Malam Yang Lucu, Komunikasi Menyelesaikan Masalah?

Terkadang, kamu bisa merasa nyaman dengan orang yang baru kamu kenal, tanpa perlu mencari alasan dan tanpa perlu mencari pembenaran apalagi pencitraan. Apa adanya saja. Namun, terkadang kenyamanan itu bisa lenyap dalam sekejab, tertutup egoisme dan apriori semu yang berkecamuk dalam kepala. Suara-suara didalam kepala maupun opini dari lingkungan cuma membuat masalah semakin kompleks dan tak menghasilkan sebuah solusi dari permasalahan yang dihadapi. Kadang, menyenderi menjadi sebuah jawaban pasti untuk menemukan solusi.

Malam Yang Lucu, Komunikasi Menyelesaikan Masalah?
Suatu Senja di Negeri Tetangga

"Begitu banyak penulis yang ceritanya lebih menarik dari ini” pikir Maura, sambil terus mengetik.

“Tapi kalo kamu ga publish tulisan ini, gimana kamu bisa tahu batasanmu, Maura?” suara Laut membantah seperti ombak memecah karang. Laut memang bukan tipe yang kenal basa-basi.

“Batasan aku ya disini, tanpa mempublikasikannya. Aku sudah tahu” timpal Langit membela Maura yang masih saja mengetik sambil sesekali menyeruput kopi yang sudah tinggal setengah itu. 

“SABAR” tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari belakang kepala Maura. Suaranya berat seperti suara Optimus Prime. 

“Semua sudah diatur” ia mengultimatum. Begitulah suara sang Arsitek yang selalu menengahi perdebatan-perdebatan yang terjadi antara suara-suara di dalam kepala Maura. 

Laut kembali tenang...ombak-ombak pikirannya perlahan tenang. Langit yang mulai bergemuruh kembali menampilkan cahaya terang. Hutan, Sungai, Muara dan beberapa yang lain cuma menonton adegan tadi dengan diam menyimak, belum waktunya mereka bersuara. Tidak ada yang berani berbicara jika Arsitek sudah menyatakan pendapatnya. Jika masih ada yang berani membantah, semua tahu akibatnya. Eliminasi karakter. Sebuah pembunuhan keji. Kata-kata tak mau menggambarkannya. 

***

Maura masih berkutat dengan pekerjaannya di sebuah Cafe dekat fly over stasiun Tebet. Kopi tinggal setengah. Jari tangannya masih menari gemulai diatas papan kunci yang mengeluarkan irama indah bagi mereka yang memperhatikan. Di ruangan itu tinggal dirinya, barista dan seorang Pemuda di ujung ruangan yang sedang membaca buku lusuh 1984 karya George Orwell. Mereka ditemani suara musik dari playlist Cafe yang memutarkan lagu ga santai seperti cafe pada umumnya. Terdengar Tom Yorke mengumandangkan Idiotic menemani sisa-sisa malam itu. Maura maupun Pemuda itu tidak terganggu oleh kode keras barista yang sudah mulai ngantuk dan ingin lekas pulang ke kosan karena terbayang tugas kuliah. Belum ada ilham yang datang pikirnya dan jam kerja pun belum usai. Walau rokok sudah habis berbatang-batang, tapi tamu - tamu 'sialan' ini belum juga pulang umpat barista dalam hati. Ya, dalam hati karena sejatinya bekerja adalah menggunakan topeng yang berbeda di muka umum.  

Maura masih mengetuk dan mengetik jarinya dan Pemuda itu pun masih membolak-balikkan lembar novelnya, sepertinya ia sampai di bagian ketika mereka sedang bercinta. Malam ini sekiranya akan sangat melelahkan untuk barista yang bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya sebab dua orang pengunjung yang masih ada disini baru akan pergi setelah ia mulai closing, jam 2 nanti.

Pemuda yang sedari tadi menunduk seakan membaca sebenarnya memperhatikan perempuan berkulit karamel di pojokan itu. Begitu serius dengan pekerjaannya hingga ia lupa merasakan segelas kopi yang ada di hadapannya, musik bising yang sepertinya sengaja diputar agar pengunjung cafe ini menjauh dan kabur. Seakan kopi itu cuma pelengkap hidup dan bukan teman seperjalanan dan musik itu sekadar angin sore yang lewat sejenak. Padahal, kopi bisa lebih setia daripada manusia. Dan angin.. Walau cuma lewat sesaat namun selalu mengisi kekosongan ruang dan waktu. Dan angin pun bisa marah jika terusik. 


