Lukisan kenangan

Tugas penulisan kreatif TMM. Brand Story telling-Galih Sugiarto-201824012

Lukisan kenangan
karya lukisanku

  Sejak kecil aku sangat gemar melukis. aku diajarkan melukis oleh kakekku yang telah tiada. aku selalu melukis kapun pun dan dimana pun aku berada, di rumah,  di sekolah, bahkan di halte busway sekali pun. saat ini, ketika aku beranjak dewasa, aku memutuskan untuk menjadi seorang pelukis. aku sudah memantapkan tekadku. aku bergabung dengan komunitas seni, mengikuti pameran dan terus berkarya.

  Namun cita-citaku tidak didukung oleh ayahku. baginya melukis hanya buang-buang waktu, penghasilan dari melukis pun tidak jelas, di mata ayahku tidak ada masa depan jika aku terus melukis.

  Sampai suatu hari ayahku marah besar kepadaku, Ia ingin aku berhenti menjadi pelukis. aku pun tidak menggubris omelannya, kami tidak saling bicara hingga beberapa hari. aku yang tengah dirundung galau bermaksud mengunjungi makam kakekku untuk sekadar mendoakannya dan menceritakan masalahku dengan ayahku.

  Namun ketika aku sampai di depan gerbang pemakaman, aku melihat ayahku sudah ada di makam kakekku lebih dulu. dengan hati yang masih jengkel aku seakan terpaksa menghampiri ayahku di pelataran makam kakek. Ayahku pun sontak terkaget dengan kehadiranku. saat itu aku masih tidak berani menatap langsung matanya dan bahkan aku tidak berbasa-basi sedikitpun kepada ayah. tiba-tiba ayahku bercerita tentang masa lalunya bersama kakekku.

  Dulu kakekku juga seorang pelukis. penghasilannya yang tidak jelas membuat keluarganya hidup pas-pasan. tetapi dibalik kesederhanaan itu kakekku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kebutuhan anak-anaknya dari sandang dan pangannya hingga pendidikannya. kakekku adalah sosok yang bisa diandalkan oleh keluarga walaupun tidak bisa memenuhi keinginan sekunder ayahku, karena itu ayahku sangat merindukannya. aku hanya terdiam mendengar cerita ayahku. dan setelah itu ayahku pergi lebih dulu meninggalkan aku sendiri di pemakaman.

  Selanjutnya kami masih saling tidak bicara satu sama lain. seperti keseharianku biasanya, aku selalu banyak menghabiskan waktuku di studio lukis. setelah mendengar cerita ayahku, aku memperhatikan lukisan karya kakekku yang masih awet, kemudian diam-diam aku melukis wajah kakekku di kanvas yang besar menggunakan cat minak rembrandt, cat rembrandt sejak dulu juga sudah menjadi andalan kakekku. aku mengerjakannya dengan sangat hati-hati dan menuangkan kemampuan terbaikku untuk lukisan istimewa ini.

  Akhirnya lukisan wajah kakekku selesai, hari itu juga aku menunjukannya kepada ayahku. sejenak ayahku pun tidak berkata apa-apa, sampai tiba-tiba matanya berkaca-kaca. begitu ia sangat merindukan ayahnya. ia pun mengucapkan terima kasih kepadaku dengan suara yang lemah. aku pun mulai terbawa suasana haru di ruang tamu kami. aku hanya bisa meminta maaf kepada ayahku, jika selama ini tidak mendengarkan nasihatnya, hanya lukisan wajah kakekku yang saat ini bisa kuberikan sebagai penawar rasa rindu aku dan ayahku kepada kakek. dan saat itu pula aku meyakinkan ayahku, dengan keahlianku, dan dengan menggunakan bahan terbaik dari cat rembrandt aku yakin aku bisa menjadi pelukis yang melebihi kakekku. aku akan bekerja lebih keras untuk membanggakan orang tuaku dengan keahlian dan cat rembrandt yang diwariskan oleh kakekku.