MANAJEMEN KRISIS DALAM DUNIA VIRTUAL (Antara Internet, dan Krisis Ikat Pinggang Kampus)

MANAJEMEN KRISIS DALAM DUNIA VIRTUAL (Antara Internet, dan Krisis Ikat Pinggang Kampus)

 

Siapa yang masih ingat dengan krisis salah satu Kampus Negeri di Surabaya pada 2020 lalu? Kejadian yang mungkin lebih dikenal dengan Krisis Ikat Pinggang ini sempat menghebohkan media sosial dengan sekejap mata, merajai trending di twitter maupun Instagram. Kejadian bermula pada September 2020, ketika salah satu fakultas di kampus tersebut mengadakan acara Ospek melalui aplikasi meeting kepada para mahasiswa barunya. Permasalahannya dimulai ketika sang senior melakukan hal tidak sewajarnya seperti melakukan perploncoan virtual kepada para mahasiswa baru dan menyinggung mereka yang tidak mengenakan ikat pinggang saat itu. 


Menyikapi hal tersebut, pihak kampus langsung memberikan penindakan dan melakukan klarifikasi mengenai apa yang telah terjadi. Melalui Ketua Satuan Kehumasan kampus, dirinya mengatakan bila menyayangkan kejadian yang telah terjadi, namun pada akhirnya telah melakukan koordinasi untuk penyelesaian permasalahan ini secara internal dengan pihak terkait. Pihak kampus juga membuat pernyataan resmi terkait hal tersebut yang ditandatangani langsung oleh Rektor mereka.

Proses manajemen konflik tetap harus diselesaikan secara bersama-sama. Seperti menurut (Ivancevich, 2006:258) bahwa, “Perilaku yang buruk memerlukan campur tangan manajemen. Untuk itu mengelola perilaku buruk juga berhubungan dengan kesigapan manajer untuk bertanggung jawab, bertindak, memecahkan dan memperbaiki masalah”.
Selain itu, dalam dunia serba digital dan dipenuhi dengan internet saat ini, pentingnya memilih media mana yang tepat untuk mengunggah sesuatu juga penting karena penyebarannya yang cepat dan sulit dihilangkan jejaknya. Selain itu, koneksi juga harus menjadi pertimbangan yang matang dalam era virtual seperti ini. Kita tidak bisa memiliki anggapan bahwa semua orang memiliki wifi yang lancar di rumah masing-masing, atau bahkan paket data internet yang mumpuni. Maka dari itu, konsep mem-publish kegiatan ospek di internet dan bukan berarti kegiatan yang bisa dilakukan saat offline, juga bisa dilakukan secara online dengan lancar. Kan kalau marah-marah sewaktu ospek tapi sinyalnya ngadat akhirnya malu juga kalau ngomongnya delay.


 Namun yang menjadikan hal ini juga cepat reda adalah tindakan manajemen krisis yang dilakukan oleh pihak kampus sendiri, yang dianggap sangat tepat dan baik, seperti:


a. Membuat surat pernyataan bertanda tangan rektor. Hal ini merupakan sebuah langkah resmi yang baik, mengingat dengan adanya ini, menandakan Pihak kampus tersebut tanggap. Untuk para mahasiswa yang terkait juga diselesaikan secara kekeluargaan dengan baik.
b. Pernyataan dari Ketua Humas. Komunikasi lisan adalah cara yang paling efektif untuk menyelesaikan miss komunikasi. Selain membuat pernyataan tertulis, pihak kampus juga turun tangan untuk menjelaskan secara lisan melalui perantara Ketua Humas mereka.
c. Tindakan di Media Sosial kampus. Biasanya, jika ada krisis seperti ini, pihak terkait akan memilih untuk menutup akses media sosial dari masyarakat seperti melakukan private Instagram, menonaktifkan kolom komentar, dan masih banyak lagi. namun pihak kampus dalam krisis ini terlihat tidak melakukan itu, sehingga tidak terkesan menutup-nutupi dan lari dari tanggung jawab mereka.
d. Pengalihan isu yang cukup menghibur. Walaupun pengalihan isu ini tidak menjadi trend seperti masalah umumnya, namun para mahasiswa di kampus tersebut berusaha untuk tidak membuat suasana semakin panas. Kebanyakan dari mereka malah memposting hal-hal kocak dan lucu selama proses ospek berlangsung dari fakultas lain di kampus mereka selain fakultas yang mengalami krisis.


Segala sesuatu walaupun itu termasuk permasalahan karena adanya miss komunikasi, tetap cara terbaik untuk menyelesaikannya adalah dengan komunikasi pula. Baik itu lisan, tulisan, ataupun diam namun memberikan kontribusi terbaik lain demi menutup hal-hal buruk diganti dengan hal baik juga merupakan sebuah langkah komunikasi. 


Pemilihan seorang Public Relation yang baik dan berkompeten di bidangnya juga mempengaruhi citra sebuah perusahaan di mata publk karena PR lah yang menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan segala hal terkait perusahaan atau tempat dirinya bekerja ke pihak eksternal. 


Dan satu hal lagi, berhati-hatilah berkomunikasi di era virtual. Selain karena penyebarannya yang lebih dahsyat, satu hal lagi, jangan lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk berkomunikasi secara virtual dengan baik. Terutama sinyal yang sangat tricky untuk memulai aktivitas daring. Pintar-pintar memilih wifi atau provider terpercaya agar komunikasi virtual juga bisa berjalan dengan baik.  

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Anwar, C. (2015). Manajemen konflik untuk menciptakan komunikasi yang efektif (Studi kasus di Departemen Purchasing Pt. Sumi Rubber Indonesia). Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi4(2), 148-157.