MENCARI NAFKAH DEMI DESAH

MENCARI NAFKAH DEMI DESAH

"Yah.. kalau hari ini ga dapet duit. Silahkan tidur di luar!". Bentak sulastri. Istri seorang supir truk sayur bernama Mulyo.

Pasangan muda yang baru menikah 3 bulan ini seringkali ribut soal ekonomi. Di bawah kaki gunung Ungaran daerahnya tinggal, konon, tak sedikit tetangga resah mendengar kebisingan yang berasal dari dalam rumahnya.

Pagi itu suasana kalut. Mulyo hanyut dalam emosi yang tersulut. Bersiap mulai perang, bersenjatakan handuk kecil, tas pinggang serta topi ala koboy garang. Ia bergegas masuk truk, tancap kunci lalu menggeber gasnya dengan power yang sangat kencang.

"Braakkkk!". Kedua tangan Mulyo menghujam setir.

"Arrrhhhh.. gimana nih, duit solar mepet. Gaji dari si boss cuma dapet seminggu se-kali. Lastri, asal jeplak aja hari ini harus dapet duit. Duit darimana?!". Keluhnya memecah konsentrasi, rona wajahnya me-merah. Terlihat betul otaknya dipaksa berputar cari solusi sembari tetap pegang kemudi.

Sesampainya di tempat biasa bongkar-muat sayuran di pasar dekat daerah wisata Bandungan. Ia parkir truknya sembari menunggu muatan penuh terisi. Ia duduk santai di warung kopi. Masih asik ngopi tiba-tiba datang seorang nenek renta menghampirinya.

"nak, kalau mau ke semarang, naik angkutan apa ya?". Tanya si nenek terlihat bingung.
"nenek dari sini naik angkutan plat hitam dulu, baru nanti oper naik bus". Jawab ia sembari meletakkan gelas kopinya.

"Oh.. gitu ya, nak. Terima kasih". sahut sang nenek paham. Bergegas melanjutkan jalannya.

Belum jauh nenek berjalan. Mulyo cepat menyusul sambil memanggil "nek..nek..". Si nenek menoleh kemudian Mulyo membujuk halus
"kebetulan nek. Saya mau kirim sayur ke pasar Johar Semarang. Kalau nenek mau, bisa bareng saya aja, tapi naik truk, Nek".

"Wah.. terima kasih nak. Nenek mau, asik juga naik truk. nenek malah gak mau kalau kamu naiknya helikopter". Gurau sang nenek seketika memicu tawa Mulyo. Peristiwa pagi hari dengan sulastri seakan buyar.

Selang beberapa menit terlihat sayur telah dimuat. Ia dan nenek berjalan berdua menuju truk. Ia duduk di kursi supir dan si nenek duduk di sebelahnya.

"Nenek turun di tugu muda ya, nak". ujar si nenek singkat.

"oh siap nek. nenek asli semarang ya?". Tanya ia penasaran.

"Iya nak. Sudah 70 tahun nenek tinggal di semarang sampai sekarang". Jelas sang nenek.

"Oh, kalau gitu tau sejarahnya tugu muda dong, nek?". Pikiran kekanakannya muncul.

"Ya tau dong, nak. Emangnya kenapa?". Sahut sang nenek antusias.

Sedikit berhati-hati, Mulyo mengatur intonasi nada bicaranya dengan santun.

"Sewaktu nenek masih remaja hingga kini, tugu muda itu namanya kok gak berubah jadi tugu tua ya, nek? Awet muda banget". Usilnya bertanya.

"Husshh.. kamu itu ada ada saja, emang kamu mau bikin hajatannya buat ganti nama?". Balas usil si nenek.

Sontak mereka tertawa bersama. Mereka berdua terlihat akrab bercakap mirip dialegtika antara Ibu dan anaknya.

Begitu menikmati perjalanannya, tak terasa sampailah di tugu muda. Kemudian sang nenek bersiap turun sambil merogoh saku di tas jinjingnya, menggenggam uang kemudian diselipkan di sela dashboard dekat setir.

"Terima kasih ya, nak, tumpangannya. Semoga dimudahkan rezekinya untuk keluarga". Ucap sang nenek siap berpisah.

Mulyo terkejut sedikit menolak "apa ini nek? gak usah. Saya ikhlas". Sahutnya sambil mengambil uang yang terselip tadi disodorkan kembali ke arah sang nenek.

Sedikit memberi nasehat, si nenek berujar "itu rezeki kamu, nenek tahu kamu pasti butuh. Tadi nenek dengar, kopi yang kamu pesan di warung itu tercatat bon, kan?".

Sambil tersipu malu menarik tangannya kembali, ia berucap polos kepada sang nenek "terima kasih banyak nek. hati-hati di jalan".

Mulyo melanjutkan perjalanannya menuju ke pasar johar. Sesampainya di sana langsung muatan sayur dibongkar turun ke pedagang. Setelah beres, Ia berniat istirahat sebentar di bangku kemudi, berbaring menaruh pinggang, meluruskan kaki ke bangku penumpang, sembari melembarkan uang 100rb pemberian sang nenek, tepat di tatapan matanya.

"Alhamdullilah, rezeki ini buat Sulastri. Gak jadi tidur di luar dong nanti. Bisa peluk mesra seperti biasa sambil..hmmm nikmatnya tiada tara.. lastri..lastri". Gumamnya diiringi senyuman.

Ia merasakan kelegaan di hati. Pikirannya jadi jernih. Ia pun berniat mengabadikan pengalamannya lewat tulisan "MENCARI NAFKAH DEMI DESAH" di pantat truknya dengan gambar karikatur Sulastri bertabur hujan duit.