Tenang, damai, di masa pandemi, bisa kah?

Mengatasi pandemi tidak cukup dengan vaksin. Menjaga imunitas serta menerapkan 3M adalah kunci

Tenang, damai, di masa pandemi, bisa kah?
Foto oleh Binny Buchori

 

“Mengapa Romeo memutuskan untuk meminum racun di akhir cerita Rome and Juliet?”tanya

 dosen drama kepada kami, mahasiwa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada. Kelas hening, sesaat. Kemudian terdengar suara tegas namun lembut: “karena Romeo tidak tahu bahwa Juliet tidak mati,” ahhh rupanya Retno, salah satu mahasiswa yang terpandai di kelas menjawab.  Bapak dosen tersenyum, “betul, itu salah satu sebab. Namun ada sebab lain, mengapa Romeo sampai tidak tahu?,” lanjutnya. Kami semua berpikir keras, maklum naskah Shakespeare ini terlalu susah bahasanya, jadi diperlukan upaya luar biasa untuk bisa mengerti naskah tersebut, apalagi mengingat semua detilnya. Karena kelas hening, pak dosen akhirnya berkata:  “karena Romeo tidak menerima pesan dari Juliet. Romeo tidak bisa dihubungi, karena tempat Romeo dikucilkan terkena wabah. Tidak ada orang yang boleh masuk ke kawasan itu. Itulah titik tragedinya: rencana manusia buyar, karena wabah.”  

Entah mengapa ingatan saya melayang pada momen pembahasan Romeo and Juliet ketika saya masih kuliah, saat diumumkan kasus COVID-19 pertama di Indonesia bulan Maret 2020. Seandainya kisah Romeo and Juliet terjadi pada abad ke 21 ini, mungkin akhir cerita akan berbeda. Karena meski pun Romeo tidak bisa keluar kawasan, dia masih bisa whatsapp dengan Juliet.  Dan mungkin Romeo juga sibuk mencari informasi tentang bagaimana menghadapi pandemi ini.

Hmmmm, seru juga membayangkan Romeo bingung mengunyah berbagai informasi tentang pandemi, sama bingungnya dengan saya. Semenjak pandemi, bisa disebut ruang publik  begitu gaduh dengan berbagai berita mengenai asal usul virus. Topik yang juga selalu dibicarakan adalah tips kesehatan untuk menanganinya, laporan mengenai cara berbagai negara mengendalikannya, serta analisa dari beragam pakar. Terlalu banyak. Saya sungguh merasa jenuh dan bahkan makin khawatir. Betapa tidak, begitu membuka sos-med, whats app, facebook, isinya tentang miss corona. Pembicaraan off-line pun sama dan sebangun dengan kehebohan di sos-med. Berpapasan dengan tetangga, ngobrol di telpon seluler dengan keluarga  dan sahabat selalu saja mebicarakan mengenai COVID 19. Cilakanya pembicaraan off -line ini sering mengacu kepada kehebohan di sos-med. 

Begitulah, minggu berganti bulan dan tidak terasa sudah 11 bulan COVID-19 menghampiri kita. Namun kehebohan dan keseruan membicarakan COVID-19 ini tidak berkurang.  Kadang rasanya sudah jenuh sekali di rumah lalu ingin ngopi-ngopi, tetapi setiap kali mengingat bahwa sekarang adalah masa pandemi, nyali jadi ciut. Batuk sedikit, bingung, bersin-bersin gelisah. Tapi untuk membuka web belajar sendiri tentang miss corona ini kok takut ya. Pengetahuan saya terbatas pada hal-hal  yang umum saja: tingkatkan imunitas, karena belum ada obatnya. Terapkan protokol kesehatan, dan tunggu vaksin. Jadi saya berdebar-debar menunggu hadirnya vaksin, dan ketika vaksin makin dekat, saya makin senang, namun kemudian khawatir lagi karena entah kapan giliran saya mendapatkan vasksin. Saya termasuk golongan yang tidak atau belum bisa mendapatkan vaksin, karena usia dan mengidap co-morbid. Wahhh gimana nih?

“Sudah hentikan buka-buka sos-med, lihat berita di TV atau baca koran. Tenangkan pikiran,” kata Nanik sahabat saya yang dokter dan pakar kesehatan masyarakat.  “Ingat, dalam menghadapi pandemi ini yang pertama kali harus kita pahami adalah menjaga imunitas kita,” lanjutnya. Suaranya yang terdengar tenang di telpon membuat saya juga tenang. “Iya, aku tahu. Udah olah raga, udah bikin wedang jahe, teh campur sereh, olah raga” sahut saya dengan nada sewot, karena merasa digurui. “Wah udah bagus tuh, tinggal ditambah lagi sedikit: pengetahuan tentang karakter virus itu,  bagaimana kita bisa memperkecil resiko tertular,” lanjut Nani dengan suara masih sabar. “Itu juga udah tahu, 3 M kan, terapkan Prokes?  Udah aku lakukan. Masalah vaksin ini lho sebagai senjata pamungkas yang aku gelisah. Gimana kalau gak dapat vaksin di masa pandemi. Aku serem jadinya,” kata saya. “Eeeh vaksin itu  bukan senjata pamungkas lho. Tetap 3 M, meningkatkan imunitas itu yang penting. Udah ikut webinar aja besok ya. Ini keren webinarnya, judulnya aja menarik, Vaksin Saja Tidak Cukup,” pungkas Nani. Saya sebetulnya tidak terlalu antusias, karena takut menjadi lebih gelisah, tetapi saya niatkan  untuk ikut, agar tambah pengetahun.

