Menemukan Muara ( part 3)

Menemukan Muara ( part 3)

MENEMUKAN MUARA ( PART 3)

20 FILOSOFI CHARLOTTE MASON

 

Menurut CM pendidikan harus dipandang sebagai metode, bukan system. Metode berisi 2 hal yaitu visi dan prinsip. Visi adalah tujuan akhir yang kita harapkan dari proses bernama pendidikan sedangkan prinsip akan memandu kita sepanjang jalan menuju tujuan akhir itu.

Berbeda dengan system yang bersifat terstruktur, metode bersifat luwes dan disesuaikan dengan kasus ( customized) sehingga setiap situasi dari kehidupan sehari-hari anak  seperti saat makan, bertamu,bermain atau dalam perjalanan adalah  kesempatan mendidik,tidak harus merancangnya dengan sengaja.

Memahami Pendidikan sebagai metode sangat sesuai dengan kesadaran awal bahwa hakikat anak sebagai pribadi yang utuh yang berbeda satu dengan lainnya. Sehingga menjadikan  “keseragaman” seperti keseragaman kurikulum,minat , gaya belajar  hingga ukuran baku penilaian sebagai standard suatu system menyalahi hakikat dari keunikan anak itu sendiri. “

Menurut CM ; “ Kita perlu lebih dulu menunjuk tegas ke arah satu tujuan akhir,baru kita bisa merancang upaya untuk sampai ke sana. Gagal menemukan filosofi yang menunjukkan tujuan dan cara mencapainya akan menghasilkan depresi,bahkan Tindakan-tindakan gila. Kita mengutip adagium ini,moto itu,sepotong ide dari tempat lain lagi,menjadikannya satu koleksi carikan tambal sulam yang menyedihkan untuk menutupi ketelanjangan kita “ ( Vol.6 hlm 334)

            Pada halaman 8 volume 1, CM dengan tegas menyatakan bahwa “orang tua yang tidak teguh mengikuti satu metode pendidikan yang telah ia pikirkan dengan seksama,adalah orang tua yang gagal memenuhi tuntutan-tuntutan tanggung jawab yang ia terima dari anak-anaknya.”

CM merumuskan pemikirannya tentang Pendidikan dalam 20 butir filosofi, yaitu :

1. Anak-anak terlahir sebagai pribadi utuh – mereka bukan lembaran kosong atau embrio yang baru berpotensi menjadi pribadi utuh. Mereka adalah pribadi utuh.

2. Anak-anak tidak terlahir sepenuhnya baik atau buruk, melainkan menyimpan potensi  untuk menjadi  baik ataupun buruk.

3. Prinsip otoritas dan ketaatan berlaku bagi semua orang entah mereka menerimanya atau tidak. Keduanya bersifat alamiah, niscaya, dan mendasar agar satu kelompok atau keluarga hidup teratur dan harmonis.

4. Prinsip otoritas dan ketaatan harus dibatasi oleh respek pada kepribadian anak. Otoritas bukanlah lisensi untuk menyakiti anak. Orangtua dilarang mempermainkan rasa cinta, rasa takut, sugesti, atau kharisma, atau hasrat-hasrat alamiah anak lainnya.

5. Hanya ada tiga instrumen pendidikan yang boleh digunakan untuk mendidik anak yaitu : atmosfir alamiah, disiplin kebiasaan baik, dan penyajian ide-ide hidup. Inilah motto pendidikan CM, “Pendidikan adalah atmosfir, disiplin, kehidupan”.

6. “Pendidikan adalah atmosfir” bukan berarti mengurung anak-anak dalam suatu lingkungan buatan yang khusus dirancang bagi anak-anak, namun memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam lingkungan alamiah anak sehari-hari dan membiarkannya belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas. Belajar dari hal-hal nyata di dunia nyata. Lingkungan buatan justru menghambat perkembangan kepribadian anak.

7. “Pendidikan adalah disiplin” – disiplin di sini berarti melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik secara terencana, teratur, dan bertujuan, baik kebiasaan mental dalam pikiran maupun tubuh, sesuai dengan hukum-hukum fisiologis.

8. “Pendidikan adalah hidup” berarti pendidikan harus mengurusi baik tubuh, jiwa, maupun ruh anak. Akal budi butuh nutrisi berupa ide-ide, oleh karena itu anak berhak memperoleh kurikulum yang kaya.

9. Pikiran anak bukan ember kosong yang menunggu diisi, melainkan sesuatu yang berdaya hidup, berhakikat spiritual, dengan hasrat akan pengetahuan. Sebagaimana lambung dirancang untuk mencerna makanan, demikianlah akal budi dirancang untuk mencerna pengetahuan dan tidak membutuhkan latihan atau gemblengan khusus untuk membuatnya siap belajar.

