Leo Tolstoy dan Tahayul Negara

Melihat perang dan kekerasan yang tak berkesudahan di zamannya, seorang sastrawan cum filsuf asal Rusia, Leo Tolstoy, mengusulkan sebuah gagasan esktrem mengenai negara. Baginya, negara adalah sumber kemelaratan umat manusia. Hanya satu cara mengatasinya: hapuskan negara.

Leo Tolstoy dan Tahayul Negara
https://www.istockphoto.com/photo/leo-tolstoy-gm124592045-17558081?utm_source=pixabay&utm_medium=affiliate&utm_campaign=SRP_image_noresults&referrer_url=https

Dalam sejarah dunia, Imperium Britania tercatat sebagai kerajaan terluas yang pernah ada di muka bumi. Tahun 1922, imperium yang hingga kini masih langgeng itu pernah menguasai 33,7 juta kilometer persegi luas wilayah di dunia, seperempat luas total planet bumi.

 

Kala itu, seperlima populasi dunia, sekitar 458 juta jiwa, berada di bawah kuasa leluhur Ratu Elizabeth II, Raja George Frederick Ernest Albert atau sohor dengan nama George V.

 

Di urutan kedua dan ketiga, bertengger Kekaisaran Mongolia dan Kekaisaran Rusia. Jejak kekuasaan Rusia hingga kini masih dapat dilihat jelas. Di era moderen kini, Rusia masih berjuluk negara terluas di dunia dengan 17,12 juta kilometer persegi luas wilayah, membentang dari timur Eropa sampai Asia bagian timur.

 

Melalui perang, monarki-monarki itu memperluas wilayahnya, menguasai seluruh dunia demi terciptanya negara-dunia.

 

Melihat realitas yang telah dan sedang terjadi di zamannya, seorang sastawan yang juga dikenal sebagi filsuf moral asal Rusia, Leo Nikolayevich Tolstoy (1828-1910) mengusulkan sebuah gagasan ekstrem mengenai negara.

 

Ia mengatakan dalam esainya “Negara” (1905) bahwa gagasan menciptakan monarki universal yang memerintah seluruh dunia telah ada sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno.

 

Mereka berdalih, tercapainya suatu monarki atau negara dunia akan meminimalisir perang sebab seluruh dunia berada di bawah satu kuasa. Hal itu menjadi salah satu pendorong para penakluk dan penjajah menjelajahi dunia dan berusaha menguasainya.

 

Pasca Renainsanse, bangsa-bangsa di Asia dan Afrika jadi mainan monarki-monarki Eropa. Mereka yang kala itu baru bangkit dari Abad Kegelapan menggebu-gebu menjelajahi dunia. Meski memperkenalkan diri sebagai pedagang dan pejelajah, pada akhirnya mereka menjelma penjajah juga, persis seperti yang terjadi di Nusantara.

 

Selain menjelajah dan menjajah ke sana kemari, negara-negara itu juga sibuk berperang satu sama lain. Mereka berebut pengaruh, kekuasaan, sumber daya, dan gengsi. Yang jadi korban adalah bangsa-bangsa terjajah. Perang adalah keseharian yang akrab bagi sebagian besar penduduk dunia, setidaknya sampai berakhir Perang Dunia II (dengan beberapa pengecualian).

 

Meski negara berdalih bahwa kelahirannya dan keberadaannya demi keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan segenap rakyat, namun nyatanya, menurut sastawan penulis novel Anna Karenina ini, kehadiran negara justru membawa dampak sebaliknya.

 

Rakyat ditindas, diperas uang dan tenaganya, seraya dituntut patuh. Sementara, segelintir orang yang menyebut diri mereka pemerintah, menurut Tolstoy, memanfaatkan hal itu semua untuk diri sendiri. Demi itu semua, negara menciptakan tentara, yang siap melakukan apa pun demi negara, kekerasan dan pembunuhan sekali pun.

