Menari

Diangkat dari kisah nyata

Menari

 

“Siapa yang bisa menari?”  tanya guru TK ku
“Saya bu!”
“Saya bisa bu!”  beberapa teman sekelasku berebut mengacungkan jarinya.
Aku diam saja.
“Kamu bisa nari apa?” tanya guruku.
“Aku bisa balet!” Jawab Anne, temanku yang paling lincah.
Anne juga temanku di kelas balet. Ada beberapa anak di kelas TK B ini yang juga teman sekelas di les baletku. Mereka semua sibuk mengacungkan tangan.
“Ya kalian semua ikut latihan tari untuk persiapan pesta Natal ya!” Kata guruku. Dia mulai mendaftar anak anak yang bisa menari.  Cukup banyak karena gabungan beberapa kelas. Rupanya jumlahnya agak kurang .
“Siapa lagi yang bisa menari?, masih kurang 4 orang nih!"  tanya Guruku.
“Dia juga bisa nih bu! dia ikut les balet juga!” kata Anne menunjukku. 
Aku tertunduk malu.
“Kamu ikut balet?” tanya Guruku.
Aku mengangguk jujur. Lalu guruku mendaftarkan aku menjadi peserta pelatihan tari.

“Lemas amat gerakannya, udah makan belum?” kritik guruku saat latihan menari. Karena dikritik lemas, maka aku berusaha merubah gerakanku. Kupikir lawan lemas adalah kaku. Lalu aku mulai bergerak kaku .
Tak lama kemudian guruku melihatku, “Kaku amat ?, bisa nari ngga sih?, katanya ikut balet?”
“Kok kaya robot sih?”
Aku bingung. lemas salah, kaku salah, jadi harus bagaimana?
Aku malu seolah guruku menuduhku berbohong ,mengaku ikut kursus balet.
Musik Natal berkumandang keras. Iramanya riang , tapi aku tidak bisa menikmatinya. Selama latihan guruku berkali kali menyentak tangan & kakiku dengan kasar. Sesekali memukulku.
“ Ini anak paling goblok ! “ ujarnya kesal berulang kali.
Aku merasa bersalah. Tapi tidak tahu apa salahku. Kenapa aku goblok ?
Padahal di kursus balet , guru baletku sering memuji aku punya bakat alami.
Aku pernah beberapa kali dipercaya guru baletku menjadi penari utama di pentas. Bahkan kami pernah memenangkan lomba balet.
Kenapa sekarang aku dimarahin guru TK ku terus? apa salahku?
( sekedar catatan , saat itu  aku tidak mengerti bahwa beda tarian beda gaya , tari balet memang harus luwes dan lentur , sedangkan tari yang berirama cepat beda lagi. )
Kita harus latihan rutin beberapa kali seminggu. Rutin pula cacian dan pukulan guruku.  Aku hanya berusaha menahan tangisku setiap latihan.
Padahal aku paling suka saat latihan balet. itu saat yang aku tunggu tunggu.

Setelah latihan beberapa bulan, tibalah pesta Natal.
Kami dijadwalkan untuk menari di Aula sekolah yang cukup besar.
Kami dikumpulkan di belakang panggung. Kami semua sudah memakai kostum tari kami dan make up lengkap. Sudah geladi resik.
Saat kami menunggu giliran menari, guruku memanggilku.
Aku diajak berjalan ke sebuah ruangan kosong, yang cukup jauh dari aula. Hanya aku sendiri.
“Kamu duduk di sini saja ya!” lalu guruku beranjak pergi.
Karena takut telat saat giliranku menari , aku mencoba bertanya.
“Tapi nanti kalau dipanggil giliran kita , engga kedengeran dari sini?”
“Engga usah khawatir, tunggu saja di sini, nanti ibu balik lagi jemput kamu!” katanya, lalu keluar dan menutup pintu.

Aku menunggu di kelas kosong itu cukup lama. Sampai kudengar suara musik yang mengiringi tarian kami. aku ingin bergegas keluar agar tidak ketinggalan.
Tapi pintunya dikunci. Aku jadi semakin panik mengetuk pintu. Tapi tidak ada yang menolong membukakan pintu.
Hingga musik tarian itu selesai,  hingga musik tarian lain berganti ganti terdengar.
Aku bingung, kenapa bisa begini ?
Setelah begitu lama menunggu, akhirnya guruku membukakan pintu.
“Kamu boleh pulang sekarang ,sudah dijemput.” katanya.
“Tapi saya belum nari!”
“Tidak usah nari, pulang aja, kamu engga bisa nari.” katanya sambil tertawa. Guruku mengantarku ke keluargaku yang sudah menjemputku di aula. Lalu dia pergi.

“Kok kita engga ngeliat kamu ya ? kamu narinya sebelah mana?” tanya kakakkku.
Aku diam saja.
“Gelap sih jadi kurang keliatan!” kata kakakku yang lain.
“Bagus narinya hebat!” kata tanteku berbohong.
Aku tidak pernah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada keluargaku.
Mungkin karena malu, mungkin karena tidak tau harus berkata apa .
Tapi satu yang aku tahu, aku tidak seperti anak lain. Aku goblok,  tidak bisa menari. Aku tidak berguna. Sudah latihan berbulan bulan ternyata sia sia usahaku.

Sejak kejadian itu aku tidak mau lagi ikut kursus balet.
Keluargaku sempat bingung.
“Kenapa kamu sekarang tidak mau balet lagi?” tanya mama.
“Kan kamu paling suka balet?” tanya kakakku.
“Ah anak kecil mah bosenan, paling juga dia udah bosen!” kata kakakku yang lain.
Karena mengira aku sudah bosan, mereka tidak pernah memaksa atau membujukku untuk ikut kursus balet lagi. 
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ke mereka. aku sebenarnya masih ingin menari balet. Tapi aku takut. Aku kan Goblok. Aku takut salah terus.
Aku tidak mau dicaci lagi.

Itu adalah saat terakhir aku menari.