Mbah Jathil Kesurupan

Mbah Jathil Kesurupan
Image by anakdewa from Pixabay
Peluh menetes-netes di sekujur tubuh para penari. Wajah-wajah mereka merah terbakar teriknya mentari. Makin senada dengan riasan wajah menor merah dan hitam. Musik pengiring berubah monoton. Neng neng neng gung, neng neng neng gung, neng neng neng gung. Isyarat ini dipahami para penari. Perlahan mereka menyingkir, menyisakan tiga penari muda dan satu penari gaek di lapangan pertunjukan. Penonton pun antusias menantikan pertunjukan yang sebenarnya.
 
Penari pertama duduk di pinggir lapangan. Mulutnya sibuk mengunyah kulit kelapa. Bibirnya memerah tersayat sabut. Pandangan matanya kosong. Penari kedua masih menari di tengah lapangan. Gerakannya makin lincah dan rancak mengikuti irama. Maryo penari ketiga. Ia menari di pinggir. Matanya jelalatan mencari-cari Mbah Jathil. Sebelum pertunjukan, Mbah Jathil, si penari gaek sekaligus pelatih, meyakinkan Maryo dan dua penari itu bahwa mereka akan baik-baik saja. "Kowe mengko ora bakalan krasa apa-apa. Kowe kebal." Tiga penari dipilih untuk memamerkan ilmu kebal milik Mbah Jathil.
 
Mbah Jathil menari mengelilingi lapangan. Meskipun tua, namun gerakan Mbah Jathil lincah dan luwes. Tiba-tiba ia bersirobok dengan seorang perempuan tua di deretan penonton. Darahnya berdesir. Terlambat! Mbah Jathil merasa tubuhnya kian berat. Ia tak mampu mengendalikan gerakannya. Ia bahkan belum mengoleskan ajian kebal kepada tiga penarinya. Terlambat! Terlambat! Satu persatu penarinya roboh menghadapinya. Darah segar mengucur membasahi tanah. Sambil tersenyum tipis, perempuan tua itu meninggalkan lapangan. Penonton gempar dan bubar. Mbah Jathil kesurupan! Mbah Jathil kesurupan! (rase)