Dan benar saja, webinar yang berlangsung  hampir 3 jam itu memang padat dengan informasi dan pengetahuan: karakter virus, informasi mendalam tentang khasiat ramuan tradisional untuk menigkatkan imunitas tubuh, pengobatan kesehatan tradisional, serta inhalasi aroma terapi untuk kesehatan saluran pernapasan. Disampaikan oleh para pakar dengan cara authoritative dan komunikatif, informasi dan edukasi di sore itu membuat saya menjadi tenang. Saya menjadi  tahu bahwa dengan cara-cara yang tidak sulit, saya bisa menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh dan yang paling penting, tidak bingung karena belum divaksin.

“Kunci utama memutus mata rantai penularan COVID 19 adalah dengan mengubah peri laku, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan” kata dr Alexander Ginting Spesialis Paru “Jadi jangan tanyakan kapan pandemi akan berakhir, tetapi tanyakan kepada diri sendiri kapan bisa disiplin memakai masker, menjaga jarak dan cuci tangan,” tandasnya. Wahh, saya merasa tenang, karena saya sudah menerapkan 3 M. Dalam pemaparannya, dr. Alex, yang juga  Tim  Dokter Kepresidenan serta Kabid Kesehatan Satgas Nasional COVID-19 ini,   menjelaskan bahwa imunisasi memang penting, terutama untuk menurunkan kesakitan dan kematian akibat COVID-19, serta mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), namum vaksin tidak memutus mata rantai penularan. Ooh, begitu kata saya dalam hati, okay, jadi menjaga imunitas dan menerapkan 3 M adalah kuncinya, saya pun merasa tenang. Meski saya juga memilik co-morbid, ternyata saya juga tidak perlu terlalu parno, karena menurut dr. Alex, yang penting menjaga co-morbid selalu terkontrol, menjaga imunitas dan menerapkan 3M.

Bagaimana menjaga imunitas? Tenang, Bahagia, cukup istirahat makan makanan yang bergizi dan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Saya kembali tersenyum lega  ketika Prof. Dr. Mangestuti Agil, Apt. MS, Guru Besar Farmakognisi , Universitas Airlangga menyampaikan bahwa rempah-rempah kita sangat berkhasiat untuk meningkatkan imunitas tubuh kita. “Sistem imunitas atau pertahanan tubuh kita, harus selalu dijaga, karena imunitas memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menghadapi serangan invasive,” kata Prof. Mangestuti. Karena itu imunitas harus selalu dijaga dan diupgrade, jelasnya lebih lanjut. Berbagai rempah kita banyak yang berfungsi sebaga imunostimulan, antioksidan dan neuroprotector, seperti bawang merah, bawang putih, kayu manis, ketumbar, pala hitam, jintan hitam, kapulaga kunyit. “imunostimulan, antioksidan dan neuroprotector itu penting karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah peradangan serta kerusakan sel,” jelas Profesor Mangestuti.

Aaah, kekhawatiran saya makin berkurang karena saya senang mengkonsumsi wedhanb uwuh, wedhang jahe, kunyit asam, beras kencur dan sebangsanya. Artinya pertahanan saya bisa saya tingkatkan. Dan saya menjadi makin tenang ketika mendengarkan penjelasa dari dr. Wanarini Aries, sp.KFR, dari Departemen Rehabilitasi  Medik RSCM, bahwa aromatherapy dengan menggunakan minyak atsiri dapat merawat saluran pernapasan kita dan juga dapat membuat kita merasa damai dan Bahagia. “Minyak atsiri akan mensimulasi bagian-bagian pada otak, sistem limbik yang mempengaruhi emosi.” kata dr, Wanarini Aries. Minyak lavender, sering disebut dapat memberikan rasa tenang, lanjut dr. Wanarini.

Saya merasa semakin mantap ketika mendengarkan penjelasan dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes RI, yang menyatakan bahwa pelyanan  kesehatan tradisional juga dianjurkan oleh Pemerintah. Khasiat rempah-rempah   dan tanaman seperti kayu manis, temulawak, sereh, daun kelor, diakui memilki khasiat untuk meningkatkan imunitas, mengatasi keluhan kesehatan ringan seperti pusing, batuk pilekdan mengatasi penyakit degeneratif.

Saya benar-benar merasa gembira, tenang, setelah webinar selesai.  Menjalani kehidupan di masa pandemi ini ternyata bisa dijalankan dengan santai tetapi waspada. Menjaga imunitas itu menyenangkan: membuat ramuan rempah-rempah, menenangkan diri dengan aroma terapi, dan senantiasa disiplin menerapkan 3 M dan tentu saja berdoa dan berbahagia.

#VaksinSajaTidakCukup