Menenteng Kepala ke Belantara Liar Afrika

Setiap kali menonton NatGeo Wild, aku acap merenung; seliar apa pikiranmu jika dibandingkan Amazon atau belantara liar Afrika?

Menenteng Kepala ke Belantara Liar Afrika
Foto: Net

Alam liar Afrika hingga hutan Amazon di Amerika selalu menjadi tontonan menarik bagiku. Maklum, sejauh ini baru bisa menikmatinya lewat tayangan TV semisal di NatGeo Wild.

Bisalah kubilang, dari seluruh tayangan di TV, cuma yang kudapat dari rekaman alam liar itulah terasa lebih nyambung dengan pikiran liarku. 

Eh, sudah tiga kali kugunakan kata "liar" saat kata-kata kususun baru dua paragraf. Setidaknya, beginilah gambaran ketertarikanku terhadap hal-hal yang liar. 

Kalau ada hal yang tak terlalu liar dari diriku sendiri mungkin hanya urusan seks. Selain istri nggak suka aneh-aneh, aku pun ogah main paksa dalam urusan ini. Lagian, rata-rata lelaki dari lajang sudah dilatih oleh keadaan untuk bisa menangani banyak hal dengan tangan sendiri.  

Seliar apa imajinasimu saat membaca paragraf di atas? Membayangkan seorang lelaki beristri melakukan onani? Terserah saja. Pikiran liar tidak boleh dihalang-halangi. 

Begitulah paling tidak, dalam hematku. 

Pikiran yang terlalu dibatasi, khawatirnya, malah bikin ia malas bekerja.

Jika pikiran sudah malas bekerja, tentunya sulit berharap ia tampil dengan tangguh saat menghadapi "belantara Afrika" dalam realita hidup, atau "Amazon" yang menantang dalam keseharian. 

Selayaknya pemalas, takkan ada banyak langkah bisa digerakkan. Jika langkah sudah tak bergerak, alhasil cuma bisa berputar-putar hanya di satu tempat. Jika sudah begini, apa bedanya hidup dengan mati? 

Di alam liar, kemalasan itu mematikan. Sebab di sana dibutuhkan mata yang tajam, kecerdikan terasah, otot yang kuat, anggota tubuh cekatan, dan tak pernah takut pada yang namanya tantangan. 

Eh, kapan ada rencana ke Afrika atau ke hutan Amazon? Jangan ke sana dulu, jika pikiran sendiri kaubiarkan terpenjara ketakutan.***