MANUSIA

MANUSIA
Sumber: pixabay.com

Di semesta ini, hujan adalah “sebuah”. Hujan adalah satuan yang mengamalkan hakikatnya lebih dari sekadar penyejuk alam di tengah gersang. Hujan adalah wujud baru dari kebahagiaan.

Dia adalah hujan kecil di kala mendung yang bersukacita menyambut gilirannya datang ke bumi. Empat bulan yang lalu di Tanah Biru, ketika mendung membungkus langit kota itu, ia menemukan seorang ‘penarik’. Sebelum ia sempat menghampirinya, musim hujan telah berakhir. Kesempatannya untuk bertemu dengan anak itu adalah musim hujan selanjutnya. Sekarang, ia harus berkelana lagi mengelilingi tanah lain.

Manusia mencari manusia lain demi secercah kebahagiaan di dunia yang sementara. Mereka bersatu, terikat, dan hidup bersama membangun kebahagiaan. Sampai akhirnya manusia menjadi serakah dan menuntut kebahagiaan yang lebih untuk diri sendiri. Manusia saling menghancurkan, kalut akan ketakutan kebahagiannya dirampas oleh manusia lain. Maka mereka saling menusuk, membawa lari kebahagiaan yang dirampas yang tak akan pernah cukup baginya, dan mati bersama sisa kebahagiaan itu. Generasi manusia pun musnah.

Zaman kebahagiaan telah berakhir. Manusia yang telah mati terkapar menjadi saksi sejarah naas yang menimpa manusia. Manusia-manusia baru telah belajar untuk tidak mempercayai sesamanya. Terlontang-lantung mereka hidup tanpa perasaan hidup itu sama sekali. Bertanya-tanya mereka apakah manusia hidup untuk menunggu mati saja. Dorongan untuk menemukan kebahagiaan pada manusia lain terus memicu namun takut sejarah terulang lagi.

Sampai akhirnya seorang manusia muncul dengan sebuah halo di atas kepalanya. Wajah manusia itu sumringah, ia tak tersenyum namun ia terlihat tenang. Tak ada cemas dan khawatir yang terpatri, dan manusia lain segera penasaran dengan perubahan signifikan itu.

“Hujan membantuku,” jawabnya singkat. Manusia-manusia kasihan itu tak paham.

“Aku harap awan kalian juga segera datang. Jika mereka datang, tariklah cepat. Jangan sampai mereka hilang. Musim hujan adalah jawabannya.”

Dia, hujan kecil di kala mendung, menyaksikan hujan lain yang baru saja menemukan ‘penarik’nya. Manusia-manusia putus asa perlahan mulai menemukan jawaban atas hidup mereka yang lontang-lantung.

“Karena manusia tak lagi menemukan harapan pada diri satu sama lain, maka sekarang giliran kitalah untuk memberi harapan itu. Manusia dulu memiliki kekuatan untuk membangun kebahagiaannya sendiri, tetapi mereka sendirilah yang menghancurkan kekuatan itu. Sekarang mereka akan bergantung pada kita. Tapi ingatlah bahwa manusia tidak pernah puas. Cepat atau lambat mereka akan menuntut lebih darimu. Ketika itu terjadi, musnahkan mereka. Hujan hanya melayani manusia yang bersyukur.”

Sang hujan kecil dengan sabar menunggu tibanya di Tanah Biru. Beberapa hujan di sekitarnya telah turun menghampiri ‘penarik’nya. Wajah penuh harapan manusia-manusia itu membuatnya tak sabaran. Mereka adalah manusia putus asa yang dungu, kata hujan-hujan lainnya, tetapi sang hujan kecil terlalu lugu untuk mengeluarkan komentar seperti itu. Anak di Tanah Biru itu membutuhkannya, dan sang hujan kecil akan menghampirinya. Itulah yang ia tahu.

