Menikmati Klangenan, Memburu Kebahagiaan

Menikmati Klangenan, Memburu Kebahagiaan

Dulu saya suka traveling. Bila singgah di sebuah kota, saya lebih memilih jalan kaki untuk menikmati eksotisme yang sedang saya buru, tentang hal-hal remeh dari denyut nadi kota, juga gaya hidup dan dinamika sosial masyarakat urban yang saya singgahi.

Kebiasaan ini juga berlaku bila sedang jalan-jalan mengisi waktu luang, berkeliling kota Solo. Pilihan saya selalu tempat-tempat yang identik dengan kota kelahiran, Jogja, agar sekalian bisa membunuh rasa kangen. Bagi saya, ada banyak kemiripan dengan kedua kota bersaudara peninggalan Dinasti mataram tersebut.

Ada beberapa tempat eksotik di Solo yang bisa mengisi ruang rindu pada kota Jogja. Sebut saja Los Buku Sriwedari. Saya paling suka berburu buku bekas di kawasan yang berada di belakang Stadion legendaris R Maladi itu. Ingatan saya setiap hunting buku atau keperluan lain di kawasan itu, selalu melayang ke suasana serupa di Shoping Center Jogja tempo doeloe ( sekarang Taman Pintar Book Store), yang pernah jadi jujugan pelajar-mahasiswa-dosen juga para kutu buku berburu buku bekas dan sejenisnya.

Menikmati transaksi dengan para penjual yang bersahaja sungguh membahagiakan. Mereka berdagang bukan sekadar profit oriented, tapi berbagi rezeki dengan tetap menjaga harmoni kehidupan di antara para penjual lain. Bila buku yang kita cari tak ada di toko tujuan, kita akan dirujuk ke penjual sebelah, siapa tahu menyediakan buku yang dicari.

Begitulah romansa kehidupan yang tak pernah pudar oleh arus kapitalisasi modal yang hampir merubah sebagian besar wajah perkotaan dan manusia di negri ini. Sambil menikmati wedangan jahe gepuk  legendaris, saya masih merasakan sisa-sisa romantisme masa lalu lewat setiap obrolan di antara para pengunjung di angkringan; syahdu dan ngangeni.

Dari Sriwedari, pilihan yang hampir sama adalah para penjual buku dan majalah bekas di bawah rindangnya pohon beringin kawasan Gladag. Sekadar bergabung dengan mereka, nongkrong dan wedangan di samping para penjual klithikan, akik dan keris, serasa nikmat. Meski tepat di pusat kota, tak ada tanda-tanda mobilitas gaya orang kota yg nampak sibuk dan terburu-buru. Langgam kehidupan mereka menggoda saya ikut menikmati gaya hidup yang sakderma namun penuh kebahagiaan, seakan tak memiliki beban hidup. Suasana itu sekilas mengingatkan saya pada kehidupan di Alun-Alun Sawendanan, Pakualaman Jogja, di mana dulu saya sering menghabiskan malam dengan secangkir teh poci sambil menikmati geliat kehidupan orang-orang bertransaksi; dol tinuku yang khas dan nyenengke.

Soal  kuliner, meski kini menjamur berbagai varian kuliner yang serbaneka, pilihan saya tak pernah beranjak, antara nasi gudeg dan nasi liwet. Dua kuliner khas Jogja-Solo yang hanya saya nikmati pada waktu tertentu,  saat menikmati kesendirian.

Untuk Gudeg, saya lebih memilih berburu ke kota asal, di depan pasar Lempuyangan selepas subuh, agar bebas menikmati tanpa terganggu orang lalu lalang yang mungkin masih mengenal saya. Sementara nasi liwet, jujugan paling pas ada di kawasan perempatan Kartasura. Sambil lesehan di antara para pembeli lain, sensasi menikmati kuliner khas Solo ini sangat pas disantap di larut malam; sejenak melupakan rutinitas, membunuh rasa suntuk dan menghindar dari kegaduhan jagad sosial media yang tak berkesudahan.

Bila Anda ingin hidup lebih lama dan penikmat kehidupan, jangan sia-siakan waktu hanya untuk berburu rupiah dan menumpuk pundi harta yang belum tentu bisa dinikmati. Sisihkan sedikit ruang untuk memaknai kesejatian hidup, agar kita bisa lebih mengenal dengan yang memberi hidup sekaligus memahami arti dan tujuan hidup.

Dan ingat, salah satu yang membahagiakan dalam hidup itu berburu buku dan kuliner sambil menikmatinya. Abaikan kolestrol, asam urat, diabetes dan Debt Collector.