10. Filosofi Herbart bahwa akal budi ibarat panggung kosong yang pasif menunggu datangnya informasi dari pihak luar akan membebankan tanggung jawab yang terlalu besar kepada guru untuk menyiapkan pelajaran rinci bagi anak-anak. Padahal, semakin besar upaya guru mencernakan informaasi, semakin anak-anak tidak belajar apa-apa. Anak-anak yang dididik dengan cara ini ada dalam bahaya menerima terlalu banyak pelajaran namun memahami sedikit saja. Cara mengajar akan dianggap lebih penting ketimbang pengetahuan apa yang anak betul-betul peroleh.

11. Namun kita, karena yakin bahwa anak-anak punya kemampuan mental untuk mencerna semua pengetahuan yang ia perlukan, menyediakan kurikulum yang kaya dan bervariasi dan dengan cermat menawarkan hanya pengetahuan yang berdaya hidup, tidak pernah menyajikan fakta tanpa ide-ide yang melatarbelakanginya.

12. “Pendidikan adalah sains tentang relasi-relasi”, artinya secara alamiah anak mengembangkan relasi-relasi dengan sejumlah besar pengalaman dan pengetahuan, maka kita memberinya pendidikan jasmani, pengetahuan alam, hasta karya, sains dan seni, dan banyak living books, karena kita tahu bahwa urusan kita bukanlah mengajarkan segala sesuatu kepadanya, tapi membantunya memiliki sebanyak mungkin relasi dengan perkara dan ide yang ia minati.

13. Dalam merancang kurikulum bagi seorang anak, tanpa membedakan kelas sosial, ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan:

 (a) kuantitas – anak membutuhkan sejumlah besar pengetahuan sebab, sama seperti tubuh, akalbudi membutuhkan makanan mental yang memadai; 

(b) variasi – anak membutuhkan pengetahuan yang beragam sebab ide- ide yang monoton mematikan selera keingintahuan; 

(c) kualitas – anak membutuhkan pengetahuan yang disampaikan dalam bahasa bermutu (well-chosen) sebab secara alamiah ia akan tertarik pada ide yang diungkapkan secara indah (literary form).

14. Oleh karena pengetahuan belum betul-betul menjadi milik seseorang sebelum ia bisa mengungkapkannya, maka anak-anak musti diminta menarasikan apa yang ia telah baca atau dengar, secara lisan atau tertulis, sebagian atau seluruhnya.

15. Prinsip ‘sekali baca’ (single reading) harus dijalankan dengan disiplin, sebab anak-anak secara alamiah punya kemampuan besar untuk fokus dan memperhatikan, tapi kemampuan ini akan dilemahkan jika ia diijinkan mengulang-ulang porsi bacaannya, atau dibuatkan ringkasan, atau dituntun dengan pertanyaan-pertanyaan komprehensi, dan sebagainya. Dengan langsung memperhatikan sejak kali pertama, lebih sedikit waktu terbuang untuk mengulang pelajaran, dan lebih banyak waktu untuk lebih banyak pengetahuan. Kapasitas belajar anak sangat luar biasa dan, sebagai ‘perilaku akalbudi’ (behavior of the mind) yang universal, kapasitas itu tidak terlalu terpengaruh oleh faktor turunan seperti IQ atau lingkungan asal.

16. Ada dua pembimbing pertumbuhan moral dan intelektual yang perlu kita kenalkan kepada anak, yakni hukum kehendak (the way of the will) dan hukum nalar (the way of reason).

17. Hukum kehendak: Anak-anak patut diajari :

(a) membedakan antara ‘Aku ingin’ (I want) dan ‘Aku hendak’ (I will); 

(b) Kehendak disebut efektif jika anak bisa memalingkan pikirannya dari apa yang ia inginkan tapi tidak ia kehendaki. 

(c) Cara terbaik untuk memalingkan pikiran dari perkara seperti itu adalah memikirkan atau melakukan hal lain yang juga menarik atau membangkitkan minat; 

(d) Setelah mengambil rehat sesaat seperti itu, kehendak anak mampu kembali menjalankan tugasnya dengan kekuatan baru. Penggunaan sugesti [contohnya, hipnotis] sebagai alat bantu anak dalam berkehendak harus dijauhi karena cenderung mengerdilkan dan mematikan orisinalitas karakternya. Memilih secara spontan adalah syarat pengembangan karakter, dan manusia membutuhkan pengalaman gagal maupun pengalaman sukses untuk mendidik dirinya.

18. Hukum nalar: Anak-anak patut diajari untuk tidak terlalu bergantung atau mengandalkan penalaran mereka sendiri. Fungsi nalar adalah mendemonstrasikan secara logis :

(a) kebenaran matematis,

 (b) kebenaran suatu gagasan dasar atau asumsi yang diterima oleh kehendak. 