Ia yakin anak itu tidak akan serakah dan mereka bisa hidup berdampingan selamanya. Ia tak akan memikirkan kemungkinan lain.

Sang hujan kecil telah melihat banyak hal dalam kelana panjangnya. Sisa-sisa manusia yang punah, manusia-manusia baru yang mengenaskan, hujan tua yang membinasakan manusia serakah, manusia yang mengumpulkan kepingan-kepingan kebahagiaan yang tak bernilai, manusia-manusia nyaris tumbang berpegang pada harapan hujan, dan manusia-manusia lain putus asa dalam kenihilan. Sang hujan kecil tidak akan melihat itu pada ‘penarik’nya, ia berjanji.

Petir dan gemuruh guntur mulai bersahutan ketika sang hujan kecil memasuki Tanah Biru. Setitik demi setitik air mulai meninggalkan bongkahan kapasnya yang mulai menggelap. Dibandingkan tanah-tanah sebelumnya, Tanah Biru masih terlihat sama suramnya seperti terakhir kali musim hujan menghampiri tanah ini. Kecuali jumlah manusianya yang kian sedikit.

Manusia tidak meninggalkan tempatnya begitu saja setelah mendapatkan awannya. Kemanakah sebagian manusia itu pergi? Ada apa dengan wajah manusia di bawah sana? Seperti ada yang mengganggu isi kepala mereka. Wajah manusia-manusia itu tak tenang, namun matanya menatap nyalang ketiadaan di hadapan mereka.

Apakah manusia menunjukkan tanda-tanda baru dari rasa keputusasaan yang merangkak ke permukaan?

Detik berikutnya, sang hujan kecil telah terperangkap dalam sebuah gelembung tebal yang ditembakkan oleh salah satu manusia bermata nyalang itu. Cepat dan kasar sang hujan kecil dalam perangkap itu kemudian ditarik ke perempatan besar yang lebih kumuh dari tempat lainnya dan disambut dengan manusia-manusia yang mengerumuni sebuah benda asing yang ribut dan usang.

Kengerian terjadi ketika benda itu bergetar dengan suara yang makin menggeram dan kerumunan manusia itu meraung layaknya orang kesurupan dan berteriak ‘giliranku!’, penuh racau. Dari cerobong benda yang menggeram itu kemudian muncul gumpalan putih seperti kapas yang keluar bersama awan yang hujannya mengguyur apa pun di bawahnya.

Seorang manusia segera menarik awan hujan dan gumpalan seperti kapas itu dengan kalut dan berlari pergi dengan tawa kesetanan. Sang hujan kecil terperangah. Awan itu baru saja diduplikasi.

“Para pendahulu belum menyerah atas kita. Lihatlah! Para pendahulu belum menyerah atas kita!!!”, seruan yang memekakkan telinga itu terdengar menjauh.

Manusia lain dengan keletihan yang telah tergantikan oleh gejolak api di matanya naik ke atas podium di samping benda mengerikan itu. “Penyelamat hidup kita telah tiba! Lipat gandakan kebahagiaanmu dan tinggalkan kesengsaraan! Peradaban manusia akan bangkit kembali! Manusia akan hidup kembali!!” Dan sahutan gemuruh manusia-manusia itu menggelora di seluruh penjuru Tanah Biru.

Detik berikutnya, sang hujan kecil telah berada di hadapan mesin duplikasi itu. Dicarinya keberadaan sang anak kecil di antara kumpulan manusia yang sebagian mulai kembali terlihat seperti manusia waras. Tak ada di mana-mana. Hatinya menangis ketika ia diseret masuk ke mesin terkutuk itu. Ratapan sang hujan kecil tak terdengar, ia tidak akan sama lagi setelah ini.  

     Di sudut jalan sana, anak kecil yang telah gagal mendapatkan awannya tergeletak tanpa nafas dalam kesepian. Anak yang malang dan sang hujan kecil tak berhasil bersatu.