Menemukan Muara ( part 2)

Menemukan Muara ( part 2)

MENEMUKAN MUARA ( PART 2)

MENGENAL CHARLOTTE MASON DAN PEMIKIRANNYA

 

Siapakah Charlotte Mason?

Nama Charlotte Mason  sebagai tokoh pendidikan awalnya tidak begitu dikenal  dibandingkan tokoh lain seperti Frobel atau Montessori. Namun berkat para penggiat homeschooler yang merasa tidak puas dengan metode pendidikan sekarang, pemikiran CM mulai digali lagi, dipelajari serta disebarluaskan. Di Indonesia sendiri metodenya mulai dikenal sekitar tahun 2010 .

Charlotte Mason ( CM)  lahir di Inggris pada tahun 1842 dan menjadi yatim piatu di usia 16 tahun. Ia sangat tertarik dengan dunia pendidikan sehingga memutuskan menjadi  seorang guru . Di masa itu adalah hal wajar bila guru menggunakan rotan untuk mendisiplinkan anak, atau memasangkan topi kurcaci dengan tulisan “DUNGU” pada anak yang tidak berhasil mengeja. Anak dianggap ember kosong yang bisa diisi apa saja , atau ranting pohon yang bisa dibengkokkan ke arah manapun guru mau, atau seperti lilin plastis yang bisa dibentuk sesuka hati.

CM bukan guru seperti itu ! Ia tidak pernah membentak muridnya. Ia meyakini bahwa anak terlahir sebagai pribadi utuh , mereka menyimpan potensi yang bila didampingi dengan tepat akan bertumbuh dalam versi terbaiknya yang mencintai pengetahuan,berkarakter luhur dan bermanfaat bagi masyarakat.

CM adalah pribadi progressif yang selalu berfikir, mengamati ,membaca dan menulis serta menguji teori-teorinya dengan mempratekkannya. Ia mendirikan sekolah gratis untuk para calon guru sekaligus sebagai tempat praktik mengajar dan memprakarsai sekolah jarak jauh.

Ia memandang bahwa anak terlahir sebagi pribadi utuh. Anak tidak terlahir seratus persen baik meski juga tidak seratus persen buruk. Ia menyimpan potensi yang masih berupa kemungkinan. Potensi yang dimiliki seorang anak tanpa batas dan tak bisa diprediksikan. Seorang anak tidak bisa diketahui akan seperti apa dan menjadi apa dia kelak. Tugas orang tua lah untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi lebih baik ketimbang dirinya.

Anak adalah individu unik yang tidak mungkin ada duplikatnya. Meskipun berasal dari rahim yang sama, mendapatkan pendidikan dan asuhan yang sama anak akan berkembang berbeda satu dengan lainnya; baik itu perbedaan minat, daya juang maupun karakter.

 CM membaca banyak buku, mengamati, berpikir mendalam, membuat telaah lalu menguji hasil pemikirannya dengan langsung mempraktekkannya dan menuliskannya . Ia  lalu menyusun konsep pendidikannya sendiri dan diterbitkan dalam 6 volume  yaitu :

 

Volume 1 – Home Education
Berisi kompilasi enam materi kuliah Charlotte Mason tahun 1885. Dimulai dengan dorongan agar orangtua serius memikirkan arah pendidikan anak-anak mereka, Charlotte menjelaskan panjang lebar tentang prinsip-prinsip pengasuhan dan pendidikan anak usia dini (sampai usia sembilan tahun).

Volume 2 – Parents and Children
Berisi koleksi 26 artikel jurnal Parents’ Review suntingan Charlotte Mason. Dimulai dengan analogi bahwa keluarga ibarat miniatur bangsa, secara detil Charlotte membahas kuncinya peran orangtua dalam proses pendidikan anak.

Volume 3 – School Education
Berisi ragam gagasan Charlotte Mason tentang proses belajar-mengajar dan kurikulum untuk anak berusia 9-12 tahun. Di dalamnya disertakan pula contoh judul-judul buku yang direkomendasikan, bentuk ujian bagi para siswa, dan detil teknis persekolahan lainnya seperti yang dipraktikkan di sekolah berbasis metode CM.

