Manusia Silver Adalah Kita

Manusia silver menutupi tubuhnya dengan cat silver dari ujung rambut hingga kaki. Kita kadang menutupi tubuh kita dengan sikap palsu dengan maksud tertentu.

Manusia Silver Adalah Kita
Manusia Silver

Di pinggir-pinggir Jakarta, terutama di perempatan atau di lampu merah sekarang mudah kita temui, manusia silver. Ya, manusia silver. Mereka bukan tokoh di komik Marvel. Mereka adalah para pengais rupiah dengan menjadi patung silver. Mereka seolah menjadi penghias perempatan-perempatan jalan. Manusia silver ini tidak sendiri, sering nya mereka berkelompok 3 sampai 4 orang. Mereka bertebaran, menghampiri mobil-mobil atau pengendara motor. Dengan kotak bekas kardus mie instan yang di cat silver juga, mereka menyodorkan pada pengendara roda 2 atau 4. Berharap orang-orang akan mengasihani dan memberinya lembaran rupiah.

Dari wujudnya, sekujur badan mereka di cat dengan warna silver. Rambut sampai ujung kaki, penuh warna silver. Kalau siang hari, kilau-kilau warna nya makin terlihat. Mirip patung besi atau perak. Konon cat yang dipakai mereka adalah cat sablon silver. Gak bisa kebayang, kalau mereka praktek tiap hari, dan harus mewarnai badannya dengan cat silver setiap harinya. Sepertinya bakal gatal-gatal. Apalagi kalau bener mereka pakai cat sablon. Bau cat sablon lebih menyengat. Karena dulu pernah beberapa kali menyablon sendiri, jaman kuliah.

Mereka rela berkorban dengan dicat sekujur tubuh, berpanas-panas ria di siang bolong, tanpa alas kaki pula. Semua demi rupiah. Mereka tetap menebar senyum, sesekali beratraksi menghibur, meski cuma dengan gerakan menghormat ke pengendara. Melihat pengorbanan mereka, seperti melihat yang saya lakukan atau beberapa teman lakukan. Meski dunia bisnis kita berbeda.

Kita juga mungkin pernah melakukan hal yang kurang lebih sama dengan manusia silver ini. Di dunia marketing, production house, advertising, sales dan sejenisnya, kita sering berkorban dengan perasaan kita, demi menghasilkan bisnis, uang atau keuntungan. Kita sering menutupi kekesalan kita dengan klien tertentu yang berperilaku mengesalkan atau menjengkelkan, dengan tetap bersikap manis. Senyum manis tetap kita sunggingkan, sikap yang baik kita tunjukkan, sambil berargumentasi supaya ide atau jualan kita dibeli. Kadang ada klien yang kasar, tata bahasanya. Menolak dengan cara menyakitkan atau merendahkan. Kita tetap bersikap manis, mengeluarkan jurus argumentasi dilengkapi dengan data, untuk meyakinkan mereka. Belum ide yang sering bolak balik. Awalnya gak setuju ide A, suruh ganti jadi ide B. Ganti lagi jadi ide C. Lalu ganti lagi ide B dikombinasi dengan ide A. Namun pada akhirnya balik lagi ide A, hanya endingnya tambahin idenya klien. Kadang perjalanannya bisa lebih panjang dari yang saya gambarkan di atas.

Menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran memang, untuk pengorbanan seperti ini. Prosesnya kadang bertele-tele. Tahu-tahu sudah 3 bulan. Tapi proyek belum jalan. Betapa perjuangan keras tak kenal kata lelah. Tapi tahu-tahu kita kepayahan. Butuh stamina yang prima higga akhirnya proyek gol dan jalan. Seluruh proses ini harus kita bungkus dengan sikap manis, meski kadang menyakitkan. Mirip dengan adegan manusia silver, yang bermanis-manis ria dengan pengendara.

Kita memang terkadang tak ubahnya manusia silver. Berjuang tak kenal lelah, tak kenal payah, demi rupiah, demi anak dan istri di rumah. Bila manusia silver membungkus tubuhnya dengan cat silver. Kita membungkus tubuh kita dengan sikap manis dan senyum manis dan kata-kata manis supaya klien kita setuju dengan  pemikiran atau ide kita. Yang pada akhirnya akan menghasilkan uang atau keuntungan, buat perusahaan atau buat diri kita pribadi.

Analogi manusia silver ini juga ada pada, para pejabat atau politisi kita. Pejabat pemerintahan atau politisi. Mereka juga suka menutupi wajah dan tubuhnya dengan sikap atau perilaku palsu, demi maksud dan tujuan tertentu. Apakah sikapnya menutupi kekurangan atas kinerjanya atau demi keuntungan tertentu. Kita gak tahu. Yang jelas di sekitar kita banyak sekali manusia silver, dalam wujud yang bukan silver.

Kembali ke manusia silver yang sebenarnya. Mereka baiknya di arahkan supaya gak berkeliaran di jalan. Dibina, dilatih menjadi pemain pantomime, mungkin bisa jadi pilihan. Supaya bisa beratraksi dan menghibur pejalan kaki atau di taman-taman kota di Jakarta. Butuh keseriusan untuk membina dan mengarahkan mereka ke habitat yang sebenarnya. Kalau mau menjadi pemain pantomim dengan wujud manusia silver bukan di perempatan jalan tempatnya. Tapi ini semua tergantung dari niat baik pemda atau pemprov Jakarta. Mau mengayomi atau menjauhi mereka. Tapi kalo kata pak Anies, kan dia mau membangun manusianya.  Begitu bunyi salah satu janji kampanyenya.

Dinza, Depok 16 March 2021