Dalam kasus pertama, nalar bisa dibilang pembimbing yang otoritatif. Namun untuk menilai ide-ide, nalar belum tentu bisa dipercaya, sebab penalaran kita akan membenarkan segala macam ide yang keliru kalau kita memang berniat mempercayainya.

19. Menyadari bahwa nalar tidak bisa selalu diandalkan sebagai otoritas tertinggi dalam membentuk opini, anak-anak yang beranjak dewasa patut memahami bahwa tanggung jawab terbesar mereka sebagai seorang pribadi utuh adalah memilih ide-ide mana yang perlu diterima atau ditolak. Latihan kebiasaan-kebiasaan baik, ajaran-ajaran etis, serta wawasan luas dari banyak bacaan dan pengalaman akan membantu mereka membuat pilihan-pilihan itu. Dengan demikian anak akan terhindar dari cara pikir dan tindakan asal-asalan yang sering menyebabkan seseorang hidup lebih rendah dari ideal yang seharusnya ia bisa capai.

20. Tidak ada alasan untuk mendirikan sekat antara ranah intelektual dan spiritual dalam kehidupan. Kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa semua kebenaran adalah milik Tuhan, dan bahwa kajian sekuler sama baiknya dengan kajian religius. Mereka perlu sadar, kehidupan beragama dan kehidupan akademis bukanlah dua dunia yang terpisah, dan apa pun yang ia pelajari atau kerjakan, Tuhan selalu bersama mereka.

==================================

 

Refleksi :

 

Bagaimana praktik pendidikan era dulu yang menjadi keprihatian Charlotte Mason ( CM)   dengan sekarang menurut saya tidak jauh berubah. Pergantian dan perombakan kurikulum tidak berdampak signifikan terhadap output pendidikan yang berkarakter karena para pemangku kebijakan lebih berfokus pada hal-hal pragmatis dan teknis. Lebih perduli dengan system daripada metode, sebab system bisa diseragamkan dengan standarisasi baku sehingga para pendidik cukup menjalankan acuan system tersebut. Angka tinggi menjadi ukuran keberhasilan belajar, “nilai” seorang murid adalah angka dan mereka didorong berkompetisi menjadi pencetak score . Score tertinggi adalah puncak pencapaian. Bahkan pelajaran akhlak pun  yang sejatinya akan melekat pada karakter seorang anak , tetap  dikonversikan dengan angka. Tapi anehnya nilai angka mata pelajaran moral seperti PKN dan agama yang tinggi tidak berbanding lurus dengan menghasilkan murid  yang berakhlak tinggi atau berbudi luhur juga.

Tujuan pendidikan nasional  dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 adalah “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Menurut saya dilihat dari tujuannya sudah bagus karena berangkat dari mengembangkan potensi, artinya mengakui bahwa setiap anak memiliki potensi yang bisa dikembangkan , lalu tujuannya juga lengkap mencakup hubungan dengan tuhan ( beriman), pengembangan diri sendiri (akhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri) serta hubungan dengan orang lain                ( demokratis,bertanggung jawab), namun pengaplikasian tujuan tersebut dalam pecahan mata pelajaran yang dijejali guru dalam atmosfir buatan serta dilengkapi dengan indicator pencapaian dan menjadikan  paper testdengan nilai tinggi sebagai satu-satunya bentuk evaluasi, dimana setiap anak harus pintar di semua pelajaran, telah sangat menciderai esensi pendidikan itu sendiri.

Mempelajari metode CM dengan 20 filosofinya membuat saya takjub. 3 pertanyaan mendasar CM : “mengapa anak perlu belajar, apa yang perlu ia pelajari serta bagaimana sepatutnya ia mempelajari ”, telah membuat saya tercenung karena sebelumya saya tidak pernah serius memikirkan hal ini. 

Ketekunannya mengamati dan menguji coba metode pendidikan sepanjang hidupnya telah melahirkan Filosofinya yang  sangat kuat , luas dan mendalam. 20 butir terlihat sedikit bila dibandingkan ratusan halaman teori pendidikan yang ada, namun saya mengibaratkan 20 filosofi ini adalah rambu-rambu yang akan memberikan kita arah jelas untuk mencapai tujuan. Dengan bekal lambu-rambu itu kita boleh saja mampir sebentar di pertigaan tanpa takut tersesat kehilangan arah untuk sampai pada tujuan.

Filosofi tersebut juga memberikan ketentuan di mana posisi seharusnya anak, agama, orang tua,  dan lingkungan yang mendukung dengan tetap memandang anak sebagai pribadi berjiwa yang menunggu dipantik.

 

  • Tugas narasi Fondasi CM by @Ayuprimadini