MEMORI NASI PADANG

MEMORI NASI PADANG
Sumber foto : www.parenting.orami.co.id

Ada banyak kenangan indah saya dengan kuliner Padang, khususnya nasi Padang.

Saya pertama kali mengenal nasi Padang di rumah makan Padang Nasution, di kota kelahiran saya Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara. Saya sering diajak Papa dan Mama saya makan di sana.

Waktu itu saya masih berusia sekitar 4-5 tahun. Dan makanan favorit saya adalah ayam panggang.

Duh, otak kanan saya masih bisa merekaulang sensasi lezatnya bumbu ayam bakar Pak Nasution itu di lidah saya, hingga saat ini.

Serius, saya masih bisa meneteskan ludah mengingat rasanya.

Lanjut. Mama saya sering membelikan saya sate Padang di warung depan Pasar Gomo. Bukanya hanya pada malam hari.

Seingat saya dulu, kuah satenya ada dua macam, kuah kacang dan kuah tepung. Rasonyo jangan ditanya, mantap nian!

Saya juga sering merajuk merayu nenek saya almarhumah untuk membeli nasi goreng padang dan martabak manis di rumah makan padang depan Hotel Gomo, setiap kali saya pulang sekolah dan mampir di rumah keluarga besar kami di jalan Sudirman.

Ketika saya bersekolah di SD RK Bersubsidi Mutiara, di depan jalan masuk sekolah ada pedagang mie sop dan lontong sayur Padang.

Mie sopnya itu hanya terdiri dari kuah dan bihun, lontongnya hanya lontong nasi, nangka dan kuah santan, ga pake telor. O ya, plus kerupuk merah.

Harganya seingat saya 300 rupiah per porsi, baik mie sop maupun lontong. Tapi rasonyo, lamak nian! Kuahnya itu, duh!

Saya gak bisa sering-sering jajan di sana, karena saya dulu termasuk kasta menengah bawah dalam anggaran jajan. Untung ada teman saya, anak seorang taipan lokal, pengusaha karet di pulau Nias. Dia rajin mentraktir kami. Sekali traktir bisa 5-10 orang, tajir banget dah untuk ukuran zaman itu, he,he,he.

Saya juga beberapa kali melewati jalan darat kalau ke kota Medan, bersama Papa saya. Kami biasanya singgah di Tarutung dan Siantar. And you know, makannya pasti nasi Padang, he,he,he.

Disitulah saya pertama kali mengenal konsep lauk yang ditebar di atas meja. Saya senang sekali, karena saya memang penggemar kuah-kuahan. Sampai-sampai dulu oleh saudara-saudara saya dijuluki “ama kuah”, terjemahan bebasnya “bapak kuah”. Dan lauk masakan Padang, 60% nya pasti berkuah!

Kenangan lain yang tidak dapat dilupakan juga, ketika paman saya almarhum, bersama keluarga, dan saya diajak, makan di restoran Padang Garuda, di Kota Medan. Wah, itu restoran Padang mewah dan sampai sekarang kayaknya masih ya…. Enak banget dah, apalagi ditraktir, He,he,he.

Sebagai perantau, saya sering pulang kampung ke Pulau Nias naik kapal Pelni. Dan kapal ini pasti singgah di Teluk Bayur. Teluk Bayur terlihat sangat cantik pada malam hari, dilihat dari kapal sedang merapat ke dermaganya.

Tapi lagi-lagi saya lebih kangen pada nasi goreng padang yang ada di luar pelabuhan. Khas nasi goreng Padang itu pakai kecap asin dan cabe. Gak pake kecap manis. Disajikan dengan telur mata sapi goreng setengah matang. Dan tidak lupa saya selalu membeli oleh-oleh, Kerupuk Singkong Balado. Pedasnya nampol dan lezat nian rasonyo!

Ketika saya dulu masih bergabung dengan grup Kompas Gramedia, saya kadang diajak atasan saya untuk makan rendang di sebuah warung dekat kantor, di jalan Panjang, Kebon Jeruk.

Uniknya warung tersebut ada di tengah-tengah kebun. Pemiliknya seorang ibu yang sudah cukup sepuh. Rendangnya unik, karena dimasak dengan kayu, jadi aromanya berbeda dari rendang-rendang lain.

Dan salah satu kenangan terindah adalah bersama mantan pacar saya. Kami punya restoran Padang favorit di bilangan Margonda, Depok. Ketika sama-sama masih kuliah di Universitas Indonesia.

Nama restoran itu adalah “Siang Malam”. Menurut saya rendang, kripik kentang balado dan es teh manisnya juara banget, paling sedap sejagad raya. Sudah berpuluh kali mungkin kami makan di restoran tersebut dengan menu yang itu-itu saja, tapi kami gak pernah bosan.

Sayang restoran tersebut sudah tutup, ntah kenapa, padahal rame dan posisinya strategis.

Semua kenangan tersebut dengan mudah saya akses kembali. Artinya mereka ada di long term memory saya. Sangat berkesan. Dan maaf, saya tidak mau melupakannya.

Saya tetap mencintai kuliner Padang sampai dokter melarang saya, hi,hi,hi. So far belum, jangan sampai yaaa!

Yuk makan nasi Padang, tambo lah ciek Daaaa!