Jam 01.11

Pemuda itu menyesap kopinya, menutup novel dan memasukan handphone ke saku celana seakan siap untuk  pulang. Barista yang melihat gerak-gerik itu siap-siap memakai topeng ramah dilengkapi dengan senyum tak dibuat-buat yang sengaja dibuat. Hendak menyapa pemuda itu namun urung karena pemuda itu tidak beranjak ke arah pintu keluar namun menuju meja Maura, perempuan berkulit karamel yang masih saja jarinya menari-nari diatas papan kunci menyelesaikan deadlinenya. 

“Hai” ujar pemuda itu singkat. Mencoba menarik perhatian Maura.

Karena Maura diam tak menggubris sapaan Pemuda itu, dia lanjutkan lagi dengan nada sedikit lebih keras dari sebelumnya. 

“Gue liat lu lagi masih serius gawe dan cafe ini udah mau tutup, jadi keberatan ga klo gue nawarin nganter lu pulang?” kali ini lebih mantap sehingga membuat Maura menatap tepat mata pemuda itu. Lalu perhatian Maura beralih melihat rahangnya yang kokoh dan ditutupi jenggot tipis serta tattoo geometri di tangan kiri. Keren juga. 

“Eh, gue belum beres dan gue ga biasa jalan ama orang ga dikenal” jawab Maura akhirnya. Kaget tapi tertarik, entah kenapa. Lupa sama ajaran orang tua untuk jangan bicara sama orang ga dikenal. Tapi masalahnya Maura tertarik. Ah, dasar Maura.

“Kalo gitu kenalan dulu sambil gue tunggu in ya. Boleh duduk disini?” jawab pemuda itu singkat sambil nunggu persetujuan Maura. 

“Boleh” ucap Maura singkat. Lalu pemuda itu naro pantat di kursi dihadapan Maura sambil terus menatapnya.

"nama lu siapa?" tanya si Pemuda sambil mencoba memperhatikan Maura lebih seksama. 

Maura jadi tengsin dan pura-pura ngerjain tugasnya padahal udah ga bosen dan ga konsen. Ada aura dari pemuda itu yang bikin dia jadi ga bisa mikir jernih dan akhirnya suara-suara dalam kepalanya membuat dia mengambil keputusan ini,

“Hm..oke deh, gue udah beres” ujar Maura tanpa membalas pertanyaan Pemuda itu berapa sambil membereskan laptop dan menghabiskan sisa kopi yang emang udah mau ampasnya. 

“Lho kok cepet? bener udah beres?” pemuda itu seakan ga percaya, karena dia belum ada 5 menit duduk di hadapan Maura.

“Gue Maura” sambil ngasih tangan ke pemuda itu,

“Nama yang bagus, cocok buat warna kulit karamel kamu” pemuda itu meremas pelan tangan Maura tanpa menyebut namanya.

“Kok gitu?” balas Maura penasaran, sambil mereka berjalan ke arah pintu dan membuat barista tersebut ga perlu memalsukan senyumnya ketika dua pelanggan itu ‘akhirnya’ pulang juga. 

“Maura, kalo menurut orang Perancis artinya kulit gelap. Kalo di Irlandia dan Skotlandia artinya Agung, klo ga salah gitu sih. Dan karakteristiknya biasanya suka pekerja keras, penolong, menarik, lembut dan rajin” cerocos pemuda itu seakan dia ensiklopedia berjalan dan membuat Maura ga bisa melepaskan matanya dari dia.

“Lu stalking gue ya?” itu yang terucap oleh Maura akhirnya. Sedikit takut tapi senang.

“AHAHAHHA...ga lah...gue pernah baca aja dulu. Entah kapan” jawab pemuda itu sekenanya. Sambil membukakan pintu mobil untuk Maura, lalu bergegas ke arah pintu supir. 

“Tapi kok bisa lengkap gitu taunya” Maura masih penasaran dan makin tertarik sama pemuda itu dan pada saat yang bersamaan curiga kalo dia bakal nemuin bahaya ikut sama pemuda itu. 

