Mati Gaya Saat Ngobrol Dengan Anak Remaja? Perhatikan Ini!

Mati Gaya Saat Ngobrol Dengan Anak Remaja? Perhatikan Ini!

Bagaimana zoominar-nya tadi, Nak? Ada kesulitan enggak?" "B Aja." 
B Aja, ungkapan populer anak milineal, artinya biasa saja.

"Kok cemberut begitu sejak pulang dari gowes? Kenapa, Nak?" "Nggak pa-pa, Bun."

"Menurut kamu, film yang kita tonton tadi di Netflix bagaimana?" "Seru."

Duh, gemas, gemas, gemas! Gemas dengan sikap si anak lanang. Segera rangkaian pertanyaan bertubi-tubi menyergap otak. Apakah hanya saya, emak di dunia ini yang merasa senewen menghadapi jawaban irit binti singkat dari si anak remaja lelaki? Sebaliknya, apakah cuma anak saya --yang baru beranjak remaja-- yang bersikap demikian terhadap emaknya? 

Pikiran lantas menerawang ke tahun-tahun sebelumnya saat si anak lanang masih duduk di bangku sekolah dasar. Wajahnya masih bulat, bentuk rahangnya yang kini sudah tegas saat itu belum terlihat. Kulit mukanya masih bening dan terawat, belum dijejali dengan jerawat. Dulu, suaranya cempreng tidak karuan. 

Sekarang, teman-teman perempuannya bisa klepek-klepek mendengar suaranya yang pecah plus renyah bagaikan rengginang garing. Dulu, mulut mungilnya sering mengoceh demi memuntahkan satu persatu cerita bersambung yang dianggapnya amat penting. Sekarang, jangankan bercerita panjang lebar kali tinggi, rasa-rasanya stok kata-kata di mulutnya sudah menipis tanpa sebab.

Masa Kritis
Kenyataannya, --dan ini patut disyukuri-- beginilah kondisi riil yang pasti dialami oleh tiap-tiap anak yang sudah melewati masa kanak-kanak, lalu berlanjut memasuki masa pertumbuhan remaja atau menjelang dewasa. Ada perubahan fisik yang sangat menonjol (baligh) dan dibarengi dengan perubahan mental serta cara berpikir (aqil). 

Ketika anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan menstruasi untuk pertama kalinya, pada saat inilah lintasan hidupnya yang baru, penuh tantangan, yang mungkin juga bakal diwarnai aneka drama bagaikan drakor, dimulai. 

Drama? Di mana dramanya? 

Jika semua emak berpikiran seperti saya kala itu yang awalnya menganggap bahwa ketika respon si anak yang tidak sesuai ekspektasi dalam proses berkomunikasi dengan orangtua adalah masalah, maka itu bisa jadi drama. Celakanya, drama ini bisa memiliki seri panjang jika tidak ada episode penutup.

Sebelum orangtua telanjur baper, senewen kebangetan dengan perubahan baru sang anak remaja, 
sangat disarankan orangtua memahami dahulu keadaan luar-dalam diri sang anak remaja. Orangtua harus belajar lagi. Sebab, kenyataannya anak remaja yang baru memasuki tahap pertumbuhan barunya ini juga bingung dengan apa yang sedang dialaminya. 

Dia kaget dengan perubahan fisik dan mental yang cepat akibat hormon-hormon yang lepas dari kelenjar kecil di dasar otaknya. Dia juga bingung dengan kondisinya yang tiba-tiba bisa uring-uringan, gelisah tidak karuan pada waktu tertentu. 

Pada saat inilah sebenarnya anak remaja bergelut dengan masa kritis. Disadari atau tidak, dia sedang melatih dirinya sendiri untuk berjuang mengelola gejola emosinya yang sedang meluap-luap. Dia juga sedang memampukan dirinya untuk berhasil melewati godaan mencoba ini-itu akibat efek pertemanan. Cara berpikir dan kondisi mentalnya ditantang. Lalu, apakah kita sebagai orang dewasa tidak merasa kasihan kepadanya? 

