MAAF, DOKTER BUKAN PILIHAN TERBAIKKU!

Ingin rasanya kukirim bogem mentah ini untuk membuat rahangnya terkatup. Tapi apa daya, meja di depanku begitu lebar. Mungkin meja besar ini memang sengaja mereka buat untuk menghindari terjangan orang-orang sepertiku.

MAAF, DOKTER BUKAN PILIHAN TERBAIKKU!


Seringkali Tuhan memberikan rezeki dengan caranya yang khas. Cara yang tidak biasa. Cara yang tidak kasat mata. Semua seolah tiba-tiba, padahal itu sudah jadi bagian rencana-Nya.

Hari itu, lewat 2 tahun usia Kanino, putra sulungku. Sudah pula di-'sapih' dari ASI ibunya. Saat yang tepat untuk mulai melakoni karir kulinernya, setelah lepas dari asupan terbaik di muka bumi.

Punya sepasang anak, laki-laki dan perempuan itu mimpiku dari kecil. Mimpi yang harus diwujudkan. Laki-laki pertama dan adik perempuan, persis sepertiku.
Sementara Dani, istriku, tetap keukeuh ingin 3 anak.

Alasannya sih klise, biar ramai. Tidak sendirian sepertinya, yang telah ditinggal pergi sang adik sejak 2005. Akibat kecelakaan motor tragis yang pasti sangat membekas baginya.

"Baik, kita usaha dulu, kalau yang kedua perempuan, kita stop ya. Tapi kalau dapatnya laki lagi, berarti kita masih punya 1 kesempatan", jawabku pagi itu. Setelah beberapa malam terakhir kami selalu berdebat masalah jumlah.

Buatku sih mau berapapun sebenarnya bukan masalah. Tapi melihat perjuangan perempuan saat lahiran normal itu sebenarnya bukanlah hal asyik yang seru untuk dikenang. Sementara Dani adalah tipe perempuan tangguh yang begitu mendewakan konsep lahiran normal. Luar biasa sih, menurutku.

Sebulan sebelum memasuki akhir Ramadhan 2019. Dengan seabrek pekerjaan dan persiapan mudik lebaran, kami hampir melupakan segala rencana serius seputar anak. Sampai akhirnya pembicaraan itu kembali berlanjut.

Pagi itu, saat mudik ke Surabaya, entah kenapa Dani tiba-tiba tergiur oleh cerita tentang kehamilan kembar sahabatnya. Seolah itu adalah anugerah luar biasa padahal menurutku bisa saja itu hanya sekedar hadiah biasa. Door prize tapi dari atas.

Dengan santun dia berkali-kali memohon kepadaku, dengan alasan mencoba peruntungan. Yah setidaknya konsultasi dulu lah. Begitu terus yang dijejalkan wanita ini di benakku.

Risih, akupun akhirnya mengiyakan. Biarlah yang penting dia senang. Namanya juga ikhtiar.

Hari itu hari Jumat, tepat 10 hari setelah Lebaran. Kami tiba di tempat yang telah disepakati. Bertiga bersama anak sulungku. Tampak berdiri bangunan megah nan terawat di hadapanku. Sebuah rumah sakit berkelas internasional yang cukup mewah di Barat Surabaya.

Ternyata tempat yang dimaksud memang berada dalam gedung rumah sakit itu, tapi mungkin beda manajemen. Karena kesan terpisahnya begitu kental. Eksklusif.

Dengan desainnya yang serba mewah membuat ruangan ini terlihat begitu mahal. Sadar, mataku pun menyapu seluruh ruangan. Tapi tak ada satupun yang mencurigakan. Sampai akhirnya mataku terpaku pada 2 bilik setengah terbuka yang berada tepat di samping kanan meja resepsionis.

Tampak beberapa peralatan bagus di dalam kubikel itu, canggih sepertinya. Kata kubikel sengaja kupilih untuk menghindari kesan mesum kata bilik saat kalian membaca cerita ini.

Aku mencoba mengalihkan pandang ke sudut lain. Oh iya, jika kalian bertanya-tanya kemana istri dan anakku. Nih, mereka berdua berada lima centimeter di depan hidungku. Aromanya aja masih tercium. Hanya saja mereka duduk, aku berdiri.

Tanpa menunggu lebih lama, kamipun diantar ke sebuah ruang praktek dokter yang ada di sudut kiri ruang besar itu. Dua orang suster mempersilahkan kami masuk. Yang satu berwajah judes khas perawat senior, satu lagi tampak masih gadis kinyis-kinyis.

Kulihat seorang dokter laki-laki perlente dengan rambut keperakan. Bajunya rapi dikombinasi dasi satin indah dengan warna senada. Tampaknya cukup sukses.

Seperti biasa, dokter selalu menanyakan tentang segala keluhan pasien-pasiennya dengan sabar. Istriku pun dengan lugas menyampaikan tujuannya. Second opinion, sekaligus program kembar normal, jika ada.

