Masalah Kelar Cuman Ngomong Doang?

Masalah Kelar Cuman Ngomong Doang?

Siapa disini yang hidupnya banyak banget masalah yang merasa ga ada habis-habisnya. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, untuk menjalankan hidupnya manusia sering bergantung dengan manusia lainnya. Jadi tidak heran jika sesuatu diluar kendali diri manusia bisa saja datang membawa hal-hal yang tidak diinginkan atau datangnya dari diri kita sendiri.

Masalah yang dihadapi manusia bermacam-macam ada dari sisi percintaan, perkerjaan, kehidupan rumah tangga, pertemanan dan masih banyak lagi. Masalah juga bisa dikatakan kondisi yang tidak disukai oleh manusia. Ketika  masalah datang manusia reflek untuk menolak hal tersebut dan memilih menghindar. Namun cara ini juga bukan menyelesaikan masalah bahkan menambah ruang masalah menjadi rumit. Dengan masalah yang tak kunjung selesai juga bisa mengakibatkan hilang harapan seseorang akan hidup hingga memunculkan stress, depresi, frustasi, lebih buruknya lagi bereaksi ke tindakan untuk bunuh diri, jangan sampai begitu ya.

Masalah yang dibiarkan dan tak selesai menjadi kebiasaan manusia yang salah. Mereka me-anggap bahwa dengan membiarkanya begitu saja masalah dapat hilang seiring dengan berjalannya waktu, tanpa mereka sadari kalau masalah yang datang sekarang bisa jadi karena tindakan yang kita lakukan waktu masa lalu. Masalah yang datang menjadi lebih berat dari sebelumnya juga dari kesalahan sendiri yang tidak mau menyelesaikannya dengan segera. Misalnya seperti ini, si A menjadi bendahara kelas, nah waktu di akhir sekolah akan ada acara perpisahan pergi berliburan keluar kota. Si A harus mengumpulkan uang siswa kelas selama dua semester dan harus dikumpulkan seminggu sebelum pergi liburan.

Pada awalnya si A selalu rutin mengingatkan teman-temannya untuk mengumpulkan uang. Namun di pertengahan semester si A kewalahan mengurus keuangan dan membiarkan tugas bendaharanya terbengkalai. Singkat cerita, seminggu sebelum perpisahan, ibu guru meminta catatatan keuangan dan meminta uang yang sudah terkumpul untuk diserahkan ke pihak sekolah. Si A pun panik dan terkejut melihat catatan keuangan yang tidak penuh. Si A meminta kepada teman-temannya membayar lunas hari itu juga. Sayangnya  sedikit yang menghiraukan, teman-teman di kelasnya ada yang keberatan membayar dengan berbagai alasan. Ibu guru pun terus memanggil A agar menyerahkan uangnya segera. Akhirnya si A mencari jalan lain dengan menggunakan uang tabungannya sendiri untuk membayar sebagian uang perpisahan tersebut.

Kondisi ini sungguh sangat disayangkan, mungkin pembaca merasa bahwa hal yang dilakukan A adalah salah, dia membiarkan tanggung jawabnya begitu saja hingga dia sendiri yang harus menanggung resikonya. Tapi ada juga yang mungkin berpendapat bahwa teman-teman sekelasnya-lah yang salah karena tak mau membayar padahal itu sudah kewajiban setiap siswa ataupun siswi. Akan tetapi, untuk pembaca ketahui bukan menyalahkan siapa yang kita cari namun dengan masalah tersebut hikmah dan pelajaran apa sih yang bisa kita ambil.

Dari cerita si A ia mendapatkan tugas menjadi bendahara, memang sudah tanggung jawabnya untuk mengumpulkan uang sebagai tugas rutinnya. Kelalaiannya dalam menjalani tugas juga berdampak pada sekitar. Dan akhirnya si A menjadi problem solver untuk dirinya sendiri dengan membayar uang tersebut. Tapi sebelum itu terjadi sebenarnya ada yang dapat ia lakukan agar ia tidak  mendapat rugi yang begitu besar  seperti harus membayar uang teman-temannya. Ada kesalahan kecil yang ia lakukan selain kelalaian, yaitu tidak mengkomunikasikan apa masalah yang tengah ia hadapi. Dengan kita menceritakan kepada seseorang terdekat bisa mengurangi stress atau beban yang kita tanggung sendiri.

Langkah awal untuk menyelesaikan masalah adalah komunikasi. Dengan komunikasi orang-orang saling bertukar pesan atau secara istilah milenialnya sharing ke teman dekat mengenai apa yang ingin kita bagikan. Carilah orang terpercaya dalam hidup mu itu bisa menjadi solutif ketika beban yang ditanggung tak dapat lagi dipikul. Pemahaman orang di setiap permasalahan berbeda-beda dengan perbedaan itu manusia tidak hanya melahirkan solusi namun terkadang juga dapat mengubah cara berpikir kita ketika menghadapi masalah.

Mengkomunikasikan beban apa yang kita rasakan bukan juga harus  dilakukan dengan membagikannya di laman sosial media. Hal ini seharusnya patut dihindari karena itu juga tidak membantu, mungkin dengan cara sebelumnya menceritakan kepada seseorang mendapatkan solusi juga tidak berarti sama untuk mendapat respon yang sama. Belum berarti ketika kamu menyebarkan permasalahan kamu di media sosial semua orang akan perduli. Bahkan dalam kejadian sesungguhnya banyak yang dihujat tanpa memberikan solusi. Untuk pembaca nih jangan ragu untuk bercerita apa masalah kamu ke orang-orang terdekat. Dan juga hindari kebiasaan memendam permasalahan sendirian itu juga bisa mengganggu kesehatan mental dan psikologis diri sendiri.