Volume 4 – Ourselves 
Berisi uraian untuk membantu para remaja menemukan jatidiri, menyadari potensi-potensi hebat dalam diri mereka, dan apa saja yang bisa menghambat aktualisasinya. Terdiri dari dua bagian: Bagian pertama Charlotte tulis bagi anak yang baru saja menjadi remaja (12-16 tahun), bagian kedua bagi anak remaja akhir (usia SMA).

Volume 5 – Formation of Character
Berisi beragam studi kasus tentang cara menangani kebiasaan buruk anak serta contoh-contoh dampak pendidikan semasa muda kepada kehidupan masa dewasa. Buku ini Charlotte maksudkan agar orangtua menggarap serius urusan pendidikan karakter dalam keluarga.

Volume 6 – A Philosophy of Education
Berisi kristalisasi pemikiran Charlotte setelah puluhan tahun mengamati praktiknya di lapangan. Buku terakhir Charlotte yang memuat versi final 20 butir filosofinya ini sangat direkomendasikan sebagai bacaan pertama bagi siapa saja yang betul-betul ingin memahami metode CM

 

Begin with the Question

Mengamati lemahnya karakter sebagian besar generasi muda  mau tidak mau mencuatkan kegelisahan dalam diri kita. Apa yang salah dengan system Pendidikan selama ini? Kita mendapati konsep Pendidikan yang terlalu didominasi oleh filsafat materialistic dan utilitarian, sehingga membuat sekolah-sekolah hanya menyiapkan anak menjadi pekerja dan pencari nafkah, tetapi tidak berhasil mendidik karakter mereka menjadi luhur. ( Philosophy of education- p.20)”.

Setelah perang dunia 1   yang mengakibatkan kehancuran di segala bidang, maka para ahli berpendapat untuk mengatasi kehancuran tersebut adalah dengan cara memperbaiki ekonomi . Lalu muncullah faham capitalist yang membuat para pemilik modal melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya sehingga ekonomi bergerak antara produsen dan konsumen, manusia menjadi konsumtif. Perubahan pola hidup tersebut membuat manusia menjadi  individualist yang bersaing ketat untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini memunculkan meritokrasi di mana setiap orang dinilai berdasarkan presatasinya   sehingga yang tidak berprestasi cenderung diabaikan. Perkembangan itu akhirnya membuat system pendidikan menjadi utilitarian  di mana segala sesuatu diukur dari kegunaanya, sekolah menjadi tempat penyedia tenaga kerja yang dibutuhkan pemilik modal. Pada akhirnya manusia diukur ibarat baut pada sebuah mesin ekonomi yang dapat digantikan dengan mudah jika tidak  lagi berfungsi dengan baik.

CM sangat prihatin dengan keadaan tersebut.  Ia menemukan dari banyaknya literatur yang ia baca bahwa metode pendidikan sebelumnya yang  fokus untuk membangun manusia menjadi pribadi dan pemikir yang bijaksana justru telah  melahirkan  tokoh -tokoh hebat yang masih diakui kiprahnya   hingga sekarang dengan  penemuan dan  karya yang luar biasa.

Ketika membahas tentang pendidikan, CM berangkat dari pertanyaan tentang apa itu manusia dan untuk apa manusia diciptakan . Ia meyakini  bahwa manusia diciptakan sebagai imaji tuhan, untuk menjadi berkat bagi alam,  menjadi manusia insan kamil  atau yang  memiliki  pribadi magnanimity yaitu : “ memiliki imajinasi yang berbudaya, kemampuan menilai dan menimbang yang terlatih, selalu siap menguasai kerumitan  profesi apapun  , sementara pada saat yang sama tahu  menempatkan dirinya sendiri dan bagaimana memanfaatkan segala kelebihannya untuk meningkatkan kebahagiaanya , kebahagiaan sesamanya , dan kesejahteraan masyarakatnya-msatu sosok yang bukan Cuma bisa mencari nafkah hidup, tapi tahu bagaimana caranya hidup.” ( Philosophy of education, hal.122)

 Ia memandang bahwa anak terlahir sebagi pribadi utuh. Anak tidak terlahir seratus persen baik meski juga tidak seratus persen buruk. Ia menyimpan potensi yang masih berupa kemungkinan. Potensi yang dimiliki seorang anak tanpa batas dan tak bisa diprediksikan. Seorang anak tidak bisa diketahui akan seperti apa dan menjadi apa dia kelak. Tugas orang tua lah untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi lebih baik ketimbang dirinya.

