Meja Dua Dan Kereta Kuda

Meja Dua Dan Kereta Kuda

 

Pagi ini aku bersiap-siap untuk bekerja.
Mengenakan seragam kemeja kotak-kotak merah putih seperti biasa.
Yanti menyemprotkan cairan pembersih ke seragamku, sambil menyanyikan lagu kesayangannya. Sambil mengelus-ngelus aku, Aku suka wanginya.
Kucing kami si Manis berusaha menarik perhatian.
“Sabar ya Manis, masih pagi, tunggu sebentar lagi!” kata Yanti sambil mengelus-ngelus Manis.
Tampaknya Yanti sedang gembira. Mungkin karena tanggal muda.
“Sini dong Yanti, semprot aku juga!” kata teman sekerjaku tak mau kalah.
Yanti tidak menghiraukannya, tetap asik merapikan aku saja.
“Yanti cepetan, udah jam berapa nih, sebentar lagi kita buka!” kata ibu Lina.
“Iya bu, ini udah hampir selesai!” kata Yanti.
Yanti bergegas pindah ke meja sebelah, mengurusi teman sekerjaku.
Menyemprotkan cairan pembersih kepada temanku dan mengelus-ngelusnya.
Dia tersenyum senang.
“Hm, harum.” katanya berbinar.
“Yanti, hari ini kamu makin cantik aja!” rayu temanku.
Yanti tidak mengacuhkannya, dia masih terus menyanyikan lagu kesayangannya.
Lesung pipitnya  masih menghiasi wajah manisnya, lebih manis dari es teler yang jadi primadona di sini.
Ada apa sih Yanti hari ini kelihatan senang sekali.

Seorang laki-laki masuk dengan kikuk. Pakaiannya lusuh, agak basah karena keringat.
Dua anak kecil mengikutinya. Persis seperti induk angsa dan anaknya yang baru keluar dari sungai.
Pakaian mereka sama lusuhnya. Dan bau keringat mereka cukup menyengat.
Kedua anak itu tampak ceria dan tertawa-tawa.
"Silahkan duduk di Meja dua!" Yanti membawa mereka duduk mengelilingiku.
“Enak ya tempatnya! Mewah!” kata si kecil sambil memandangi ruangan kami. Aku merasa bangga mendengarnya. Tidak sia-sia aku selalu berusaha tampil rapi setiap hari.
Tidak sia-sia Yanti selalu membantuku berdandan setiap hari.
“Tahun lalu aku juga ulang tahun di sini!” kata kakaknya terlihat bangga.
Adiknya memainkan seragam kotak-kotakku.
Yanti datang memberikan menu pada mereka.
“Mau makan apa sayang?” tanya Bapak itu.
“Rendang!” jawab anak yang kecil.
“Nggak ada rendang di sini sayang, kan bukan warung padang!” kata Bapaknya.
Wajah si kecil tampak kecewa.
“Kalau mie goreng aja gimana?”  tanya Bapaknya.
Si kecil mengangguk. Bapaknya terlihat senang. Mie goreng adalah menu termurah di sini.
“Saya pesan satu porsi mie goreng!” kata Bapak itu pada Yanti.
“Satu porsi aja pak?” tanya Yanti.
“Iya, Satu porsi aja, tolong minta piring kosongnya tiga ya!” katanya.
“Iya pak.” kata Yanti
“Mau minum apa pak?”
“Kalau es teh gratis nggak di sini?”
“Es teh bayar pak, tapi air putih gratis.” kata Yanti.
“Kalau gitu air putih aja tiga ya.” katanya.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang, Seporsi mie goreng dan diberi tambahan acar gratis. “Boleh minta tambah acarnya?” tanya bapak itu.
“Boleh, sebentar ya.” kata Yanti.
Mereka makan dengan lahap. Si Bapak makan paling sedikit.
“Rasanya persis seperti masakan almarhum ibu!” kata si sulung.
Wajah bapak itu tampak sendu.
“Pak, makasih ya udah diajak ke sini lagi!” kata anak tertua, sambil mencium bapaknya.
“Makasih pak!” kata si adiknya ikutan memeluk dan mencium bapaknya.
Bapak itu tersenyum bangga, mengelus kepala kedua anaknya.
Kucing kami si Manis tumben diam saja tidak mengganggu tamu yang ini.
Mungkin si Manis tahu kalau tidak ada daging di meja itu. Cuma Mie goreng dan acar.
“Pak, aku masih lapar!” kata si sulung tak lama kemudian.
“Boleh tambah pak?” tanya si bungsu.
“Tahun depan kalau kamu ulang tahun lagi, kita ke sini lagi ya!” hibur bapaknya.
“Hari ini cukup segini aja, uang bapak nggak cukup buat beli lagi. Kita makan lagi di rumah ya? Nanti bapak masakin telur dadar!” kata bapak itu.
Kedua anak itu bersorak senang.
Aku merasa kasihan, mereka bersorak hanya karena akan makan telur dadar.
Bapak itu sibuk menghitung uangnya, hingga receh-receh.
Lalu ia memberikannya pada Yanti.
Uangnya pas-pasan. Tidak ada tip untuk Yanti.
Tapi Yanti tidak marah. Tetap memamerkan lesung pipitnya.
“Terima kasih Pak!  Mampir lagi ya!” katanya.
Keramahan Yanti memang sudah terkenal di antara pelanggan kami.
“Kita pasti ke sini lagi tahun depan!” kata si kecil.
Kedua anak itu menyempatkan mengelus-ngelus si Manis sebentar sebelum pulang.

