Menciptakan Hubungan Interpersonal yang Baik Melalui Komunikasi Asertif

Kita seringkali mendengar istilah “hubungan yang baik berawal dari komunikasi yang baik”. Lalu bagaimanakah komunikasi yang baik itu?

Menciptakan Hubungan Interpersonal yang Baik Melalui Komunikasi Asertif
Source: pixabay.com

Istilah “komunikasi adalah kunci” menjadikan komunikasi sebagai hal yang menarik untuk dibahas dalam setiap persoalan. Mukarom (2020) menyatakan bahwa hampir 90% lebih kegiatan manusia merupakan komunikasi, baik dalam bentuk verbal (lisan dan tulisan) maupun nonverbal (bahasa isyarat, ekspresi wajah, gesture tubuh, dll). Komunikasi menjadi bagian “inti” dalam kehidupan, sebab komunikasi yang efektif dapat membantu dalam menyelesaikan berbagai persoalan dalam hidup kita (Liliweri, 2017). 

Hubungan interpersonal (antar pribadi) merupakan hubungan yang terjadi antara dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan bergantung satu sama lainnya (Pearson dkk, 2009), misalnya hubungan antara ibu dan anak, suami dan istri, maupun antar teman atau rekan kerja. Dalam hubungan interpersonal, konflik merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Adanya perbedaan budaya, pengetahuan akan suatu hal, pengalaman hidup, dan lainnya menjadi alasan terjadinya suatu konflik. Konflik tidak melulu merupakan sesuatu yang buruk. Adanya konflik bisa mempererat suatu hubungan,  sebab antara satu sama lain semakin mengenal sikap dan pandangan masing-masing terkait suatu hal. Hal ini dapat terjadi apabila penyelesaian konflik tersebut dapat diterima oleh kedua belah pihak. Istilah “hubungan yang baik berawal dari komunikasi yang baik” pun sudah tidak asing lagi dan kerap dijadikan nasihat bagi seseorang yang tengah mengalami konflik dalam hubungannya, baik dengan teman, pasangan, orang tua, dan lainnya.  

 

Dalam hubungan interpersonal terdapat komunikasi interpersonal atau disebut juga komunikasi antar pribadi dan merupakan dasar dalam berkomunikasi (Littlejohn, 2006). Hubungan interpersonal yang baik dapat dilihat dari terjalinnya komunikasi yang efektif dengan ciri-ciri saling terbuka, saling mendukung, adanya empati, sikap positif, dan kesetaraan (Devito, 1997) yang berdampak positif dalam memelihara hubungan yang telah terjalin sehingga dapat meminimalisir terjadinya konflik (Sastropoetro, 1985). Porsi berbicara maupun mendengarkan lawan bicara pun sebaiknya seimbang dalam berkomunikasi. 

Kemampuan komunikasi asertif sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang efektif antar individu. Sikap asertif dalam berkomunikasi berarti mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan lawan bicara (Widyastuti, 2017). Solusi yang disepakati bersama pun dapat tercapai dengan adanya sikap asertif dalam berkomunikasi, sebab terdapat dua sudut pandang dalam melihat sebuah masalah. Menurut Garner (2017), manfaat bersikap asertif dalam komunikasi adalah menghilangkan rasa takut dan kecemasan, memberikan batasan diri dalam bertindak dan melihat secara personal bagaimana orang lain bersikap terhadap orang  lain, serta meningkatkan kepercayaan diri juga penghargaan terhadap orang lain. 

 

Terdapat enam bentuk sikap dalam komunikasi asertif, diantaranya:

1. Mendengarkan apa yang dibicarakan agar mengerti dan memahami akar permasalahan yang terjadi.

2. Menyatakan apa yang diinginkan dengan jujur dan jelas agar dapat dipahami oleh lawan bicara.

3. Memerhatikan dan fokus pada hal-hal yang terjadi dan masalah yang ada.

4. Bersikap kompromi dan negosiasi dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan.

5. Tetap memegang pendirian dan sabar dalam situasi dan kondisi apapun.

6. Memberikan kritik positif yang efektif dan membangun untuk memecahkan masalah yang terjadi. 

Sikap Asertif dalam berkomunikasi merupakan hal yang efektif dalam jangka pendek dan jangka panjang sehingga dapat menjadi dasar keberhasilan dan keberlangsungan hubungan interpersonal, baik dengan pasangan, orang tua, rekan kerja, maupun teman (Widyastuti, 2017). Sikap asertif dalam berkomunikasi bukan merupakan bakat atau diturunkan sejak lahir melainkan dipelajari dan terus dilatih.