 

Dalih bahwa menciptakan negara universal melalui ekspansi dan penaklukan demi terciptanya perdamaian, sebagaimana yang dilakukan Aleksander The Great dari Makedonia, Napoleon dari Prancis, Kekaisaran Romawi, dan negara-negara lainnya, “tak pernah mencapai tujuan perdamaian tersebut.”

 

“Oleh karena itu,” tulis Tolstoy, “perdamaian manusia tidak mungkin bisa diraih selain dengan cara berlawanan: peniadaan negara beserta kekuasaan koersifnya.”

 

Bagi sebagian orang, peniadaan negara ini terdengar sesuatu yang tidak mungkin. Sejak ribuan tahun silam, keberadaan negara dianggap realitas yang taken for granted. Telah dan harus ada.

 

Tolstoy berpendapat, sebagian orang menganggap bahwa “tanpa kekuasaan pemerintah, orang-orang terjahat akan berjaya, sementara orang-orang baik akan tertindas.” Mereka tidak sadar bahwa justru “orang-orang terjahat” itu adalah pemerintah.

 

Hanya orang-orang terjahatlah yang mampu mendatangkan malapetaka bagi umat manusia semacam “akumlasi kekayaan besar-besaran di tangan segelintir orang” sementara terjadi “kemiskinan akut dalam mayoritas masyarakat”, “perebutan tanah oleh mereka yang tidak ikut bekerja, persenjataan dan perang yang tak ada habisnya, dan perampasan hak manusia.”

 

Bagi Tolstoy, negara adalah tahayul yang esensinya adalah “bahwa manusia dari berbagai tempat, kebiasaan, dan kepentingan diyakinkan bahwa mereka membentuk kesatuan karena kekerasan yang satu dan sama diterapkan kepada mereka.”

 

Saking kuatnya tahayul itu, orang-orang, yang bahkan adalah objek kekerasan negara, tidak dapat membayangkan hidup tanpa kekerasan tersebut. Secara bersama-sama mereka telah menjadi masokis.

 

Tolstoy meyakinkan pembacanya bahwa tahayul itu dapat dipatahkan dengan cara berhenti mempercayainya. Manusia dapat hidup lebih baik tanpa adanya pemerintah dan negara. Anggapan bahwa pengelola negara lebih baik dari rakyat adalah salah dan kontradiktif dengan kenyataannya. Sebaliknya, mereka tidak lebih baik dari kebanyak orang.

 

Dengan sinis, ia menyebut nama Ivan IV (Tsar Rusia), Henry VIII (Raja Inggris), Jean-Paul Marat (tokoh Revolusi Prancis), Napoleon (Kaisar Prancis), Arakcheyef (pemimpin militer Kekaisaran Rusia), Metternich (Kanselir Austria), Talleyrand (Perdana Menteri Prancis), dan Nicholas (Kaisar Rusia) sebagai contoh orang-orang yang lebih buruk dari orang kebanyakan.

 

Menurutnya, rasionalitas manusia adalah bekal utama untuk menata hidup yang lebih baik. Sebagai mahluk rasional, manusia dapat menyelesaikan segala persoalan tanpa kekerasan. Dan tanpa kekerasan, sebagaian besar melapataka umat manusia sirna bersamanya.

 

Ia meyakini bahwa rasionalitas, “sesuatu dari masa lalu mereka sendiri”, dan pondasi spiritual yang kokoh akan memberi bentuk kehidupan yang lebih pantas bagi umat manusia.

 

Mempertahankan dan mengelola negara dengan kekerasan, menurut Tolstoy, “bertentangan dengan rasio alami dan hukum kebebasan sebagaimana diungkapkan Yesus,…”

 

Melalui tulisannya yang lain, ia dikenal sebagai “pengkotbah” ajaran-ajaran Yesus Kristus, khususnya yang berkaitan dengan persaudaraan umat manusia dan anti-kekerasan (meski pada akhirnya dikucilkan Gereja Ortodoks).

 

Doktrin “berikan pipimu yang lain juga” yang bersumber dari “Kotbah di Bukit” (Injil Matius pasal 5-7) mengilhaminya menyusun gagasan-gagasan penghapusan negara tanpa kekerasan.