Lumpang-Alu Besi Penuh Petuah

Menumbuk bahan makanan menggunakan lumpang-alu besi dulu sering aku lakukan di masa kecilku. Kenangan itu muncul kembali saat aku harus menumbuk tanah media tanam. Begitu banyak petuah orang tua yang disampaikan saat kami berkumpul mempersiapkan bahan makanan. Aku sungguh bersyukur memperoleh pengalaman masa kecilku itu.

Lumpang-Alu Besi Penuh Petuah
Lumpang-Alu Besi

Seperti biasanya, setelah salat subuh aku mengunjungi tanaman-tanaman di belakang rumahku yang super luas, ukuran 3 X 3 meter persegi laugh. Sejak work-from-home aku memang punya hobi baru, yaitu bercocok tanam.

Hari ini aku harus memindahkan hasil semaian benih timunku yang akan segera siap tanam. Aku ingat aku belum menyiapkan media tanamnya. Sekam bakar dan pupuk kandang memang selalu ada untuk stok. Namun, tanahnya masih harus disiapkan karena bentuknya masih bongkahan. (Maklum, baru ambil dari lahan kosong di depan rumah). Jadi, tadi pagi aku memasukkan tanah bongkahan sedikit demi sedikit ke dalam ember semen dan mulai menumbuknya. Tujuannya agar hancur dan dapat dicampur dengan media tanam yang lain. 

"Duk duk...duk duk...duk duk!!!" tanah di tengah ember mulai hancur dan kian menipis. Kemudian, yang di pinggir-pinggir menjadi terdesak meninggi, lalu luruh ke tengah. Bagian tengah menjadi penuh lagi dan aku tumbuk lagi sampai hancur dan menipis. Begitu seterusnya...

Tiba-tiba muncul bayangan dalam ingatanku. Suara "duk-duk duk-duk" dan putaran tanah yang kutumbuk dalam ember itu membawaku kembali ke sekitar 50 tahun yang lalu. Bayangan lumpang-alu besi! blush

Aku dulu sering membantu Ibu menumbuk sesuatu menggunakan lumpang-alu besi. Zaman itu rasanya sering sekali kami harus menumbuk sesuatu. Beras, kacang tanah, kacang kedele, bahkan singkong atau ubi rebus untuk dilembutkan dan kemudian dibuat makanan kecil. Saat ini orang sudah tidak lagi menggunakan alat-alat tradisional seperti itu. Lebih praktis menggunakan blender. 

Lumpang-alu besi itu seingatku bukan main beratnya. Mungkin karena saat itu aku masih berumur sekitar 7-8 tahun. Namun, tugas menumbuk menggunakan lumpang besi itu terasa mengasyikkan. Ada irama yang menenangkan, ada gerak putaran bahan yang ditumbuk, sesekali ada bunyi dentingan saat alu menyentuh tepi lumpang, dan ada aroma khas dari beras, kacang, atau bahan lain yang ditumbuk.

Tiba-tiba aku merindukan saat-saat itu. Saat di mana kami bersama-sama menyiapkan semua bahan untuk keperluan masak. Bahan-bahan yang ditumbuk belum tentu akan digunakan segera. Sebagian disimpan dalam wadah tertutup semacam toples, sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan. Menumbuk, memetik dedaunan, memilah kacang-kacangan, dulu sering kami lakukan sambil mengobrol. 

Biasanya kami duduk bersila di tikar, melingkar, mengerjakan semuanya sambil bersenda gurau. Kadang-kadang ada bude, tante, saudara sepupu, atau teman main, tetangga yang sedang berkunjung ke rumah. Mereka ikut dalam lingkaran itu. Juga pembantu rumah tangga kami. Aku ingat suasana berada di antara mereka. Ada rasa nyaman, hangat, akrab, dan juga ada rasa aman. Sulit untuk diungkapkan.

Banyak hal aku pelajari saat berkumpul mempersiapkan bahan masakan seperti itu. Lagu baru, baik dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, cerita dan dongeng rakyat, petuah dan nasihat, dan nilai-nilai dalam keluarga. Dulu aku hanya mendengarkan dan menangkapnya sebagai percakapan ringan penuh seloroh. Namun, kini aku merasakan manfaatnya.

Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat beberapa petuah atau nasihat yang sering disampaikan oleh orang-orang tua saat itu. Banyak yang sifatnya mitos, tetapi sesungguhnya memiliki makna atau manfaat terselubung. Beberapa yang kuingat yaitu:

  • Ojo dhemen mangan neng lawang, mundhak angel jodhone (Jangan makan di pintu, karena akan sulit dapat jodoh).

Makna sesungguhnya: Jangan menghalangi jalan karena dapat mengganggu orang yang perlu lalu-lalang melewati pintu. Ini mengajarkan kita tentang nilai peduli kepada orang lain.

  • Ojo tangi kawanen mundhak rejekine dithothol pitik (Jangan bangun kesiangan nanti rejekinya dipatuk ayam).

Makna sesungguhnya: Kebiasaan bangun pagi adalah kebiasaan yang baik karena banyak hal akan terselesaikan. Ini berhubungan dengan nilai kedisiplinan diri.

  • Yen mangan kudu dientekke mundhak pitike padha mati (Kalau makan harus dihabiskan agar ayamnya tidak pada mati).

Makna sesungguhnya: Jangan menyia-nyiakan makanan. Kita perlu empati pada banyak orang lain yang situasinya masih serba kekurangan.

  • Yen nyapu sing resik mundhak bojone jebresen (Kalau menyapu yang bersih agar kelak suaminya tidak brewokan (wajahnya dipenuhi rambut)).

Makna sesungguhnya: Kita harus melakukan pekerjaan dengan baik dan tuntas. Ini mengajarkan nilai tanggungjawab atas tugas yang diberikan.

  • Ojo nglungguhi bantal mundhak wudunen (Jangan duduk diatas bantal nanti bisa bisulan).

Makna sesungguhnya: Karena bantal merupakan tempat untuk kepala, maka tidaklah sopan jika digunakan untuk pantat (diduduki). Jadi ini berhubungan dengan nilai kesopanan.

  • Yen wektu maghrib ojo dolan mundhak digondhol wewe gombel (Waktu maghrib jangan bermain keluar rumah nanti diculik hantu).

Makna sesungguhnya: Maghrib seharusnya digunakan untuk salat dan mengaji (bagi Muslim), belajar, atau paling tidak istirahat setelah seharian beraktivitas. Jadi larangan ini berhubungan dengan nilai kedisiplinan.

 

Ahhh… masa kecil yang penuh kenangan. Kenangan indah penuh nilai dan unsur pendidikan, yang disampaikan sambil menumbuk menggunakan lumpang-alu besi.

Aku melanjutkan urusan menumbuk tanah untuk media tanam tanamanku. Nilai-nilai tersebut tetap ada dalam diriku dan tentu saja aku teruskan kepada anak-anakku dengan cara lain. Tidak dengan mennggunakan lumpang-alu besi.