“Gini, gue bukan pembunuh bayaran atau sosiopat yang bakal ngancem elu. Gue cuma pengen nawarin untuk nganterin lu pulang, mungkin minum segelas. Lalu gue cabut” jelas pemuda itu seakan bisa baca pikiran Maura dan memberikan senyum manis sebelum ia memasukan kunci mobil ke kontak.

“Jadi? Kemana arahnya?” pemuda itu menatap Maura yang masih terdiam, namun tersenyum manis sekali.

***

Ruangan remang-remang itu beraroma frangipani campur opium yang tercium dari aromatherapy di pojokan, tempat Maura biasa membakar dupa. Baju mereka berserakan di seantero kamar, bahkan ada yang menutupi lampu baca di samping tempat tidur empuk tempat Maura telungkup, tanpa baju, tanpa BH, cuma CD yang sepertinya sebentar lagi pun akan robek. Ya seliar itu yang biasa kamu lakukan dan dia pun sepertinya tidak keberatan. Dia melenguh keenakan dan kamu pun melanjutkan gerilya di tubuh coklat karamel itu. Kamu fokus pada suara dan geliat tubuhnya yang seakan meminta lebih. Selama tidak ada penolakan atas apa yang kamu lakukan, maka tidak ada kata mundur. Waktu dalam remang memang seakan tidak perlu diperhatikan, cuma kepuasaan sesaat ini yang kamu inginkan. 

Komunikasi tanpa suara, rasa melebihi segalanya. 

Karena besok mungkin kamu sudah tidak di dunia ini lagi. Buat apa susah dan gelisah untuk sesuatu (mati) yang sudah pasti terjadi dan belajar menikmati saat ini. Momen seperti ini takkan terulang kembali. Tidak jika kedua belah pihak tidak menginginkannya. Dan mereka melakukannya, berulang kali.

***

Cahaya mentari pagi perlahan masuk ke dalam celah-celah ventilasi yang memang sengaja kamu buka agar udara pagi bisa membuat sel-sel otak yang tumpul bisa kembali bekerja. Pemuda yang semalam mengantarmu pulang dan bersenggama sepanjang malam masih terlelap. Kalau perutmu tidak kelaparan pun, kamu memilih untuk tetap ditempat tidur dan rebahan bersama dia. Hei, kamu sadar sesuatu, bahkan kamu tidak tahu namanya. Dari tadi malam kamu sadar tentang hal itu tapi kamu tidak sempat menanyakan karena kejadian semalam terjadi begitu cepat. Dan kamu melakukannya dalam keadaan sadar, tidak seperti biasanya yang memerlukan stimulan minuman agar mabuk terlebih dahulu. Stimulan yang kamu dapatkan semalam ialah kepintarannya yang begitu membuatmu seperti orang bodoh. It turns you on. Sungguh malam yang lucu. Dan bodoh.

Kamu membiarkan ia keluar di dalam dan tanpa pengaman. Kamu mulai memeriksa tabel period kamu dan ternyata sudah masuk masa subur kamu. 

“Sekarang tanggal 9. Berarti dua minggu lagi gue mens. Tapi ga yakin karena semalam dia keluarnya banyak banget. Enak banget. Tapi sekarang gue takut. Takut kalo diterusin gue bakal hamil dan kuliah gue akan berantakan. Takut ntar orang tua gue bakal syok dan ga nganggep gue anak. Takut klo orang-orang sekitar bakal nganggep gue ga bener walau selama ini gue emang nakal tapi ga sampai sejauh ini. Ga sampe hamil di luar nikah” Langit bersuara seperti kilat yang menyambar sebelum guruh menggelegar. 

“Lalu kenapa kamu biarkan dia mengambil alih kesadaranmu, Langit” Laut menimpali.

“Karena sudah lama tak ada yang bisa membawanya ke ‘atas sana’ …” timpal Hutan penuh tawa karena bahagia kini hutannya kembali cerah dan penuh air kehidupan yang dibawa oleh sang Pemuda. 

Semua suara-suara itu terus aja berisik dalam kepala Maura dan akhirnya dia ga tahan. Dia ke kamar mandi dan diam di bawah pancuran air. Mencoba melepas penat dan panas yang ada di kepala. 