Empati
Berdasarkan pengalaman pribadi, pada fase tumbuh kembang anak remaja seperti ini orangtua harus mampu mengeluarkan empati sebesar-besarnya pada sekecil apapun perubahan yang sedang dilakoni oleh anak remaja. Inilah modal awal yang harus orangtua pegang untuk mendukung pertumbuhan anak remajanya.

Pubertas, gejolak emosi, cara berpikir dan bersikap yang berbeda, sesungguhnya bukan tantangan milik si anak remaja semata. Jika orangtua mau berpikir keras, justru hakikatnya semua itu adalah tantangan mega orangtua yang notabene adalah pengasuh, pendidik nyata bagi sang anak.

Jika empati sudah tercurahkan sepenuhnya kepada anak, maka dijamin proses interaksi selanjutnya tidak akan menemui batu terjal bejibun. Mengapa? Sebab ia sudah merasa nyaman dengan lingkungan sekitar dan bahwa ada kepercayaan yang datang dari sahabatnya yakni sosok Ayah dan Bunda atas situasi dirinya. Ya, menjadi sahabat bagi si anak remaja adalah buah manis dari empati. 

Sahabat seperti apa sih yang tepat bagi anak remaja dan semestinya dipraktikkan oleh orangtua?

Pertama, sahabat yang santuy. Orangtua kudu elegan dalam berinteraksi dengan anak. Gunakan bahasa yang santun, baik, terang dan jelas. Tidak perlu berteriak saat berbicara kepada anak remaja. Orangtua harus memahami ilmunya bahwa ada perbedaan program bicara dan bahasa akibat respon otak antara lelaki dan perempuan dalam berkomunikasi. 

Menurut hasil riset neurosains yang sudah sangat populer, lelaki mengeluarkan 5- 9 ribu kata tiap hari. Sedangkan perempuan mampu bicara sebanyak 16 - 24 ribu kata per hari. Ini menjelaskan mengapa kaum lelaki sangat irit berbicara. Jadi, kaum emak jangan heran lagi jika si anak remaja lelaki pelit ngomong. 

Kalau dia tidak berbicara banyak atau tidak menjawab atas pertanyaan dari emak, itu bukan karena dia sedang membangkang. Tapi karena stok kata yang dia miliki sudah dihabiskan sebelumnya, mungkin ketika berada di sekolah atau saat sedang bermain bersama temannya. 

Lelaki juga jarang curhat karena otak lelaki didesain solutif. Lelaki biasanya sudah mempunyai solusi atas 
masalahnya. Berbedaa dengan perempuan yang gemar bercerita jika sedang ada masalah. Sebab kenyataannya, perempuan hanya ingin didengar. 

Konselor
Kedua, sahabat pendengar. Selama masih punya anak, sampai kapanpun sepertinya orangtua harus selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Bukan cuma mendengarkan dengan baik, tapi juga mendengarkan dengan aktif. Memang agak sulit, mengingat pada dasarnya manusia ingin menjadi obyek yang selalu diperhatikan. 

Mendengarkan aktif maksudnya adalah berempati, memerhatikan dan menyimak. Inilah sebenarnya kunci komunikasi efektif antara orangtua dan anak. Sebab, pada tiap masalah yang terjadi pada orangtua dan anak bisa dipastikan mengerucut pada jalur komunikasi yang mandeg.

Lalu, caranya mendengarkan aktif? Gunakan selalu isyarat tubuh. Tanggapi anak secara verbal. Kita terima selalu apapun yang diungkapkan anak. Jangan menyelanya, atau membantahnya di awal. Jangan lupa, kenali perasaan anak remaja, apakah ia sedang jengkel, galau, senang. Intinya, tangkap dahulu emosinya sebelum kita mendengarkan anak. Orangtua, khususnya emak itu bagaikan seorang konselor. Profesinya, cuma mendengarkan anak bercerita. 

Ketiga, sahabat obyektif. Orangtua yang mampu menjadi pendengar yang baik, obyektifitasnya terhadap anak tentu tidak akan berbelok. Orangtua tidak akan mudah menghakimi, memvonis ucapan, tindakan' perilaku anak. Bertukar pandangan, barter wawasan dan bukan melulu nasihat adalah jalan ideal agar komunikasi dengan anak tidak mati gaya. Jadi, siapkah orangtua menghadapi tiap-tiap perubahan pada anak kelak?