Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Malam itu saya nggak nyangka kalau ternyata hamil.

 

Ceritanya berawal saat aku dan sobat misqueenku Iman pergi makan malam ke muara karang. Makan malam berjema'ah adalah salah satu hobi kami berdua. Sampai di muara karang kami langsung pilih resto yang kata orang paling enak di sana. Kami pun segera duduk dan mulai memesan. Urusan makan, kami memang selalu gercep.

 

"Kepiting lada hitam 2, ikan kue bakar 1, udang jumbo bakar 1, cumi goreng tepung 1, kangkung cah bawang putih 1, sama kerang darah 2," Iman langsung membuat si ibu sibuk mencatat orderan.

 

"Sama pete bakar 2 papan ya bu, tolong pilihin yang gendut-gendut dan bagus," aku menambahkan pesanan kuncian yang sudah kubayangkan selama perjalanan menuju muara karang, bahkan sudah wanti-wanti Iman bahwa kali ini aku nggak mau berbagi papan.

 

"Waduh maap banget mbak, petenya habis.. " si ibu menjelaskan.

"Yaaaa masa nggak ada sama sekali bu? Kasihan nih bu, lagi ngidam.." spontan kalimat itu keluar dari mulutku. Agak kaget juga sih, kok kalimat itu bisa keluar dari mulut. Tapi terlanjur, sambil cengengesan aku melirik ke arah Iman.

 

Gayung bersambut...

 

"Iya bu, seadanya aja.. Kasian istri saya ngidam, di jalan udah ribut banget.." Iman menimpali sambil merangkul bahuku, menunjuk-nunjuk perutku dengan ekspresi tak kalah melas.

 

"Waaduuh, iya iya, aku coba cek dulu ya mbak.."si ibu tersenyum pengertian lalu bergegas menghilang.

 

Di meja kami berdua pun curi-curi cekikian sambil saling tuding siapa yang paling berdosa. Aku ngeles dengan alasan kata-kata ngidam tidak berarti hamil, artinya iman paling berdosa karena dia mengarahkan ke konteks hamil. Perdebatan kami tak berlangsung lama tentunya, karena kesimpulan kami; Tuhan maha pema'af dan di saat bersamaan pesanan kami juga mulai berdatangan.

 

Saat kami baru mau mulai makan, tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara kencang penuh semangat:

 

"Mbaaaak, ada petenyaaa!" Si ibu berteriak semangat sambil berlari ke arah meja kami. Tergopoh-gopoh ia memamerkan pete di tangannya.

 

Satu papan pete yang tampilannya mati segan hidup tak mau menjuntai dari genggaman si ibu. Dengan senyum penuh kebanggaan dan sedikit terengah karena habis berlari si ibu meletakan juntaian pete itu ke atas meja.

 

"Ada mbak, aku cari dari sebelah!" Ia menjelaskan dengan penuh semangat.

 

Aku dan Iman tak kalah heboh membalas si ibu dengan ucapan terima kasih bertubi-tubi. Drama di meja kami tampak mengundang perhatian pelanggan lainnya.

 

Selanjutnya perasaan kaget, senang, dan rasa bersalah semua bercampur menjadi satu. Apalagi melihat serenceng pete lemes namun penuh perjuangan yang tergeletak di meja kami. Namun lagi-lagi perasaan bersalah tidak berlangsung lama, karena kami berdua langsung tenggelam menikmati makan malam yang fantastis itu.

 

"Yah namanya juga anak muda, otaknya masih dikit.." sambil tertawa lagi-lagi aku ngeles.

 

"Tuh, makan yang banyak ya sayaaaaang!" Iman menimpali sambil akting seperti suami penuh perhatian menambahkan serenceng udang bakar ke piringku.

 

Malam itu acara makan malam kami sukses. Hati senang tidak hanya karena perut kenyang. Menghabiskan waktu bersama Iman memang selalu penuh tawa dan cerita.

 

"Yang tenang di atas sana ya man, terima kasih untuk semua cerita yang selalu luar biasa penuh kenangan.."

 

Aku menutup malam dengan mengingat nama sahabatku yang pergi meninggalkanku 4 tahun lalu.

 

"Nggak nyangka ternyata beberapa tahun lalu, aku pernah mendadak hamil, pernah menikah..sama Iman pula," batinku sambil tersenyum.