MENEMUKAN MUARA ( part 4)

MENEMUKAN MUARA ( part 4)

MENEMUKAN MUARA ( Part 4)

Pendidikan adalah Atmosfer,Disiplin,Kehidupan

 

Butir ke-5 dari 20 Filosofi Pendidikan Charlotte Mason ( CM) : hanya ada 3 instrumen Pendidikan yang boleh digunakan untuk mendidik anak yaitu : 

  1. Atmosfer Alamiah
  2. Disiplin Kebiasaan Baik
  3. Penyajian Ide-ide Hidup

Ke-3 instrumen itu menjadi moto Pendidikan CM : Pendidikan adalah atmosfer,disiplin ,kehidupan.

  1. Atmosfer Alamiah

CM berpendapat bahwa pikiran adalah hidup dan bersifat spiritual. Sebagaimana tubuh, pikiran juga tumbuh sehingga perlu diberi makanan. Makanan untuk pikiran adalah makanan spiritual berupa ide-ide atau gagasan. Ide atau gagasan yaitu sesuatu yang mengaktifkan benak yang ditransfer dari satu pikiran ke pikiran lain sebagai imaji mental. Layaknya angin, ide itu  tidak kasat mata namun dapat dirasakan.

Saat mendengarkan Mozart, membaca karya tokoh dunia, menyimak pidato yang bernas, menonton film yang menyentuh jiwa,melihat lukisan Van Gogh atau saat mengamati keluarnya kupu-kupu dari kepompong ; ada sesuatu  yang muncul dan dirasakan sehingga memantik sudut pandang baru , menggugah minat intelektual , memperkaya hati dan  membangun karakter.

Pikiran menuntut makanan yang berbobot, yang berkualitas. Makanan itu tidak akan didapatkan dari banyaknya latihan soal yang dikerjakan, pelajaran moral yang disampaikan dengan ceramah panjang yang membosankan atau setumpuk buku untuk Latihan eksperimen. Mungkin saja bermanfaat tapi tidak memuaskan kebutuhan spiritual anak. Darimana bisa disimpulkan begitu ? karena saat perut lapar tanpa diminta anak akan minta makan, saat pikiran lapar namun makanannya tidak sesuai ( bukan makanan spiritual) maka anak menolak memakannya. Pelajaran hanya sebatas kewajiban memenuhi nilai, bukan memuaskan rasa lapar pikiran.” Kita semua menginginkan pengetahuan sama halnya dengan hasrat tubuh menginginkan roti “( Vol.6,hal.90).

Lalu dari mana ide-ide tersebut akan didapatkan? Bagi seorang anak,ide  pertama yang akan ia serap berasal dari atmosfir kehidupan alamiah yaitu kehidupan dalam keluarga, baru kemudian kehidupan di tengah masyarakat. Mengapa ? karena anak butuh lingkungan apa adanya , bukan artifisial yang dibuat-buat dan itu adanya dalam kehidupan keluarga. Anak menyerap banyak hal  pada  setiap anggota keluarga melakukan aktifitas, saat meluapkan emosi, mengisi waktu , cara memecahkan masalah, bersikap terhadap sesuatu dan sebagainya. CM bilang,sepertiga hasil Pendidikan disumbang oleh atmosfer rumah tangga,yakni “ide-ide yang memancar dari kepribadian orangtuanya,yang mereka jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.”

Orang tua adalah inspirator anak,tapi bukan pencetak karakternya karena anak telah membawa potensi kepribadiannya sendiri, namun orang tua dapat menjadi inspirasi dalam proses pembentukan karakternya ( Vol 2. Hal 33).

Pemikiran CM yang menentang lingkungan artifisial bagi pendidikan  yang membuat anak jauh dari lingkungan alamiahnya atau lingkungan normal yang ada di luar sekolah. Misalkan sekolah  yang menerima hanya di satu jenis kelamin yang sama, satu agama, bergaul hanya dengan teman sebaya yang berstrata social sama atau ber-IQ dengan level sebanding. Anak harus bergaul di lingkungan real yang memiliki keragaman status social, lintas usia, agama dan gender karena seperti itulah alamiahnya lingkungan .