“Air selalu membantu.” Sungai perlahan berkata lalu kembali membisu.

Tak berapa lama ia keluar dan melihat pemuda itu berdiri di jendela. Wajahnya gusar. 

“Kamu berpikir aku main-main dan tidak akan bertanggung jawab?” katanya lancar seakan tau apa yang Maura pikirkan tadi.

Ia masih menatap lurus ke arah jendela sambil menunggu respon dari Maura.

“Ia sepertinya memang bisa membaca gelagat aku atau memang benar bisa baca pikiran???” pikir Maura terpana

“Aku takut” ucap Maura akhirnya. “Kamu keluar didalam banyak banget semalam. Kenapa kamu lakuin itu?”

“Lho, biasanya juga gitu. Mau keluarin di mulut kamu atau tempat lain nanggung banget. Itu aja udah nyoba untuk narik tapi ya keburu keluar. Ga ketahan. Dan ya aku  akui itu bodoh. Aku salah dan aku minta maaf. Dan aku tahu itu sudah terlambat. Aku pikir karena kamu enak maka aku bisa dimaafkan karena kebodohanku itu” panjang lebar pemuda itu menjelaskan, terdengar setengah cuek.

Maura mendengarkan dengan seksama tanpa berkedip tapi di dalam ia hancur dan merasa panas. Ia butuh ke bawah pancuran air lagi. ”Tapi ga bisa sekadar maaf doang dong. Aku mau kamu tanggung jawab kalau terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Sekarang aku mau minum pil pencegah hamil. Kamu yang beliin.” Akhirnya Maura memutuskan semuanya. 

Ia tahu pemuda itu punya hak untuk bicara tapi ia tak peduli. Ia egois karena ia tahu tubuhnya yang akan menghadapi semua masalah ini. Dan ia pikir, Pemuda itu pun egois karena mau enak sendiri. 

Pemuda itu berpakaian,. Singkat saja ia sudah dibalik kemudi, mencari yang Maura minta. Sebelum menekan pedal gas, ia pilih Poison - Every Rose has its thorn. Setiap perempuan cantik mempunyai duri tajam pada dirinya.

***
 

Setelah medikasi yang dibeli, Maura pun menjaga jarak. Ia tahu semua yang ia minta bisa terpenuhi namun ia memang ingin lebih dekat dengan dirinya sendiri saat ini. Tak ada yang bisa memaksanya. Bahkan, jika ia harus menerima siksaan fisik, lebih baik daripada siksaan mental seperti yang sekarang terjadi. Hatinya sudah terisi oleh benih kebencian akan hal yang sebenarnya belum terjadi. 

“Kamu sebaiknya pulang, deh. Aku mau sendiri” ujar Maura kepada pemuda.

"Ya, kamu memang takkan sanggup berpikir jernih jika ada 'orang lain' dalam ruangan ini" hardik Hutan sekonyong-konyong.

"Hei, tidak adil jika Maura yang menanggung semuanya sendiri tanpa ada pertanggungjawaban dari Pemuda itu" bela Langit menghardik Hutan

Laut pun tak diam dan akhirnya mengatakan,

"Komunikasi antara keduanya masih belum terbentuk dengan baik. Ketertarikan antara mereka memang ada dan kuat namun belum saatnya mereka bersama" lanjut Laut dengan bijak

Maura pun terdiam menatap Pemuda itu pergi dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

Pemuda itu tidak lagi mendengar kabar dari Maura, sudah sebulan ia diam dan menunggu. Sebentar lagi padahal ulang tahunnya. Kado yang aku siapkan mungkin sia-sia. Ah, Maura, kenapa kamu begitu keras kepala? Kenapa kamu tak biarkan aku masuk dalam lingkaran kamu? Kenapa dan kenapa, banyak pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab selama tidak ada komunikasi diantara kalian berdua.

Dan kini setiap senja, Pemuda itu akan pergi ke pojokan cafe tempat ia bertemu dengan Maura, sekadar untuk berkomunikasi dengan diri sendiri karena tidak ada Maura yang bisa diajak bicara. 

"Ah, andai saja ia disini" ujar Es kepada Angin yang menemani Pemuda itu minum kopi. Sendiri. Seandainya ia bisa berkomunikasi dengan pikiran Maura, tentunya ia bahagia.