Memaksa Diri

Cerita kehidupan seorang pengangguran

Memaksa Diri

 

Hari ini aku tertidur pagi lagi.
Terlalu banyak pikiran dan terlalu banyak tekanan.
Rasanya ingin menghilang dari kehidupan.
Pikiran negatif selalu berdatangan.
Mungkin ini alasan kenapa insomnia menjadi teman. 

Semenjak kerja ku terhenti karena pandemi, rasanya hanya ingin berdiam diri. 
Menikmati duka dan tidak melakukan apa-apa. 
Tapi, sampai kapan?

Jadi, aku berjanji untuk memaksa diri. 

Meski mata terasa berat, aku memaksakan diri untuk bangun pagi dan mandi. 

Meski tergoda membeli makanan karena perut lapar, aku memaksakan diri untuk memasak makanan pagi ini.

Meski rasa malas menyerang, aku memaksakan diri untuk mencuci baju yang sudah menumpuk selama seminggu.

Meski otak belum sepenuhnya berfungsi, aku memaksakan diri untuk tetap mengerjakan revisi demi sedikit rezeki.

Meski rasanya ingin bermalas-malasan, aku memaksakan diri untuk terus mengirimkan lamaran.

Meski rasa percaya diri perlahan menghilang karena gagal berulang kali, aku memaksakan diri untuk tetap percaya pada Sang Pemberi Rezeki.

Meski rasanya ingin tenggelam di tengah permasalahan, aku memaksakan diri untuk tetap berada di permukaan.

Bertahan ya, diriku. 
Ini berat tapi kamu kuat.
Masih ada rezeki di bulan ini.
Kalau hari ini gagal, besok kita coba lagi.