Dengan menyadari bahwa sebagai orang tua kita akan menjadi inspirasi anak, tidak perlu berpura-pura menjadi pribadi lain. Yang perlu kita lakukan adalah memelihara kesadaran bahwa apapun keadaan kita akan dicontoh oleh anak, oleh karena itu kita juga harus terus belajar mendewasakan diri, memperkaya pengetahuan , merefleksi apa yang telah dilakukan, berfikir dan mengkaji lagi apakah sudah sesuai visi pendidikan yang telah ditetapkan teertap di arah yang benar, apakah atmosfer keluarga mendukung visi tersebut.

 

  1. Disiplin Kebiasaan Baik

Pendidikan pada hakikatnya adalah formasi kebiasaan-kebiasaan atau habit training. Menurut CM, manusia adalah a creature of habits artinya makhluk yang terbentuk dari kebiasaan dan pembiasaan. Bidang yang terus dilatih akan dapat dikerjakan dengan mudah,sebaliknya akan buruk bila jarang dilatih, hal ini disebut hukum kebiasaan atau  The Law of habit. Hukum kebiasaan merupakan mekanisme otak untuk menghemat energi dan memudahkan hidup.

            “Setiap hari,setiap jam orang tua sedang membentuk kebiasaan dalam diri anak mereka, entah secara pasif atau aktif yang akan membentuk karakter mereka.” ( Vol 1.hal 118) . Secara pasif dilakukan lewat teladan kehidupan sehari-hari, sedangkan pembiasaan secara aktif dilakukan dengan teratur ,terencana dan bertahap.

            Teratur berarti secara terus-menerus melatih kebiasaan tanpa jeda hingga kurun waktu tertentu hingga kebiasaan itu melekat. Terencana berarti orang tua tau persis kebiasaan bai kapa yang prioritas untuk dilatih. Bertahap artinya dilakukan dari yang mudah-sulit, ringan ke berat.

            Menurut CM kebiasaan mendasar yang harus dilatih adalah kebiasaan memperhatikan ( habit of attention) dan kebiasaan respek serta mematuhi otoritas (habit of obedience) karena proses pembelajaran tidak akan efektif jika anak sulit memusatkan perhatian serta terus memberontak.

            Manfaat habit training akan dinikmati anak sekaligus orang tua.Ini adalah modal berharga yang akan sangat berharga sepanjang hidupnya. Agar berhasil melatih kebiasaan baik pada anak, orang tua perlu melatih dirinya untuk bisa trampil agar memiliki  kebiasaan melatihkan kebiasaan.

            Menurut CM Pendidikan kedisiplinan disebut berhasil bila ibu tenang meninggalkan anaknya berkegiatan sendiri tanpa banyak diberondong dengan kata-kata “harus atau jangan.”

            “Taburlah Tindakan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan,tuailah karakter ; taburlah karakter, tuailah nasib.”

 

  1. Penyajian Ide-ide Hidup

 

Menurut CM tugas orangtua adalah memelihara jiwa anak dengan gagasan sebagaimana ia memelihara kehidupan jasmaninya. Jadi mencukupi kebutuhan material anak saja dengan mengabaikan kebutuhan pikirannya sama dengan mengabaikan jiwa anak. Dalam bentuk yang lebih luas akan terbnetuk masyarakat yang berbadan sehat namun berpikiran kerdil.

Sebagaimana tubuh,pikiran juga ingin bertumbuh. Pikiran mencari ide untuk direnungkan sebagaimana tubuh membutuhkan makanan untuk dicerna. Dan inilah jawaban CM tentang pertanyaan “Mengapa anak perlu belajar?” anak belajar bukan sebatas agar anak “ tahu “tapi jauh lebih dari itu . Ibaratnya  sama dengan tubuh yang diberikan makanan untuk sekadar  asal kenyang tanpa  memperdulikan nutrisi makanan itu. Sekalipun lambung dipenuhi makanan dan otak dipenuhi fakta,tanpa nilai nutrisi yang  cukup dalam asupan itu , tubuh dan pikiran akan tetap kerdil.

Ada pengertian yang salah kaprah dan menyamakan antara pendidikan dan pelatihan.  Pelatihan ( traning) bertujuan untuk menguasai suatu ketrampilan praktis lewat pembiasaan. Inilah yang banyak dilakukan sekolah, contohnya dengan memberikan rentetan latihan dan drilling akademis sehingga akhirnya anak bisa membaca ,menulis,menghafal, berhitung dsb. Sedangkan pendidikan bertujuan membentuk kebiasaan baik dan memasok benak anak dengan gagasan luhur.

