Masakan gitu doang, kok rame?

Masakan gitu doang, kok rame?
Masakan gitu doang, kok rame?

"Masakannya biasa aja tapi kok ramai, ya?". 

Tiba-tiba saja celetukan seorang teman terngiang di kepala.

Saat itu kami lagi makan di sebuah warung di Kota Balikpapan. Warungnya agak nyempil di pusat kota, dekat sebuah terminal. Menunya nusantara. 

Baru saja kami masuk warung, tetiba si ibu penjual langsung menyapa kami sembari melayani pesanan orang lain.

" lo, kok baru mampir, Mas? Lama ndak keliatan" senyum si Ibu.

"Lu sering kesini cuy?" tanya teman saya.

"Dulu sih sering, tapi kan gua pindah kantor jadi jarang lewat sini" kata saya sambil liat sajian di etalase.

"Iya, biasa Masnya pilih sayur pare, sama oseng kangkung, lauknya kikil sama telor dadar, bener tho?" Timpal si Ibu meyakinkan.

"Wah, bener banget, kok tau, Bu?"

"Ya taulah, ayo diambil sendiri nasinya, keburu laper lo" ujarnya tersenyum.

Semua sajian diambil secara prasmanan, yang juga khas adalah sambal dadaknya, sambal mentah yang dibuat dadakan diatas ulekan. 

Saat makan, kami lihat banyak pengunjung hari itu, ada yang makan di tempat, banyak juga yang dibungkus. Untuk yang milih dibungkus, biasanya si Ibu nanya "Nasinya kurang, Ndak?, klo kurang ibu tambahin" begitu juga dengan kuah dan sayur. 

Saat asik makan, si Ibu nyamperin trus bilang, "Nak, ayo ditambah nasinya, jangan malu, ya". Saya yang memang carbo lover bisa ditantang soal ini. Langsung aja melipir ke depan, ambil tambahan nasi, begitu juga dengan teman saya. Hari itu kami nambah sampai 3 kali. Hahaha

Di tengah kekenyangan, pertanyaan di awal itu muncul. Saat itu saya cuma bilang, " Ya, mungkin karena sajiannya diambil sendiri, murah pula." 

"Iya juga ya, asli kenyang banget cuy" katanya lagi.

Tapi, kayaknya saya harus mengoreksi ucapan saya saat itu. Walaupun nasi ngambil sendiri, sajiannya beragam dan murah, belum jadi jaminan warung bisa ramai.

Ada hal lain yang kecil yang gak saya sadari saat itu, yaitu sapaan-sapaan kecil yang ternyata berdampak besar.

Soal menanyakan kabar, ajakan untuk nambah nasi, itu nampaknya sangat membangun keterikatan antara konsumen dan penjual. Kita tidak dianggap sekedar tamu yang numpang makan tapi juga seperti keluarga. Ada sapaan dan candaan hangat yang dilanturkan spontan. Kita merasa seperti di rumah, walaun tentu saja di rumah orang hehe..

Tapi saya serius, ketimbang sibuk menata kesan warung ala rumah dengan pernak pernik piring, gelas, centong, yang serba rumahan, mending membangun keterikatan dengan sapaan yang mampu menghangatkan suasana, dan buat kita untuk datang lagi, dan lagi.