Melihat Kembali Model Komunikasi dalam Dunia Pendidikan

Melihat Kembali Model Komunikasi dalam Dunia Pendidikan

Pendidikan di Indonesia selalu mendapatkan kritik terkait berbagai permasalahan yang terjadi sehari-hari di tengah masyarakat. Hal tersebut wajar karena pendidikan memiliki peran sentral dalam sosialisasi nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat kita. Sementara itu, berbagai permasalahan yang berkelindan dalam dunia pendidikan di Indonesia tampak tidak banyak berarti perbaikannya.

Salah satunya seperti yang dilaporkan oleh FSGI (Federasi Serikat Guru Indinesia), dengan masih banyaknya dijumpai metode pembelajaran satu arah yang memanjakan siswa dan membuat siswa tumpul daya kritisnya. Permasalahan metode pembelajaran tersebut menjadi salah satu inti permasalahan dunia pendidikan kita. Untuk itu agar tujuan pendidikan dalam membentuk manusia berkualitas sebagai agen perubahan di dalam masyarakat dapat terwujud, penting bagi segenap pemangku kepentingan merenungkan kembali model komunikasi guru-siswa yang lebih efektif.

Komunikasi yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu proses penyampaian informasi, baik itu pesan, ide, dan gagasan, dari satu pihak ke pihak lainnya yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Sementara jika dilihat secara etimologis, kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare” yang artinya “menyampaikan”,  sehingga komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian makna dari satu entitas atau kelompok ke kelompok lainnya melalui penggunaan tanda, simbol, dan aturan semiotika yang dipahami bersama.

Dengan begitu komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang terjadi dalam dunia manusia. Karena meskipun dikatakan semua makhluk hidup melakukan komunikasi, namun komunikasi antarmanusia memiliki perbedaan dengan makhluk hidup lainnya. Jika pada hewan maupun tumbuhan komunikasi dilakukan berdasarkan insting alamiah, komunikasi yang terjadi pada dunia manusia dapat melibatkan rasionalitas atau akal sehat. Melalui komunikasi manusia dapat mempengaruhi pihak lain untuk mengikuti pandangan-pandangannya. Sementara hal tersebut tidak terjadi pada komunikasi dalam dunia hewan maupun tumbuhan.

Karena itu komunikasi merupakan sesuatu yang sangat vital di dalam banyak bidang kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan kita melihat pentingnya praktik komunikasi terutama di ruang kelas. Bagi dua pihak, yaitu guru dan murid, komunikasi merupakan hal sentral di dalam melakukan proses pendidikan. Sebagai orang yang lebih dewasa, guru memberikan informasi pengetahuan dan pengalamannya kepada murid, sebaliknya murid dapat pula menyampaikan apa yang menjadi pandangannya tentang topik-topik yang sedang didiskusikan bersama dalam ruang kelas.

Pendidikan sendiri bertujuan sebagai salah satu sarana sosialisasi nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakatnya, sehingga di dalam proses sosialisasi tersebut tidak mungkin tanpa melibatkan adanya suatu proses komunikasi. Dengan komunikasi yang tepat proses sosialisasi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat akan dapat berjalan lebih efektif. Bahkan di dalam pendidikan tinggi yang lebih menuntut kemampuan berpikir kritis, komunikasi diharapkan berlangsung dialogis atau dua arah sehingga dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang dapat menyelesaikan permasalahan sehari-hari di dalam masyarakat. Dengan begitu tujuan pendidikan sebagai tempat mendidik agen-agen perubahan di masyarakat dapat terwujud.

Sementara itu kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita masih jauh dari harapan di atas. Guru masih memberikan pengetahuan kepada murid dengan pandangan bahwa murid merupakan kertas kosong yang harus diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh gurunya. Dengan kata lain pembelajaran terjadi secara satu arah alias monologis.

Hal demikian tentu bertolak belakang dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Murid yang hanya menerima begitu saja pengetahuan dari guru tanpa mendapat kebebasan dalam memaknai dunia di sekitarnya, akan kesulitan membentuk pribadi yang merdeka dan memiliki pola berpikir kritis, yang mana merupakan prasyarat mutlak di dalam membuat perbedaan dan berkontribusi kepada masyarakatnya.

Murid yang mendapat model pembelajaran demikian akan cenderung malas berpikir dan hanya menunggu instruksi dari pihak yang berwenang, sehingga sulit diharapkan memiliki pandangan baru yang sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah baru akibat perubahan yang terjadi semakin cepat dewasa ini.

Kita perlu melihat kembali model komunikasi apa yang harus kita lakukan di dalam ruang kelas, jika ingin melihat para pembelajar bertranformasi sebagai agen perubahan di dalam masyarakat. Dunia pendidikan dapat menjadi garda terdepan di dalam mensosialisasikan model komunikasi yang dapat membentuk manusia yang memiliki nalar kritis terhadap dunia di sekitarnya. Komunikasi yang dilakukan haruslah komunikasi yang berdasar atas rasionalitas atau akal sehat disamping mensyaratkan kesetaraan di antara para pesertanya.

Di dalam komunikasi seperti itu diharapkan muncul ide-ide baru yang berbeda dengan ide status quo karena permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar kita tidak akan dapat diselesaikan dengan menggunakan cara-cara yang lama. Di dalam komunikasi yang rasional, pemikiran-pemikiran yang tidak lagi relevan dapat dibantah dengan pikiran-pikiran baru yang lebih masuk akal.

Model komunikasi seperti itu tidak akan berhasil dalam ekosistem ruang kelas, di mana guru menyampaikan pengetahuannya dan siswa mencatat setiap ucapan atau tulisan gurunya. Sebaliknya yang kita butuhkan adalah ruang kelas yang memfasilitasi siswa-siswanya untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya tentang dunia sekitarnya. Karena dengan demikian otomatis akan semakin banyak pandangan-pandangan yang dihasilkan, dan pada akhirnya akan banyak pula alternatif-alternatif pemecahan masalah di kehidupan kita.

Demikian bagaimana model komunikasi di dalam ruang kelas dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih baik di masyarakat. Komunikasi satu arah sudah sepantasnya kita tinjau kembali, apabila kita mengharapkan banyak gagasan-gagasan baru muncul untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang semakin hari semakin cepat berubah pula.

Komunikasi yang kita bangun seharusnya komunikasi yang dialogis dengan memanfaatkan kodrat manusia sebagai makhluk yang dibekali akal sehat. Dunia pendidikan sebagai salah satu tempat sosialisasi nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat harus menyadari peran sentralnya di dalam menyediakan ekosistem yang mendudukung terbentuknya masyarakat yang komunikatif tersebut. Ruang kelas dapat menjadi tempat siswa mengembangkan pemikiran uniknya mengenai dunia di sekitarnya.

Dengan ekosistem demikian, para pembelajar dapat diharapkan memberikan ide-ide segar setelah terjun ke dalam masyarakatnya. Bukan justru sebaliknya tetap menjadi pengikut para pemegang staus quo dan menutup mata terhadap kesusahan-kesusahan yang dihadapi masyarakatnya.