Pikiran anak butuh makan.Batin setiap anak menuntut sajian ide-ide bermutu dalam jumlah yang cukup dengan beragam pilihan yang disuplai secara rutin setiap hari sesuai kapasitas usianya :quality-quantity-variety-regularity ( vol6.hal 248).

Anak harus diberikan kurikulum yang kaya. Darimanakah sumbernya? Narasumber terbaik dan tak kan habis adalah buku-buku bermutu yang bernutrisi, CM menyebutnya sebagai Living books. Berlawanan dengan itu adalah buku-buku miskin ide yang disebut Twaddle, dan buku pelajaran sekolah termasuk dalam twaddle.

“Anak itu eklektik, dia bisa memilih entah ini,entah itu. Sajian mana yang akhirnya bisa ia cerna ,ide mana yang ia pilih sebagai inspirasi hidupnya ,itu urusan dia.Kita hanya bisa menawarkan. Namun kita wajib menyajikan yang terbaik. Oleh karenanya taburkanlah benihmu pagi-pagi hari dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari,karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil,atau kedua-duanya sama baik ( Vol 2.hal 39).

 

Refleksi :

3 instrumen Pendidikan yang menjadi Motto Pendidikan CM ini menurut saya adalah jawaban terhadap carut -marutnya pendidikan saat ini khususnya di Indonesia. Mengapa anak tidak suka belajar dan menganggap materi pelajaran adalah beban berat.

Pertanyaan mendasar awal mendidik harusnya dimulai dengan “Mengapa anak perlu belajar?” Orang tua mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban beragam seperti : agar pintar,sukses, bisa berkompetisi di masa depan , bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dsb. Yakinkah dengan jawaban tersebut ? Pintar  seperti apa yang diharapkan? Sukses yang bagaimana, materi kah ukurannya ?benarkah menempuh belasan tahun pendidikan “hanya” bertujuan mencari nafkah? Ternyata kita tidak yakin dengan jawaban kita,kita tidak punya tujuan jelas mengapa anak harus belajar. Ketidakjelasan tujuan inilah yang membuat orang tua tidak memiliki arah dan cenderung ikut-ikutan. Memasukkan les karena yang lain juga les, memilih sekolah A karena katanya bagus, ikut privat biar nilai tinggi dsb.

Anak terlahir dengan membawa potensi bukan murni kertas kosong yang bisa bebas diisi apa saja. Ia memiliki tubuh  yang bertumbuh dan  juga pikiran yang hidup. Tubuh membutuhkan makanan, demikian juga pikiran. Memberikan makanan yang bernutrisi baik akan memberi efek bugar, sehat dan bersemangat tentu saja akan berbeda efeknya dengan makanan yang hanya sekedar kenyang, sama juga dengan pikiran; akan berbeda efeknya bila hanya diberikan fakta, hafalan yang tidak menggugah benak .

Makanan yang baik untuk pikiran adalah ide-ide hidup yang didapat dari sumber  yang tak terbatas yaitu buku-buku bermutu ( living books). Karena buku-buku tersebut akan menggugah benak anak, memberikan inspirasi dan membuat anak ingin tau lebih jauh bahkan juga membentuk karakternya.

Anak harus diberikan lingkungan  alamiah, natural yang dekat dengan kehidupan keseharian, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Lingkungan pertama anak adalah rumah dimana anak menyerap dengan segala indranya apa saja yang ada di rumah itu. Oleh karena itu orang tua harus bisa menjadi inspirator anak.

Atmosfir yang baik tidak akan berhsil tanpa disiplin.Apakah sekolah menghasilkan anak yang disiplin ? bila iya,lalu mengapa sulit sekali membuat masyarakat kita tertib mulai dari yang paling ringan seperti antri, buang sampah sesuai tempatnya,menggunakan helm karena kesadaran bukan karena takut razia, tidak memotong pembicaraan orang lain, jujur, tepat waktu.

Disiplin terbentuk dari kebiasaan yang dilatih secara terencana dan terus-menerus hingga akhirnya menjadi otomatis. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk melatih kebiasaan baik, namun bila itu sudah terbentuk akan sangat menghemat waktu dan tenaga. Orang tua tidak perlu lagi jadi security yang selalu mengawasi anak, atau berteriak untuk terus mengingatkan anak. Saat dewasa kelak, anak yang terlatih dengan disiplin akan memiliki kepribadian yang kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungannya.

Pendidikan berbeda dengan training. Pendidikan bertujuan filosofis , memasok benak anak dengan gagasan luhur serta melatih kebiasaan baik.