Mengakses Ruang Hening dengan Self Hypnosis

Mengakses Ruang Hening dengan Self Hypnosis

Self hypnosis adalah upaya mengakses ruang hening bernama subconscious diri, lalu melakukan program baik terhadap subconscious diri tersebut. Program itu oleh beberapa orang dipanggil sebagai "self talk", semacam ucapan atau doa baik terhadap dan untuk diri sendiri.

Self talk sebenarnya bisa dilakukan tanpa perlu kita mengakses subconscious diri kita. Kita bisa melakukannya di mana saja. Saat menjelang tidur, baru bangun tidur, sambil sarapan, ketika nyetir, kala kerja, mau meeting, dan di mana pun.

Tapi, jauh lebih baik seandainya kita lakukan di ruang subconscious, karena tentu lebih efektif. Kenapa? Karena lagi-lagi, subconscious kita daya dominasinya terhadap tindakan kita sangat besar, yaitu 88%. Sementara di momen biasa, saat conscious kita aktif, efektivitasnya hanya 12% saja.

Saya sendiri nggak rajin melakukan Self Hypnosis. Semau saya aja. Terkhusus di waktu-waktu emergency. Dan saya merasakan ada banyak manfaatnya.

Sekitar 3 atau 4 minggu lalu, misalnya, saya mesti mengisi workshop 2 hari nonstop, membimbing anak-anak muda potensial untuk jadi agent of change bagi daerahnya. Kebetulan badan saya lagi nggak fit, karena seminggu sebelumnya juga saya habis ada workshop 2 hari full day. Badan saya kuat, hanya leher sedikit serak, sepertinya panas dalam.

Kebiasaan saya, kalo lagi membawakan materi workshop, saya biasanya kayak "trance", lupa bahwa badan saya lagi nggak fit. Nggak tau kenapa, kalo lagi presentasi depan client, lagi bawain seminar, saya biasanya sambil jingkrak-jingkrak kayak orang kinestetik banget, hahaha. Itu pula rupanya waktu saya sangat aktif di iklan, kalo ada project pitching, salah satu client selalu menyertakan team saya terlibat dalam pitching itu meski misal kalah melulu--rasanya client ini cuma buat ngisi hiburan aja di momen presentasi, hahaha... (Nyebelin banget, kan????).

Nah, begitu pun di Hari Pertama workshop saya, saya gak nyadar bahwa sepertinya badan saya perlu istirahat, walau saya merasa baik-baik saja.

Lalu apa yang terjadi?

Tepat setelah workshop selesai, pukul 18.00, suara saya mulai terasa serak banget. Seperti nggak stabil.

Saya mulai panik. Gimana kalo suara saya hilang di Hari Kedua besok?

Saya pun pulang ke rumah Kakak saya, untuk istirahat. Oya, lokasi workshop saat itu adalah daerah kelahiran saya, sekitar 300 km dari lokasi Bogor, domisili saya sekarang.

Esoknya, begitu bangun, pukul 5 pagi, saya kaget minta ampun, karena suara saya benar-benar TOTAL hilang! Saya nggak bisa ngomong satu bunyi pun. Yang terasa cuma suara hembus angin yang ganjil banget.

Saya minta sama Kakak saya untuk dibuatkan air jahe dan jeruk nipis. Juga semua upaya untuk mengembalikan suara saya. Termasuk minum Adem Sari botol yang katanya baik untuk mengembalikan suara yang hilang.

Hasilnya, dikit membuat tenggorokan saya lebih nyaman, tapi tetep saya masih gak bisa ngomong.

Saya menyerah. Lalu saya WA sahabat saya, insisiator workshop tersebut, bahwa suara saya HILANG TOTAL. Tapi saya tetap ingin melanjutkan workshop tersebut, karena jauh-jauh mereka mengundang saya, dan melihat peserta sangat antusias, sangat disayangkan kalo workshop Hari Kedua mesti dibatalkan.

Saya memutar otak. Maka disepakati, workshop akan dilakukan dengan: Saya tetap hadir di kelas, tapi materi saya bawakan TEXTING. Jadi, saya menulis langsung di word dan diproyeksikan ke layar, sehingga seluruh peserta yang berjumlah 53 orang itu bisa membacanya. Tentu bakal berabe banget. Tapi, itu satu-satunya cara.

Nah, sebelum berangkat, saya memberi ruang hening sejenak pada diri saya untuk istirahat. 30 menit saya melakukan doa dan Self Hypnosis. Saya berkomunikasi pada Tuhan, lalu pada diri saya sendiri. Pada bagian-bagian tubuh saya. Terkhusus pada leher saya, tenggorokan saya, nafas saya, dan semua sistem bicara saya. Saya minta berdamai. Bahwa mereka bagian dari saya, dan saya bagian dari mereka. Maka ini saatnya bersinergi, saling memahami dan berdamai, dalam kadar momen emergency ini.

Saya mengizinkan diri saya untuk sementara sakit dan proses penyembuhannya berjalan natural, tapi saya minta sistem tubuh saya mengizinkan saya untuk bisa bicara pada peserta di Workshop Hari Kedua ini.

Lalu, saya pun berangkat dengan suara saya tetap hilang total.

Saat bertemu sahabat saya, saya meyakinkan ulang bahwa workshop insya Allah berjalan lancar meski dengan format TEXTING tadi. Saya hanya minta ditemani oleh team dia untuk membantu saya bila komunikasi terkendala.

Saat di depan peserta workshop, team yang memberi saya asistensi tersebut memberi pemahaman pada seluruh peserta bahwa suara saya total hilang, dan materi akan saya bawakan lewat TEXTING. Peserta pun nggak keberatan. Mau gimana lagi, kan?

Saya pun bereksperimen membuka laptop dan exercise melakukan LIVE TEXTING dengan huruf-huruf diproyeksikan lewat infocus. Aman!

Ketika acara siap dimulai, saya iseng membaca salam. Eh, saya kaget, karena tiba-tiba suara saya muncul meski nggak jelas.

Peserta juga kaget, dan sedikit ketawa mendengar suara aneh saya yang nggak stabil.

Saya coba baca salam sekali lagi. Kini suara saya lebih jelas. Lalu saya coba bicara lebih panjang, dan ajaib, suara saya menjadi normal.

Maka, workshop pun berjalan seperti biasa.

Saya kembali dalam kebiasaan trance saya saat membawakan materi workshop. Hanyut dalam kegembiraan dan antusiasme peserta yang luar biasa.

Tepat pukul 18.00 saya akhiri workshop. Dan pukul 19.00 malam, ketika saya sudah berada di rumah kakak saya, suara saya kembali hilang untuk 3 hari ke depan.

Saya sangat amat berterima kasih pada Tuhan, karena Ia mengabulkan doa saya. Saya juga berterima kasih pada sistem tubuh saya, karena bersedia berdamai dengan saya.

Sampai di Bogor, saya pun singgah ke rumah dokter sahabat saya, untuk berobat seperti biasa kalo saya sakit.

Bagi saya, self hypnosis sangat amat membantu saya. Membantu untuk menghadirkan ekselensi saya. Membantu tubuh dan pikiran saya berada dalam state terbaik saya. 

Terima kasih Allah atas segala ciptaanMu.
????❤️????????