Yanti membersihkan aku. Menyemprotkan cairan pembersih lagi.
Hm, harumnya, aku suka.
“Aku mau disemprot juga dong!” goda teman sekerjaku, si meja tiga.
Yanti tidak menghiraukannya. Meja tiga masih bersih. Dari tadi belum ada tamu di situ.
Letakku memang paling dekat pintu masuk, Jadi kebanyakan tamu lebih memilih duduk di sampingku.


Tak lama kemudian datang sepasang tamu.
Mereka adalah pelanggan tetapku.
Minimal seminggu sekali mereka ke sini. Aku sudah kenal mereka.
Pak Hari dan Kereta Kuda. Pak Hari seperti biasa mengenakan kemeja bermerek dengan jam tangannya yang milyaran. Reta seperti biasa memakai pakaian terbuka. Kali ini gaun merah dengan belahan dada rendah.  Make-upnya sempurna. Tapi kecantikannya tidak mampu menutupi kesedihannya.
Meja tiga bersiul-siul melihat Reta. Untung Reta tidak dapat mendengarnya.
“Hey Meja dua, Enak loe ya, dapat tamu sexy terus!” kata Meja tiga.
Reta Kuda menghentakkan tubuhnya, duduk di bangku dengan malas.
Seperti biasa, sepatu hak tingginya menendang-nendang kakiku. Aku menjerit kesakitan. Tapi dia tidak peduli, tetap asik terus menendang-nendang.
Pak Hari duduk di sebelahnya, sambil mengelus-ngelus Reta.
Yanti membawa menu untuk mereka.
Hari selalu memberikan tip besar untuk Yanti. Bisa dibilang mereka adalah pelanggan kesayangan Yanti. Walaupun Reta suka rewel juga.
“Halo, apa kabar Pak Hari, Mbak Reta, mau makan apa hari ini?” tanya Yanti.
“Kepiting saus padang, Gurame asam manis, cumi saos mentega, Nasi goreng, Seafood hotpot, Sapi lada hitam, Kailan cah jamur !” kata Pak Hari.
“Kamu mau apa sayang?” tanya Pak Hari.
“Aku nggak napsu makan!” rajuk Reta.
“Aku mau es teler aja.” katanya.
“Es teler dua, Aqua dua, bir satu!” kata Pak Hari.
Yanti mengulang pesanan mereka dan segera pergi.
“Kenapa sih kamu selalu ngajak aku ke tempat murahan begini?” tanya Reta.
Aku tersinggung, Masa kita dibilang murahan?
“Di sini nggak ada orang yang kenal kita!” kata Pak Hari.
“Aku bosen makan di sini. Kapan kamu ngajak aku candlelight dinner lagi?”
“Margareta, Kita harus hati-hati, kita nggak bisa pergi ke restaurant yang sering dikunjungi keluarga & teman-temanku!”
Reta cemberut.
“Mereka taunya kita sudah putus. Kalau mereka melihat kita….” Pak Hari berusaha menjelaskan tapi dipotong Reta.
“Kamu bilang nggak cinta istrimu, tapi kenapa masih belum dicerai juga?”
