MARAH MENGGUNAKAN AYAT ALKITAB DI MEDIA SOSIAL, BOLEHKAH ?

MARAH MENGGUNAKAN AYAT ALKITAB DI MEDIA SOSIAL, BOLEHKAH ?

Menurut KBBI, marah adalah sangat tidak senang ( karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya ), berang , gusar. 

Dari beberapa artikel kesahatan yang pernah saya baca, hampir semua berpendapat sama bahwa sesekali melampiaskan amarah bisa membuat seseorang merasa lebih lega sebaliknya jika menahan amarah menyebabkan peningkatan hormon stres, yaitu adrenalin dan kortisol. Peningkatan hormon ini bisa memicu gangguan kesehatan seperti meningkatkan resiko infeksi, penyakit kardiovaskular serta gangguan mental, misalnya depresi.

Akan tetapi tentu saja cara melampiaskan amarah dengan hal-hal yang sifatnya positif bukan dengan cara berteriak lantang memaki lawan bicara atau tindakan destruktif lainnya. Namun bagaimana jika anda menggunakan ayat Alkitab untuk menyindir atau melampiaskan rasa tidak senang atau amarah anda kepada seseorang di media sosial ? Elokkah ? Apakah setelah melakukannya anda merasa bersalah atau merasa lega ? 

Jangan lupa bahwa sebenarnya untaian ayat-ayat Alkitab adalah tanda kasih Tuhan kepada umatNya untuk mengatur bagaimana manusia berprilaku sebagaimana mestinya. Jika ayat- ayat tersebut adalah cara Tuhan menyatakan cintaNya kepada umat maka elokkah kita menggunakannya dan menuangkannya dalam bahasa sindir di media sosial untuk menghantam orang lain ? Para Nabi dan Rasul yang turut menuangkan tulisan mereka berdasarkan ilham Tuhan mungkin saat ini sedang mengejek anda dari surga yang seenaknya menggunakan ayat-ayat suci untuk melampiaskan amarah apalagi di media sosial.

"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui ?" ( Matius 7:3 )

Ayat di atas adalah ayat populer yang paling sering saya jumpai ketika berselancar di media sosial. Tidak ada yang salah ketika kita menulisnya di laman pribadi tanpa ada maksud yang terselubung tetapi akan terasa janggal ketika di kalimat yang selanjutnya anda menuliskan rentetan rasa amarah yang dikemas dengan bahasa-bahasa berbau rohani dalam postingan anda. Pernahkah anda berpikir bahwa hal tersebut tidak membawa damai sejahtera bagi yang membacanya? Apalagi jika di kolom komentar dibanjiri dengan kalimat tanya dari orang-orang yang kepo dengan postingan anda. Lucunya lagi, seringkali mereka yang membuat postingan yang menurut saya aneh bin ajaib, dengan semangat 45 menjawab semua tanya dan tampaknya sangat menikmati beragam komentar yang dilontarkan oleh teman-teman dunia mayanya.

Seharusnya semakin tinggi tingkat kedewasaan rohani seseorang maka ia akan semakin bijak dalam bertutur di media sosial. Tetapi pada kenyataannya beberapa orang menggunakan media sosial untuk membangun citra dirinya supaya terkesan bijak padahal ia adalah seorang pemarah tetapi terlalu gengsi untuk menunjukkan sisi lain dari dirinya ketika sedang marah apalagi jika ia adalah seorang aktivis Gereja. Betapa pun anda bersembunyi dibalik topeng rohani, toh pada akhirnya orang-orang di sekitar anda mulai menyadari ada yang salah dengan diri anda dibalik ayat-ayat Alkitab tersebut.  

Jika kita merasa marah ataupun tersinggung dengan sikap atau tutur kata seseorang, ada baiknya kita mengkomunikasikannya secara baik-baik. Latihlah diri dengan belajar berpikir positif, siapa tahu lawan bicara tidak sengaja atau tidak bermaksud menyinggung kita. Jangan bertindak seperti pengecut yang lebih suka bersembunyi dibalik untaian ayat-ayat Firman Tuhan yang Agung tetapi anda tidak menggunakan dengan bijak melainkan menggunakannya sebagai senjata untuk menghujam orang lain. Sadarkah anda bahwa sebenarnya anda sedang "melecehkan" keagungan dari pernyataan cinta Tuhan kepada umat. Tindakan anda jauh lebih destruktif daripada prilaku seorang preman pasar. Jika kita bukan seorang Pengkhotbah, ada baiknya secara legowo kita memberikan ruang baik di media sosial maupun di dunia nyata kepada mereka yang memang memberi diri untuk melayani di atas mimbar karena hal tersebut adalah tugas mereka untuk menyampaikan uraian isi hati Tuhan kepada umat. Seorang Pengkhotbah pastilah lebih cakap dalam menempatkan ayat-ayat Firman di media sosial dan menjabarkan dengan baik ketimbang seseorang yang berlagak seperti Pengkhotbah padahal dirinya adalah  jemaat awam.

Coba periksa diri anda lagi, jika kenyataannya anda merasa lega sewaktu menghamtam orang lain dengan ayat Firman Tuhan apalagi di media sosial, sudah saatnya anda membutuhkan bantuan seorang profesional yaitu Psikolog. Apa anda butuh bantuan seorang pembimbing spiritual ? Sepertinya tidak, karena anda cukup mahir "menasehati" orang lain dengan ayat-ayat Alkitab, bukan ? tetapi tidak cukup cakap untuk mengenali karakter diri sendiri. Sebaliknya, jika anda merasa bersalah, itu artinya jiwa anda sehat dan anda hanya butuh introspeksi diri. Barangkali kesalahannya ada pada diri anda sendiri tetapi anda sibuk menyalahkan orang lain dan mulailah memposting hal-hal yang lebih berfaedah sehingga orang lain berkomentar di kolom komentar anda,"well...mi amigo, you rock my day."

Dalam menyambut perayaan Paskah 2021 dan meresapi makna dari perayaan tersebut, mari kita semua secara sadar mulai menghentikan semua kegiatan sindir-menyindir atau melampiaskan amarah dengan ayat-ayat Alkitab di media sosial. Tanamkan baik-baik dalam sanubari bahwa Tuhan menyayangi umatNya sedemikan rupa hingga Ia memberikan ayat-ayat suciNya yang menjadi alarm bagi umat untuk bertingkah polah lebih elok.

 

Paskah kedua di masa pandemi