Anak adalah individu unik yang tidak mungkin ada duplikatnya. Meskipun berasal dari rahim yang sama, mendapatkan pendidikan dan asuhan yang sama anak akan berkembang berbeda satu dengan lainnya; baik itu perbedaan minat, daya juang maupun karakter.

Menurut CM,”‘tujuan pendidikan bukan untuk meningkatkan kemampuan teknis, melainkan untuk membangun  manusia; semakin manusiawi seseorang ,semakin baik pula caranya bekerja, apapun pekerjaannya !” ( Charlotte Mason, Vol IV : p.147) 

Saya sangat setuju dengan pendapat ini karena banyak menemukannya di lingkungan kerja. Ada beberapa karyawan saya yang memiliki prestasi gemilang karena kemampuan teknisnya sehingga mendapatreward besar seperti umroh atau jalan-jalan ke luar negri tapi pada akhirnya dikeluarkan setelah beberapa kali proses punishment karena ketidakdisiplinan untuk datang tepat waktu. Lalu masih relevant kah kemampuan teknis menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan seseorang?

 

Parent centered VS Children Centered

Dalam prakteknya ada 2 kubu di masyarakat tentang cara membesarkan anak,yaitu :

  1. Parent Centered ( Tradisional)

Pelaku kubu ini memposisikan orang tua sebagai pemegang otoritas penuh yang berkuasa atas anak, sehingga berhak melakukan cara apapun termasuk cara kekerasan ( otoriter) untuk mendisiplikan anak. Anak harus dilatih tahan menderita agar kuat dan kelak menjadi pribadi Tangguh;

  1. Children Centered ( Progressif)

Orang tua menempatkan anak sebagai pusat segalanya. Anak tidak boleh diberi beban berlebihan,kegembiraan anak adalah prioritas utama yang bahkan lebih penting daripada kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai anak;

 

Lalu bagaimana CM menyikapi ini, ada di kubu manakah dia?  Mendidik anak adalah tanggung jawab yang sangat besar , agar dapat menjalankannya orang tua harus memiliki kekuasaan dalam takaran tertentu. The principles of authority on the one hand, and of obedience on the other,are natural, necessary and fundamental ( butir ke-3 filsafat Pendidikan CM). Dengan menyatakan prinsip otoritas dan ketaatan sebagai hukum alamiah Pendidikan dalam filsafat pendidikannya,CM tegas berkata seorang anak wajib taat kepada orang tua dan ketaatan itu haruslah sempurna ( perfect obedience).

Dalam filosofi ke-4 nya CM menyatakan : “ Otoritas dan ketaatan) dibatasi oleh respek kepada kepribadian anak,yang tidak boleh dilanggar  entah dengan memanfaatkan secara langsung rasa takut dan rasa cinta,sugesti dan karisma,atau dengan mempermainkan secara tidak pada tempatnya Hasrat alamiah anak yang manapun.”

Dari fiilosofi ke-3 dan ke-4 tersebut jelaslah bahwa CM tidak saklek berada di satu kubu, melainkan menerapkan relasi orang tua dan anak yang berpegang pada prinsip.

“Yang berkuasa bukanlah orangtua ataupun anak, melainkan hukum-hukum alam,hukum universal,hukum Tuhan; Kebenaran! Perintah apapun yang dilontarkan orangtua hanya layak ditaati jika itu mengandung kebenaran” (Cinta Yang Berpikir hal 25) .

 

Refleksi :

Satu kata paling menggugah dan membuat penasaran saya tentang metode CM adalah Filosofi !  Ia menekankan seorang pendidik menjalani 3 peran sekaligus : menjadi pembimbing,filsuf dan sahabat  ( Vol 6 hal 237).  Mengapa kita perlu suatu filosofi untuk “hanya” mengajar anak-anak? Toh kita dan orang tua kita dulu bisa saja sekolah dan sekarang “berhasil” tanpa harus tau dan melakoni filosofi tertentu.

Sebagaimana umumnya, saya juga sebelumnya memandang filsafat sebagai hal yang aneh,kaku ,asing,jadul dan entah apa gunanya. Kuliah MKDU filsafat di kampus dulu sangat membosankan, penuh hafalan tanpa makna sekedar memenuhi syarat agar bisa ujian dan dapat nilai, tidak ada bekasnya sama sekali. Ketika mendengar ada yang kuliah di jurusan filsafat, reaksi awal dalam fikiran saya : “Duh,ngapain belajar filsafat aja harus pake kuliah 8 semester, emang mau jadi apa sih kuliah filsafat?”