“Orangtuaku nggak mungkin mengizinkan aku cerai Reta, Kau tau kan aku dijodohkan agar bisnis kita bisa merger. Usaha ayahku nyaris bangkrut, kalau tidak ditolong mertuaku.”
“Kalau aku cerai, aku bisa bangkrut Reta!” kata Pak Hari.
“Aku cuma sayang kamu. Nggak usah mikirin surat nikah. Yang penting kita bahagia!” kata Pak Hari.
“Tapi aku sudah umur 33! Sampai kapan aku harus menunggumu? Nanti kalau aku sudah tua, kamu tinggal, cari lagi yang lebih muda!” kata Reta sambil berkaca-kaca.
“Jangan berpikir seperti itu!” kata Pak Hari.
Yanti datang membawa pesanan mereka.
Pertengkaran mereka terhenti sementara, mereka menikmati makanan mereka dalam keheningan. Seperti ada jurang pemisah diantara mereka, Seolah mereka berada di alam yang berbeda.
Si manis mengitari mereka, berusaha mendapatkan jatah makanan. Reta menendang Manis dengan sepatu hak tingginya. Seakan melampiaskan kemarahannya pada Pak Hari kepada si Manis.
“Meong!” Manis menjerit kesakitan.
“Jangan dong! kasihan, Sini manis, kamu mau ikan?” Pak Hari menyisihkan ikan gurame untuk si Manis.
Pak Hari sibuk memberi makan si Manis dengan aneka seafood, si Manis tampak senang.
Sepertinya Pak Hari juga pelanggan kesayangan si Manis.
Masih banyak makanan yang tersisa di meja. Tapi tampaknya Pak Hari sudah kenyang.
“Mau dibungkus Pak?” tanya Yanti.
“Nggak usah, buat si Manis aja!” katanya.
Hari membayar dan memberi tip besar untuk Yanti.
Yanti tersenyum gembira dan pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa sih kamu selalu kasih tip besar ke pelayan itu? kamu naksir ya?” tanya Reta.
“Mulai lagi deh. Kita kan langganan di sini, bagi-bagi rejeki lah!” kata Hari.
“Tapi kamu suka kan sama dia, cantik kan?” kata Reta.
“Cantikan kamu!” kata Pak Hari.
“Cantikan Yanti!” teriak Meja tiga.
Pak Hari merangkul Reta, meninggalkan rumah makan kami.

“Emangnya kita rumah makan mewah atau murah sih?” tanyaku pada Meja tiga.
“Ya dua-duanya lah !” kata Meja tiga.
Aku menatapnya bingung.
“Tergantung persepsi pelanggan kita!” katanya.
“Aku sebal sama si Reta kuda!” kataku.
“Ah Meja dua, jangan suka baper!” kata meja tiga menasehatiku.
“Tiap datang selalu nendang-nendang aku! Dasar Kereta Kuda! si Manis juga abis, kena ditendangin terus!” kataku mengadu.
“Ah dasar manusia! Belum ngerasain jadi meja sih dia!” kataku mengerutu.
"Meong!" si Manis setuju.


Catatan: Ini adalah latihan menulis Metaphora dan Personifikasi.