamu baik banget, aku gak tahu harus bilang apa. Kasih aku waktu bekerja di sini sampai aku mendapatkan pekerjaan baru, ya? Aku mau melamar jadi pelayan toko di kota," ujar Sekar menjelaskan niatnya pada Jati.

"Kenapa kamu harus bekerja di tempat lain? Kamu gak betah kerja di sini? Atau kamu mau pindah dari kos itu?" tuntut Jati dengan banyak pertanyaan.

"Bukan gitu, aku gak enak merepotkan kamu. Hutangku masih banyak di kamu. Aku cuma jadi beban kamu di sini," balas Sekar sambil menunduk.

Sejenak mereka berdua diam tanpa bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Jati menghela nafas dengan berat dan tanpa sadar memegang tangan Sekar yang berada di atas lipatan mukena putih pemberian Jati.

"Bismillah, aku bingung harus mulai dari mana. Aku bukan orang yang bisa merayu, tetapi yang aku tahu aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu hingga di tiap doaku ada nama kamu yang terucap. Meminta Allah menjaga kamu untuk aku, Sekar maafkan aku lancang mencintaimu selama ini. Tapi hari ini aku memintamu untuk diam di sini, menjadi penjaga hatiku untuk selamanya. Aku gak bisa menjanjikan apapun selain kehidupan yang kamu lihat sendiri hanya warung kecil, yang mungkin bisa menjadi besar suatu hari nanti bila kita kelola bersama. Tapi tolonglah jangan pergi, diam di sini. Atau kita menikah? Agar semua menjadi sah? Aku binggung Sekar, demi Allah aku gak mau kamu pergi jauh," ujar Jati panjang dengan hati bergetar.

Sekar yang duduk di depannya hanya bisa diam, menangis dan tersenyum dalam waktu bersamaan. Lelaki baik yang sangat polos ini ternyata mencintainya, ingin menikah dengannya dan yang membuat Sekar terkejut adalah pernyataan bahwa Jati selama ini selalu menyisipkan doa untuknya.

"Jati ... terima kasih untuk doamu selama ini, tapi aku bukan perempuan baik-baik," balas Sekar pelan seakan malu pada kenyataan bahwa dia adalah wanita kotor dibandingkan dengan Jati.

"Aku tidak mau tahu masa lalumu, yang aku tahu aku mencintaimu sejak dulu hingga saat ini. Saat kamu mau menjadi Sekar yang baru, dengan jiwa yang baru, aku tambah mencintaimu, ingin menjagamu selamanya," ujar Jati sambil menggengam tangan Sekar lebih erat.

Sementara Sekar di hadapannya hanya bisa diam dan menagis bahagia. Ia mengangguk dalam tangis lirihnya. Dengan senyum bahagia, Jati memberanikan diri untuk menggenggam kedua tangan Sekar erat-erat. Dikecupnya perlahan punggung tangan wanita itu, seolah Sekar adalah kaca rapuh yang mudah pecah, yang perlu dijaga keindahannya baik-baik. Bagi Jati, Sekar lebih dari itu.