Padahal filsafat  yang secara harfiah berarti pecinta kebijaksanaan ( Bahasa Yunani) adalah ilmu tertua yang menjadi induk ilmu pengetahuan lainnya . Filosofi mendorong pelakunya  berfikir,mencari tahu, mengkaji , menguji pemikirannya sehingga menjadi pemikir mandiri, kritis, dan logis. 

Secara alamiah setiap anak terlahir sebagai filsuf. Ia tak henti bertanya tentang apapun;  Apa itu, untuk apa ini, mengapa begitu, bagaimana bisa terjadi. Kehausannya untuk bertanya dan mencari jawaban perlahan sirna sejak orang di sekitarnya tidak merespon dengan baik dan bertambah lagi memudar ketika masuk lembaga pendidikan         ( sekolah). Karena itu anak perlu didampingi pendidik yang filosofis- orang tua yang membersamai mencari pengetahuan,kebijaksanaan, kebenaran dan tau cara mengobarkan semangat intelektual anak.

Sejak mengenal CM  saya menjadi merenung dan berfikir, apa sebenarnya tujuan pendidikan anak-anak saya? Apa yang harus saya berikan sebagai bekalnya menghadapi dunianya kelak? Cukupkah nila-nilai moral yang ia serap sebagai benteng diri yang memagari kebrutalan akhlak? Mampukah ia memutuskan dengan bijak ketika dihadapi dengan banyak pilihan sulit dan kebenaran seperti apa yang akan ia ikuti? Kuatkah jiwanya diuji dengan ketidaksesuaian kebaikan yang diajarkan dengan penghianatan lingkungan? Bagaimana ia menelaah setiap informasi yang datang padanya? Hujan pertanyaan yang akhirnya membuat saya yakin bahwa ada hal maha penting yang harusnya saya rumuskan yaitu tujuan pendidikan seperti apa yang saya inginkan untuk anak-anak.

Tujuan yang jelas akan membuat arah menjadi terukur. Kita bisa menggunakan bahan apa saja tapi dengan adanya tujuan kita bisa menguji  melencengkah bila melalui jalan ini? Dengan tujuan jelas saya tidak akan mudah terpengaruh dengan pendapat massal atau hanya ikut-ikutan karena tujuan saya pasti berbeda dengan yang lainnya. CM makin meyakinkan saya untuk menempuh jalur homeschooling buat ke-2 anak saya karena tidak mungkin visi pendidikan saya akan saya tagih kesesuaianya dalam bentuk jejeran angka rapor di sekolah. 

Lalu apa visi Pendidikan anak-anak saya ?  Visinya adalah: menjadi manusia berklahk manusia sesuai pedoman Islami. Visi itu saya dapatkan dari hasil kontempelasi perjalanan hidup, dinamika lingkungan kerja serta hiruk pikuk dunia, serta bagaimana kita nanti akan dikenang setelah tiada ;saya menemukan pada akhirnya instrument  “keberhasilan”  seorang manusia akan  diukur dari akhlak yang baik. Kebaikan seperti apa  yang dikenang? Kalau pada akhirnya kebaikan bukan diukur dari berapa kali umroh, seberapa hektar tanah, berapa mobil mewah dan ukuran materialis lainnya, lalu mengapa saya tidak menjadikan akhlak yang baik sebagai tujuan?

Rosullulah SAW bersabda : “Aku diutus ke bumi ini semata-mata ( hanya) untuk menyempurnakan akhlak.” Resapi kata-kata itu : tugas Rosul hanya satu : hanya menyempurnakan akhlak ! Rossul adalah  suri tauladan, pada dirinya terdapat semua ukuran kebenaran sebagai pedoman akhlak yang baik.Lalu mengapa kita mengabaikannya dan sibuk mencari tanpa arah? Al- Quran sendiri dalam syrat Annisa ayat 89 menyatakan : "Barang siapa mentaati Rosul maka sesungguhnya dia mentaati Allah....."

 Bersambung…….

 

(Ditulis sebagai tugas narasi tulis : Fondasi Charlotte Mason by @AyuPrimadini)