Sang dokter sejenak terdiam, sambil tersenyum hangat diapun mulai menerangkan satu persatu perihal proses kehamilan. Dibalut dengan bahasa medis membosankan yang mungkin menurutnya menawan.

Data-data medis terpapar dengan rincian prosentase rumit yang tak satupun bisa kupahami.

Kulihat sang dokter perlente itu tampak fokus menatap Dani lekat-lekat tanpa sedikitpun memandangku. Ah sudahlah, mungkin itu caranya meyakinkan target.

Diskusi itu terus saja berlanjut hingga perlahan aku mulai mencium aroma ketidakwarasan di dalam ruangan ini. Doktrin dan anjurannya satu demi satu keluar, tapi kenapa terasa negatif di telingaku.

Argumentasinya terkesan menyalahkan dokter-dokter obgyn lain yang suka menggunakan tanggal dan masa subur pasien sebagai proyek program hamilnya. Juga sebuah jurnal tentang kecilnya kemungkinan hamil secara normal dalam situasi modern seperti sekarang ini akibat kacaunya hormon dan tingginya tingkat stres. Entahlah, itu asli atau hanya rekayasa.

"Brengsek!!!", gumamku pelan.

Begitu ringan rahang itu terbuka. Terus saja dia menjejalkan doktrin jika proses kehamilan normal itu nilai keberhasilannya tak lebih dari 3% ke benak istriku tanpa sedikitpun pernah memandangku. Ingin rasanya kukirim bogem mentah ini untuk membuat rahangnya terkatup. Tapi apa daya meja di depanku begitu lebar. Mungkin meja besar ini memang sengaja mereka buat untuk menghindari terjangan orang-orang sepertiku.

Arah pembicaraannya semakin lama semakin jelas. Akupun mulai menyadari dari mana baju dan dasi bagus itu dia dapatkan. Menjejalkan program bayi tabung ke dalam benak para wanita putus asa, jelas bukanlah satu hal yang fair.

Di depan istriku yang jelas-jelas sudah punya anak dari proses normal saja, dia terus menjejalkan doktrin tentang kecilnya kemungkinan kehamilan normal tanpa bantuan. Apalagi di depan pasien-pasien yang datang dengan putus asa. Mereka jelas akan rela keluar uang puluhan bahkan ratusan juta demi bahagia. Apalagi dengan memasukkan data yang menyatakan jika kehamilan normal itu prosentasenya hanya 3%. Shit!

Akupun beranjak berdiri, pergi?

Tidak, hanya ingin mengejar anakku yang tampaknya mulai bosan.

Sedetik kemudian, Dani ikut berdiri sambil tak lupa menjabat tangan sang dokter. Dia memang ahlinya dalam hal ini. Entah karena sejawat atau memang sedang malas berdebat.

"Ok dok, 3 hari lagi saya balik kesini ya, terimakasih atas infonya", kalimat Dani berhasil menutup pertemuan pertama dan terakhir kami saat itu. Sebelum kami kembali ke Jakarta keesokan harinya.

Sepanjang perjalanan pulang kami terus saja berdiskusi tentang si dokter. Dani hanya tersenyum setiap kali nada suaraku mulai meninggi. Kusampaikan segala hal yang sibuk berlarian di dalam benakku dan diapun mengangguk setuju.

Pagi itu, dua hari setelah kami sampai kembali di Jakarta, Dani menunjukkan testpack bergaris dua di tangan kanannya. "Alhamdulilaah!", seruku girang bukan kepalang, spontan kupeluk tubuh langsingnya. Segera kutelpon RSIA KMC untuk mencari tahu jadwal dr. Achmad Mediana, spesialis Obgyn kami, yang terdekat.

Beliaupun menyatakan jika wanitaku ini positif hamil. "Kanino, adiknya cewek apa cowok?", tanya dr. Achmad pada si sulung yang pagi itu ikut bersama kami.

"Cewek cowok!", jawabnya tegas. Kami bertiga pun spontan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban bocah 2,5 tahun itu.

14 Februari 2020 tepat 9 bulan setelahnya. Allah benar-benar menghadiahi kami 2 orang bayi perempuan cantik yang kami dapatkan melalui proses alami tanpa harus bayi tabung-bayi tabungan segala.

Kedua bayi mungil kami juga dinobatkan sebagai bayi kembar pertama yang dilahirkan melalui persalinan normal sejak rumah sakit itu berdiri. Sekali lagi istriku membuktikan kalo dia memang jagonya lahiran normal.

"Kanino adiknya cewek-cowok atau cewek-cewek?", tanya dr Achmad keesokan harinya.

"Cewek-cewek!", sungut bocah tampan itu kesal setelah tahu tebakannya salah selama ini.